Mohon Maaf Kepada Seluruh Pembaca, Karena Kesibukan Admin Blog Ini Jadi Jarang Update. Insyaallah Kedepannya Akan Lebih Sering Update Demi Kelangsungan Dakwah.
________________
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2011

Episode Seorang Hamba

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Saudaraku yang budiman, sungguh saat ini ada sebuah rasa yang menyesak di dada...
Menghantarkan jari-jari ini segera menggelitik keyboard laptop untuk menuangkan segala pikiran ini...
Sungguh inginnya, sampai saya tak lagi merasakan kantuk padahal saat menulis artikel ini saya belum lagi tidur seharian...

Saudaraku, beberapa bulan terakhir dalam rantauku di Yogyakarta, kudapati sekian ilmu yang amat bermakna...
Ilmu tentang kehidupan, tapi ini lebih dari sekedar itu...

Mungkin anda perlu tahu latar belakang saya...
Ya, saya adalah seorang yang punya hobi mendekatkan diri pada Allah SWT, sang Rabb tunggal semesta alam.
Bahkan demi supaya bisa dekat dengan-Nya, saya memutuskan untuk mengabdikan diri ini hanya untuk-Nya...
Beribadah kepada-Nya, berjuang pula di jalan-Nya...

Dan ternyata sepertinya cinta ini tak bertepuk sebelah tangan...
Allah membalasnya dengan memberikan gift berupa hidayah, dan mengenalkan saya pada jalan panjang bernama dakwah...

Terus saya geluti dunia ketauhidan...
Semakin lama, semakin dalam menyelam...
Hingga kini sepertinya saya menjadi kecanduan, dan tak bisa lepas dari jalan itu...
Walaupun banyak peluang untuk berhenti, tapi alhamdulillah saya masih bertahan, dan insyaallah akan terus bertahan...

Berjuang di dakwah benar-benar membentuk kepribadian saya...
Saya menjadi amat cinta dengan masjid, Qur'an, dan yang paling spesial adalah Allah menghadiahkan saudara-saudara terindah dalam hidup saya yang menemani hingga ujung jalan nanti (insyaallah).

Saya begitu gandrungnya dengan tarbiyah, saya begitu idealisnya memegang syariah, dan saya begitu eratnya menggenggam ukhuwah... Inilah dakwah, yang membentuk saya menjadi manusia yang berpasrah hanya kepada Allah yang Maha pemurah...

Namun ternyata tak cukup sampai di situ Allah memberi saya hadiah...
Ia lalu menggariskan bahwa saya harus merantau jauh dari sebuah kota bernama Pekanbaru, tempat awal saya berjuang, menuju kota Yogyakarta, tempat saya harus menimba ilmu di bangku perkuliahan...

Di sini (Yogyakarta) pun lantas saya tak juga bisa meninggalkan hobi yang satu itu...
Saya terus mencari dan mencari dimana saya bisa meneruskan dakwah saya...
Dan alhamdulillah sampai saya mengetik artikel inipun saya masih berusaha terus istiqomah...

Namun ternyata ada sesuatu yang berbeda...
Di Yogyakarta atau yang biasa disebut Jogja ini, Allah memperlihatkan saya pada banyak hal yang amat memberi saya pelajaran tentang dakwah...

Dalam pencarian saya akan hidayah di Jogja, saya menemukan banyak hal baru yang belum pernah saya temui sebelumnya...
Dan anehnya, hal-hal itu semakin menambah kekuatan saya untuk terus berada dalam ketaatan kepada Allah meski saya jauh dari pembinaan awal...

Ya, jika di Pekanbaru dulu saya hanya belajar banyak teori tentang dakwah, bergaul hanya dengan orang-orang yang sudah tersentuh hidayah, dan tantangan yang dihadapi pun masih tergolong mudah hanya menghadapi guru atau warga yang suka marah-marah karena kekurang pahaman mereka terhadap dakwah... Maka disini jauh lebih kompleks daripada itu...

Demi Allah, pengalaman saya di kota Jogja ini benar-benar mengantarkan saya kepada syukur yang teramat atas kehidupan yang pernah saya alami sebelumnya...

Disana (Pekanbaru), saya tinggal bersama kedua orang tua, semua fasilitas terpenuhi, kasih sayang terpenuhi, hidup enak dan dimanja. Sedangkan ketika saya disini (Jogja), saya hidup sendiri, berjuang mengatasi segala masalah sendiri, tak ada kelengkapan fasilitas dan harus pintar-pintar mengatur kehidupan.

Disana, saya bersama dengan orang-orang sholeh yang tulus berjuang di jalan Allah, mereka semua saling mendukung dan berukhuwah. Sedangkan disini, saya merasa sulit mencari orang-orang dengan kaliber ketulusan dakwah seperti mereka, adapun hanya beberapa.

Disana, saya punya adik-adik binaan yang tak hanya sekedar hubungan mentor dan mentee, tapi sudah seperti saudara kandung, bahkan lebih dekat dari itu. Disini, saya tak menemukan adik sedekat dan sebaik mereka. Saya memang membina generasi penerus, tapi hubungannya tak lebih dari guru dan murid, dibatasi kepentingan transfer ilmu, tak lebih dari itu.

Namun, dengan kondisi disana yang amat nyaman dan kondusif, saya masih berdakwah malas-malasan, masih berjuang enggan-engganan, masih beramal karena-karenaan.
Tapi disini, saya melihat banyak ikhwah yang kondisinya lebih memprihatinkan, namun perjuangan mereka jauh lebih dahsyat. Mereka rela tak makan demi bisa mengurusi dakwah ini, mereka rela tak tidur demi menegakkan agama ini.
Allahuakbar, betapa malunya saya melihat kenyataan ini...

Saya bertanya-tanya, sebenarnya kenapa bisa mereka seperti itu?

Lalu saya pun bertualang mencari jawabannya...

Saya kembali menganalisa, apa itu dakwah?
Mengajak, iya benar. Mengajak kepada apa?
Mengajak untuk berbuat baik dan mengajak untuk menjauhi keburukan, yap betul. Tapi mengajak siapa?
Nah, siapa nya ini lah yang menjadi sebuah dilema.

Risalah Islam dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. Sebagaimana firman Allah SWT :
"Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya' : 107)

Artinya, Rasul diutus untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, Rasul diutus untuk apa? Tentu untuk menyampaikan risalah Islam. Nah, berarti risalah Islam itu sendiri adalah rahmat bagi seluruh alam.

Apa maksud rahmat bagi sekalian alam?
Tentu adalah Islam sebagai agama hadir di muka bumi untuk membawa sebuah kedamaian, kasih sayang, dan kesejahteraan bagi seluruh elemen alam termasuk manusia.

Mau bukti?
Perhatikan saja Al-Qur'an, sebuah pedoman hidup yang amat shahih.
Jikalau ia diamalkan, tak hanya membawa kebaikan untuk insan pengamalnya saja, namun juga untuk lingkungan si pengamal.
Contoh bagaimana didalam Qur'an diatur hukum haramnya riba, ada pula hukum pernikahan, ada lagi hukum ketata negaraan, dan banyak lagi. Yang jika semua itu kita laksanakan, tentu akan melahirkan sebuah keseimbangan di muka bumi.

Berarti, Islam bersifat universal, bahkan bisa berlaku pula untuk kalangan kafir, munafik, musyrik, yang mana bila mereka melaksanakan tata kehidupan Islam dengan baik akan mendapatkan manfaat dan kebaikannya. Apalagi jika mereka benar-benar beriman kepada Allah.

Permasalahannya sekarang adalah, banyak orang tak menyadari bahwa Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Akibat si musuh nyata yakni syaitan, ia menghembuskan ke dalam hati orang-orang yang ingkar untuk membenci syariat ini dan menghancurkan orang-orang yang menjalankannya. Disinilah terjadi konflik antara yang haq (yakni yang datangnya dari Allah) dengan yang bathil (yakni yang dihembuskan syetan).

Maka, agar semua orang sadar bahwa Islam itu rahmat bagi sekalian alam, dan agar yang bathil itu benar-benar bisa ditumpas, solusinya adalah dengan dakwah.

Pertanyaannya lagi adalah, sudah sejauh mana dakwah kita?

Pertanyaan ini yang jawabannya nanti akan menjadi jawaban bagi pertanyaan mengapa banyak aktifis yang rela berjuang mati-matian untuk dakwah, sementara ada pula yang berjuang dengan malas-malasan untuk dakwah ini.

Ya, lagi-lagi saya melakukan analisa, kali ini tak cuma sekedar logika.
Karena jawaban pertanyaan ini adanya di lapangan.

Ummat, merekalah tolok ukur sejauh apa dakwah sudah mewarnai negeri ini.
Ummat, merekalah cerminan para da'i yang getol ceramah sana sini di negeri ini.
Ummat, hanya dari mereka kita bisa tahu apakah perjuangan kita itu berarti atau malah dianggap basi.

Maka sayapun terjun kepada ummat.
Awalnya tentu dari yang terdekat, dulu ketika masih di kampung halaman saya biasa berdakwah kepada saudara-saudara dan adik-adik yang telah tersaring seleksi alam. Ya, merekalah orang-orang pilihan yang mendapat hidayah untuk bisa bergumul dalam dunia dakwah.

Namun, dulu (bahkan terkadang sekarang pun masih) saya begitu merasa berat dakwah ke mereka. Godaan terbesar adalah pada lemahnya militansi diri sendiri. Kurangnya kepahaman akan makna dakwah dan kurangnya rasa memiliki dakwah, itulah batu penghalang yang paling menghambat gerak dakwah saya.

Padahal Allah SWT berfirman :
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah : 41)

Ketika merasa ringan, oke saya berangkat. Namun ketika kemudian merasa berat, saya pun lebih menuruti hawa nafsu untuk tidak berangkat.

Lalu kemudian, ketika saya mulai beranjak ke kota rantau, saya mulai mencoba terjun lebih dalam menyelami ummat.

Mulai dari memahami karakteristik ummat cilik dengan mengajar TPA. Kemudian memahami kepribadian remaja tanggung dengan menjadi mentor siswa SMP. Lalu menyelami dunia dakwah kampus dan dakwah sekolah di Jogja. Mencoba pula mengerti bagaimana tiap gerakan-gerakan dakwah beraksi.

Lama kelamaan saya kembali berpikir, bukankah Islam itu rahmatan lil 'alamin?
Lalu mengapa saya hanya melihat satu sisi ummat yang menjadi objek Islam?

Timbul pertanyaan...
Adakah ummat ini dalam keadaan baik-baik saja?

Tiap saya melakukan perjalanan dengan motor tua saya, saya lalu memperhatikan bagaimana masyarakat di sepantaran jalan. Saya berpikir, jika selama ini saya selalu bergelut dengan para aktivis dakwah, lalu bagaimana dengan mereka? Bagaimana sentuhan dakwah di masyarakat yang 'ammah? Bagaimana kondisi ruhiyah mereka?

Saya lalu mulai hobi melakukan safari masjid. Melakukan perjalanan puluhan bahkan ratusan kilometer hanya untuk mendatangi sebuah masjid di kampung-kampung atau di kota lain yang mempunyai kultur unik, kental, dan berbeda.

Saya lalu mengikuti kajian-kajian dari berbagai tipe gerakan dan pemahaman Islam. Tak perlu saya sebutkan satu persatu, karena memang telah banyak gerakan-gerakan itu, dan mereka semua punya ciri khas dan cara memahami diin ini masing-masing. Bagi sebagian orang, tak nyaman untuk mengikuti hal yang tak seidea dengannya. Namun bagi saya, walaupun saya termasuk orang yang cukup idealis, tapi selama itu masih berpegang kepada Qur'an dan sunnah maka saya juga termasuk yang sangat menghormati perbedaan.

Ada yang orientasi politik, khilafah, tauhid dan sunnah, sosial kemasyarakatan, semua saya datangi untuk belajar melihat dari berbagai sudut pandang.

Masih belum puas dengan itu semua.
Kebetulan saya punya teman-teman kuliah yang sangat suka berekspresi, dan saya tak sungkan berteman dengan mereka. Walaupun kami tak seprinsip, tapi saya pikir kenapa saya harus menjauhi mereka. Toh saya bukan orang eksklusif, dan Islam tak pernah mengajarkan ekslusifitas.

Dari kebiasaan berekspresi itu, lagi-lagi saya menjadi semakin peka melihat lingkungan dari ragam sudut pandang.

Agenda keseharian yang padat membuat saya terpaksa sering pulang malam.
Awalnya pulang malam menjadi hal yang hambar.
Tapi lama kelamaan, lagi-lagi karena seringnya menempuh perjalanan dengan si motor tua, saya jadi memperhatikan bagaimana kondisi pengamen jalanan, ada juga anak-anak jalanan, ada penjual koran malam, ada pedagang kaki lima, ada juga anak-anak yang nongkrong di pinggir jalan, ada lagi penjaja kenikmatan sesaat yang sedang menanti pelanggan.

Kesemua itu kian menguak rasa penasaran saya.
Selama ini tak pernah saya selami bagaimana psikologis mereka.
Padahal saya dan saudara-saudara lain mengaku sebagai seorang penerus risalah. Lantas risalah seperti apa jika hanya disampaikan pada orang-orang yang sudah baik saja?

Ya, tak ada yang terpikir untuk menyentuh kalangan tadi dengan dakwah pula.
Padahal saya yakin, jika ditanya agama mereka pastilah Islam. Namun mereka jauh dari cahaya Islam. Mungkin sedikit banyaknya memang mereka tahu tentang Islam, namun seperti apa pemahaman mereka? Mengapa tak ada cahaya dakwah masuk ke mereka.

Menyelami psikologis masyarakat bawah yang jumlahnya mayoritas di negeri ini, itu menjadi sebuah pencarian jawaban tahap baru yang saya jalani.

Bersama para teman ekspresif tadi, kemudian jiwa muda kami bergejolak.
Kami berpikir bagaimana bisa mencari pengalaman sebanyak mungkin di masa muda. Namun bagi saya ada motivasi tambahan, yakni menyelami bagaimana memahami psikologis mereka dengan mencoba menjadi mereka.

Lalu eksperimen awal kami terjun mengamen.
Ya, walaupun saya cinta masjid, namun demi dakwah saya mencoba melakoni peran pengamen.
Karena saya ingin tahu apa yang ada di pikiran pengamen. Mana titik selah pikiran orang-orang seperti itu untuk bisa menerima dakwah dalam kehidupan mereka. Dan ternyata, menjadi mereka itu sulit!

Kami berjuang dua jam, menahan rasa malu dan menebalkan muka. Baru bilang permisi, kami sudah dihadapkan pada telapak tangan. Berkali-kali mencoba, hasilnya dua jam cuma dapat dua ribu rupiah. Masyaallah...

Lalu saya berpikir, seorang pengamen, bagaimana mungkin dirinya sempat memikirkan bagaimana mengisi ruhiyah-nya?
Sedangkan untuk mengisi perut saja belum tentu bisa. Apa sempat mereka memikirkan agama ini, walaupun untuk diri mereka sendiri saja?

Memang kami belum profesional dalam hal mengamen sehingga wajar cuma dapat segitu. Tapi saya rasa yang sudah perofesional pun tak kan jauh beda. Intinya untuk kehidupan sehari-hari saja fokus mereka sudah terkuras, apalagi mau membina ruhiyah?

Maka dengan kondisi seperti itu, bagaimana solusi da'i untuk menyentuh mereka? Bagaimana solusi da'i untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada mereka? Padahal mereka juga berhak. Ya, mereka berhak mendapatkan kepahaman dan pengamalan syariat ini secara kaffah.

Belum puas lagi dengan percobaan menjadi pengamen.
Suatu waktu, saya hadir dalam suatu kajian yang disana membahas tentang degradasi moral dan prilaku menyimpang di akhir zaman ini berupa perzinaan yang merajalela. Zina, ini bukan perkara sederhana. Jika hal ini sudah tak lagi terkendali, dan malah menjadi sebuah komoditi, maka inilah tanda-tanda kiamat saudaraku!

Mengingat hal itu, saya jadi terngiang firman Allah :
"Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS. Al-Anfaal : 25)

Ya, Allah mengatakan dalam ayat itu bahwa siksaan Allah tak hanya akan datang kepada orang-orang yang melanggar hukum-Nya, namun juga akan menimpa kita orang-orang di sekitar mereka yang tak mencegah atau pun melakukan dakwah kepada mereka, padahal kita tahu dan kita mampu.

Saya teringat bahwa di Jogja ada sebuah tempat yang menjadi pusat lokalisasi tersohor, 'Pasar Kembang'. Mungkin sebagian anda biasa mendengarnya dengan sebutan 'SarKem'.
Ya, disana ada praktek prostitusi dan itu sudah berlangsung sejak lama, dan gawatnya itu sudah menjadi semacam hal lumrah. Nastaghfirullah...

Tapi, selama saya hidup dan berbicara tentang pelanggaran ummat hari ini dalam hal prostitusi, saya tak pernah melihat sebobrok apa mereka sebenarnya. Saya hanya mendengar dari cerita-cerita orang dan membaca dari tulisan-tulisan. Saya tak pernah tahu, mengapa mereka terus menjadi ummat yang bobrok? Mengapa seolah tak ada cahaya dakwah yang datang kepada mereka? Seperti apa tipikal mereka hingga para da'i enggan menjamah dunia mereka untuk di-Islamisasi?

Lalu saya mengambil langkah yang saya yakin bagi anda akan menjadi suatu langkah yang kontroversial. Saya sebenarnya sudah tahu langkah ini nantinya akan menimbulkan ragam reaksi diantara anda. Tapi saya mengambil keputusan ini karena Allah. Karena saya ingin melihat kondisi ummat, memahami dari dekat seperti apa pola pikir, pola hidup, dan motivasi mereka dalam beraktivitas.

Maka saya bersama teman-teman ekspresif saya tadi berangkat lagi survey terjun lapangan. Ya, malam itu sekitar pukul 03.00 WIB dini hari kami datang ke TKP. Simpel, tujuan kami hanya ingin mencari tahu seperti apa dunia malamnya mereka.

Kami memarkir motor dan berjalan ke arah gang yang menjadi sumber kehidupan malam itu. Kami sempat ragu dan takut-takut, terutama saya. Tapi kami lalu melanjutkan masuk ke gang itu. Dan potret kehidupan yang saya lihat malam itu benar-benar membuat saya tak henti berdzikir dan beristighfar kepada Allah di dalam hati. Kami mondar-mandir dalam gang itu tak lebih dari 10 menitan saja. Namun 10 menit itu bena-benar membuat saya merasa ditampar.

Anda jangan ber-negative thinking. Survey ini saya lakukan karena Allah dan sungguh ini benar-benar yang paling menakutkan bagi saya. Sepanjang perjalanan kami dalam gang sempit itu saya tak melihat ke arah lain kecuali mata saya hanya tertuju pada jalan yang akan saya lalui. Ya, saya benar-benar harus menjaga pandangan di dalamnya. Telinga saya ini tak henti-hentinya mendengar obrolan-obrolan sensual, baik cuma sekedar pembicaraan antar sesama 'mereka', ataupun seputar negosiasi. Bahkan seorang teman saya mendapat colekan dari 'mereka', tak cuma satu kali tapi berkali-kali. Namun sepertinya Allah SWT masih melindungi saya, tak ada godaan langsung yang saya alami di dalam gang itu dan tak ada yang menegur saya. Padahal 'mereka' terus menggoda orang-orang yang lewat dengan kode-kode siulan atau psst-psst an.

Keluar dari sana dengan lutut yang bergetar, badan yang berkeringat ketakutan, jantung yang berdebar kengerian. "Ya Allah, dimana kami para hamba yang sudah berazzam di jalan dakwah-Mu ini???", tanya hati saya.

Bagaimana mungkin kami terus berkoar-koar tentang dakwah di masjid atau kampus dan sekolah-sekolah, sedangkan di sekitar kami masih ada pelanggaran berat syariat seperti ini yang tak terjamah dakwah.

Satu hal yang menarik saya temukan di gang sempit itu adalah, ternyata ada masjid didalamnya. Sebuah masjid kecil, atau mungkin kita sebut musholla. Lalu apa fungsi masjid itu disana jika praktek itu masih juga terus terjadi.

Padahal mereka bila ditanya tentu mayoritas beragama Islam. Tapi kenapa Islam tak mampu menjadi pencerahan hidup untuk mereka. Mereka pun bila ditanya motivasinya tentu karena himpitan ekonomi, tapi kenapa Islam seolah tak menjadi solusi untuk masalah mereka itu? Kenapa mereka harus melakukan praktek itu? Belum lagi maksiat sampingannya ada miras, narkoba, dan perjudian yang mewarnai lakon prostitusi.

Jawabannya adalah, karena tak adanya dakwah menyinari mereka. Bagaimana hidayah bisa datang jika sholat pun mereka jarang, dan malam-malam mereka menjadi jalang.

Nastaghfirullah...

Saudaraku yang berazzam di jalan dakwah...
Sungguh yang saya tuliskan ini belum lagi semua pengalaman saya.

Saya belum menceritakan bagaimana perjuangan melawan kristenisasi saat erupsi Merapi yang lalu. Saya belum lagi menceritakan penyelaman watak ummat yang berada di pasar, atau juga yang berada di rumah-rumah sakit. Saya belum pula bercerita tentang penemuan dzikir usai shalat yang aneh dan terkesan mistik yang saya temui di derah Kulon Progo beberapa waktu yang lalu. Saya belum lagi menceritakan bagaimana saya menyelami fakta lapangan dakwah kepada non-Muslim.

Kesemua pengalaman itu nantinya akan saya ceritakan kepada saudaraku tersayang semuanya.
Insyaallah akan ada kesempatan lain kita berbincang lagi...

Namun yang pasti, dari semua pengalaman itu, saya kemudian menarik kesimpulan bahwa dakwah kita belum ada apa-apanya. Maka, pantaskah kita bermalas-malasan?

Selama ini kita hanya menyentuh orang-orang sudah dapat hidayah, tapi itupun kita masih sering mengeluh.
Padahal dakwah itu lebih luas daripada sekedar khutbah, tausyiah, kultum, halaqoh, ta'lim, kajian, mabit, dan banyak kegiatan ilmu keislaman lain yang biasa kita temui di dunia tarbiyah. Dakwah itu harus menyentuh ummat, dari yang tersholeh hingga terkufur sekalipun.

Seringkali terpikir bagi kita dalam rekrutmen dakwah, kita mem-fardhiyah-i orang-orang yang dari wajahnya sudah terlihat pancaran kebaikan. Orang-orang yang memang sudah senang duduk di masjid. Orang-orang yang sudah bisa baca Qur'an.
Tapi kenapa tak pernah terpikir oleh kita bagaimana kita bisa mendakwahi orang-orang yang punya karakter seperti Umar bin Khattab saat beliau radhiallahu'anhu masih berada dalam kekafiran?
Mengapa kita tak pernah terpikir bagaimana mendakwahi orang seperti Bilal bin Rabah yang dulunya hanya seorang budak?
Mungkin sudah banyak kita berdakwah kepada orang-orang yang mampu seperti Utsman bin Affan, atau orang-orang yang memang gandrung dengan Islam seperti Ali bin Abi Thalib atau Saad bin Abi Waqqash. Namun bagaimana dengan sisanya?

Apakah dakwah ini hanya milik langit?
Mengapa kita tak juga turun ke bumi?

Pandanglah realita saudaraku...
Yang kita hadapi adalah ummat...
Ummat dengan beragam tipenya...

Sungguh, dengan semua pengalaman itu semakin kuat azzamku di jalan dakwah ini...
Aku sungguh semakin bersyukur...
Bersyukur aku menjadi orang yang paham, bersyukur keluargaku semua dari orang-orang baik dan berkecukupan, aku bersyukur di kenalkan dengan saudara-saudara seperjuangan yang dahsyat semangat belajarnya, aku bersyukur pula mengenal pribadi-pribadi yang menautkan dirinya dengan masjid dan menjaga dirinya dari api neraka, aku bersyukur mengenal para akhwat yang menutup aurat mereka dengan sempurna. Sungguh aku bersyukur dengan semua itu...

Alhamdulillah ya Allah...
Benarlah bahwa nikmat iman dan Islam ini adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah...
Dan sekarang saatnya bagi kita untuk mendakwahi ummat. Mereka semua menunggu pencerahan dari kita, para generasi penerus di jalan dakwah...

Mari terus berjuang saudaraku...
Sambil kita terus belajar...

Janganlah jadi hamba yang manja.
Capek sedikit, ngeluh...
Sakit sedikit, ngeluh...
Salah sedikit, ngeluh...

Percayalah, di belahan bumi lain, ada ikhwah yang berjuang mati-matian demi dakwah ini.
Mereka rela tak tidur, tak makan, tak berkumpul dengan keluarga, dan mengorbankan kepentingan pribadi mereka lainnya demi agar supaya dakwah ini tegak, kalimatullah ini tegak.

Tak malukah kita dengan mereka?
Padahal di depan mata kita banyak objek dakwah menunggu...
Namun karena kelemahan azzam dan militansi kita, mereka semua terlalaikan.

Kita baru menghadapi ujian yang mudah, jangan engkau berlebihan dengan bertingkah seolah ini ujian yang paling berat.

Kita belum melakukan apa-apa, jangan engkau berbangga seolah engkaulah sang pengubah dunia.

Ingat, sekiranya Allah menimpakan azab bagi negeri ini karena kekufuran penduduknya, maka orang-orang taat didalam negeri ini pun akan turut terkena azabnya.

Maka, mari terus semangat saudaraku tersayang...
Terus istiqomah...

Jalan ini masih panjang...
Jangan engkau mudah menyerah...

Jika kita lemah,
sungguh, mau ditaruh dimana muka kita jika bertemu Rasulullah saw. di akhirat nanti?

Percayalah pada janji Allah :
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali-Imraan : 104)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang beruntung. Yakni hamba yang mewarisi syurga 'Adn yang terdapat sungai-sungai mengalir di bawahnya. Amin...

Barallahu fi kum...

Billahi taufiq wal hidayah.
Walhamdulillahirabbil 'alamin...



~M.T.Q~

selengkapnya...

Rabu, 22 Desember 2010

Ibu, Perjuanganmu Yang Mulia

Hari ini 22 Desember 2010, suatu hari yang indah. Dikota tempat saya menulis artikel inipun, entah mengapa hari ini jadi begitu cerah. Padahal biasanya tiada hari tanpa hujan yang deras diiringi padam listrik. Tampaknya sang mentari tak hendak melewatkan hari ini karena 22 Desember adalah peringatan Hari Ibu secara Nasional.

Hari ibu, sayapun sebenarnya tak begitu hapal bahwa ternyata ia diperingati pada tanggal 22 Desember. Tapi untungnya saya agak hobi baca berita, jadi lumayan tidak ketinggalan info. Mengetahui bahwa ternyata hari ibu jatuh pada hari ini, tentu saya tak melewatkan kesempatan untuk mengucapkan selamat hari ibu kepada ibunda saya tercinta. Saya yakin pembaca semua juga demikian.

Berbagai media komunikasi sontak dipenuhi dengan beragam kata yang menggambarkan ucapan terima kasih sang anak kepada ibunya. Mulai dari bicara langsung, sms, telepon, bahkan sampai situs-situs jejaring sosial juga dipenuhi ucapan selamat hari ibu walaupun belum tentu juga ibunya akan membaca tulisan anaknya di situs tersebut (harap maklum, tidak semua ibu mempunyai skill teknologi yang sama dengan anaknya. Hehehe…). Tapi inilah luapan ekspresi sang anak yang begitu bahagia mempunyai ibu yang amat menyayanginya.

Ibu adalah sosok pahlawan dimata anaknya. Ibu yang berjuang melahirkan kita ke dunia bahkan dengan taruhan nyawa. Ibu selalu memberi yang terbaik untuk kita, bahkan ketika kita berteriak menangis di tengah malam karena kehausan ibu langsung terjaga dan siap menenangkan kita. Ibu yang rela tak tidur semalam suntuk demi menjamin tak ada seekor nyamukpun yang hinggap dan mengusik lelap kita. Disaat kita tumbuh dewasa, ibu mulai mengajarkan kemandirian pada kita. Dengan segala nasihat dan didikannya, kita dibentuk menjadi pribadi tangguh yang selalu hormat pada orang tua. Ya, kita lihat saja berapa banyak orang sukses yang tidak hormat pada ibunya? Tidak ada! Karena keridhoan ibu adalah kunci kesuksesan kita. Itulah ibu, sosok ajaib yang amat besar pengaruhnya dalam kehidupan kita.

Islam sendiri menempatkan ibu pada derajat yang amat mulia. Hadits riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: “Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu.” (Shahih Muslim No.4621). Demikian Rasulullah saw. mengajarkan bahwa ibu adalah seseorang yang paling berhak untuk kita pergauli dengan baik. Hal tersebut memang wajar, bahkan seharusnya belum setimpal dengan perjuangan ibu dalam mendidik dan membesarkan kita.

Sebagaimana yang saya singgung diatas, perjuangan ibu tidaklah mudah. Bila kita runut, mulai dari masa kehamilan, ibu selalu membawa beban di kandungannya kemana-mana. Sesungguhnya menjadi seperti itu amatlah merepotkan bahkan menyusahkan, tapi karena Allah telah menjadikan lembut hati setiap ibu, maka ibu justru menyayangi dan merawat kandungannya. Setelah tiba masanya, maka ibu berjuang melahirkan kita ke dunia. Bukan main-main, taruhannya nyawa. Tapi ibu tak pernah takut menghadapi resiko maut itu, yang ada dipikirannya hanya keselamatan kita. Rasulullah saw. bersabda: “Syuhada’ (orang-orang mati syahid) yang selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh: Korban wabah tha’un adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, penderita penyakit lambung (semacam liver) adalah syahid, mati karena penyakit perut adalah syahid, korban kebakaran adalah syahid, yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid, dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan al-nasai, juga Ibnu Majah. Berkata Syu’aib Al Arnauth: hadits shahih). Inilah penghargaan Islam terhadap para ibu yang berjuang melahirkan anaknya meski harus mengorbankan nyawa. Subhanallah, betapa dahsyatnya perjuangan ibu.

Tak hanya sampai disitu, setelah melahirkan anaknya, para ibu yang diberi umur oleh Allah harus memanfaatkan itu untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Mulai dari kita bayi, ibu yang selalu mengurusi kita, memandikan; menyuapi makan; menggantikan pakaian; dan yang pasti menyusukan anaknya menjadi rutinitas harian. Bukan tak lelah, bahkan remuk redam rasanya tubuh ibu karena tak hentinya mengurusi kita. Disiang harinya harus mengawasi kita bermain, sedang dimalam harinya harus menjaga kita agar terus terlelap tenang tanpa terusik sedikitpun. Tak jarang ibu baru saja ternyenyak lalu tersentak bangun mendengar tangisan kita yang kehausan di tengah malam, atau karena kita baru saja mengompol, dan banyak lagi alasan kita untuk mengganggu istirahat ibu di tengah malam. Tak sadarkah kita sekarang, betapa banyak jam istirahat ibu yang kita sita? Tapi ibu tak pernah protes. Ibu selalu mengurusi kita dengan telaten dan sabar. Harapannya kelak kita bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti.

Saat kita memasuki usia sekolah, ibu mulai mengajarkan kemandirian pada kita. Mulai dari mengantarkan kita di hari pertama sekolah, menunggui kita hingga bel pulang berbunyi. Namun di hari-hari berikutnya, ibu tidak lagi terus menunggui kita. Mengetahui ibu meninggalkan kita sendirian di sekolah, kitapun menangis dan marah pada ibu. Kita menuduh ibu jahat karena meninggalkan kita, tapi tahukah kita yang sebenarnya bahwa ibupun amat berat melakukan itu. Semacam ada sesuatu yang menghambat kakinya melangkah meninggalkan kita sendirian di sekolah, kekhawatiran dan rasa cemasnya memuncak. Tapi ibu harus lakukan itu, ibu tak boleh membiarkan kita menjadi anak yang manja.

Ketika kita mulai terbiasa ditinggal ibu di sekolahan, suatu hari ibu ingin mengantarkan kita hingga ke gerbang sekolah. Apa yang kita lakukan? Kita justru malu diantarkan ibu, dan kitapun melarangnya bahkan menyuruhnya cepat pulang. Hari penerimaan rapor tiba, ibu datang ke sekolah dengan senangnya ingin melihat hasil belajar kita. Tapi apa lagi yang kita lakukan? Kita justru menepis gandengan tangan ibu dan berjalan agak menjauh, seolah malu membawa ibu ke sekolah? Ada apa dengan kita? Tak tahukah kita betapa tersayatnya hati ibu melihat sikap kita yang seperti itu?

Setelah lulus SMA, kita pun bermimpi ingin meraih cita-cita dengan berkuliah di perguruan tinggi ternama yang berada di luar kota. Kitapun mengikuti tes masuk dan diterima di perguruan tinggi yang berada di luar kota tersebut. Ketika pulang ke rumah, kita memberitakannya kepada ibu. Reaksi ibu jelas sedih, karena ia membayangkan akan berpisah dengan anak kesayangannya. Ibupun sekedar mencoba meluapkan isi hatinya. “Nak, mengapa harus jauh-jauh? Yang dekat kan juga ada.”, tapi apa respon kita? Justru kita mengatai-nya kampungan dan over protective karena tak mau melepas kita.

Ketika tiba saat keberangkatan kita ke kota tempat kita akan berkuliah, sedih rasanya hati ibu melepas kita. Jauh beratus-ratus kali lipat sedihnya dibandingkan ketika dulu pertama kali ia meninggalkan kita sendirian di sekolah. Ibu tak kuasa menahan air matanya. Dipeluknya erat tubuh kita, tapi kita hanya ingin cepat lepas dari pelukannya. Diberinya kita nasihat, tapi kita hanya mengangguk agar ia cepat selesai bicara. Nasihatnya hanya kita anggap angin lalu.

Selama masa perkuliahan, kita seolah lupa dengan ibu. Padahal dirumah, ibu selalu memikirkan dan mendoakan kesuksesan kita. Berharap kita selalu diberi kesehatan oleh Allah dan dijauhkan dari segala marabahaya. Itulah ibu, ketulusannya tiada tertanding. Selalu memberi meski tak pernah menerima.

Setelah wisuda, kitapun bekerja dan berkeluarga. Pilihan tempat kerja lagi-lagi diluar kota yang jauh dari ibu. Selama itu, berapa kali kita menjenguk ibu. Padahal ibu kian menanggung rindu pada kita. Disaat ibu sudah sakit-sakitan dan butuh bantuan kita, kita selalu saja beralasan sibuk dengan urusan ini dan itu. Lupakah kita dengan semua pengorbanan ibu selama kita hidup?

Sungguh kita tak bisa dan tak akan pernah bisa membalas jasa ibu. Bahkan tak perlu seluruh jasanya, membeli air susu ibu yang telah menjadi darah daging di tubuh kitapun kita tak sanggup meski hanya setetes. Sungguh mulia perjuangan ibu, maka dari itu hargai dan hormatilah ibu.

Firman Allah dalam al-Qur’an: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa’: 23)

Demikian Allah memerintahkan kita berlaku sopan santun dan lemah lembut pada kedua orang tua kita termasuk ibu. Rasulullah saw. bersabda: “Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir.” (HR. Muslim). Kafir yang dimaksud disini adalah kufur nikmat. Jelaslah orang yang menyia-nyiakan kedua orang tuanya termasuk ibu adalah orang yang kufur, karena bagaimana mungkin ia dapat menjadi seperti sekarang jika tanpa kasih sayang Allah SWT melalui kedua orang tuanya? Maka dari itu, cara mensyukuri nikmat tersebut adalah dengan berbakti kepada kedua orang tua.

Marilah kembali kita mengingat pengorbanan dan perjuangan ibu yang mulia. Bagaimanapun ibu kita adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Bagaimanapun juga, hati ibu pastilah sangat menyayangi anaknya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berbakti dan mendoakan ibu kita? Adanya momen hari ibu sesungguhnya bisa menjadi peringatan bagi kita akan perlakuan kita terhadap ibu. Jadikan momen ini sebagai muhassabah yang tak hanya dimulut saja. Jika kita memang masih berlaku buruk kepada ibu kita, bertaubatlah sedari sekarang. Karena Rasulullah saw. juga bersabda: “Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua.” (HR. Al Hakim).

Mari kita doakan, semoga Allah SWT meninggikan derajat ibu kita, kedua orang tua kita. Semoga Allah senantiasa melimpahkan karunia, rahmat, serta kasih sayang-Nya kepada ibu kita. Ibu, kami anakmu sangat menyayangimu. Maafkan kami jika masih punya banyak kekurangan. Berilah kami kesempatan menjadi anak yang terbaik bagimu. Kami akan berusaha. Insyaallah.

SELAMAT HARI IBU, SEMOGA ALLAH MEMBERKAHI PARA IBU DARI UMAT-UMAT TERMULIA-UMAT ISLAM DI SELURUH DUNIA. AMIN ALLAHUMMA AMIN.

~M.T.Q~

selengkapnya...

Selasa, 07 Desember 2010

Muharram dan Pemuda

Keutamaan Muharram
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin yang masih memberikan kita nikmat tiada terkira hingga kita masih disampaikan umur ke dalam bulan Muharram nan mulia. Shalawat beserta salam selalu kita curahkan kepada teladan kita yakni Muhammad saw. Semoga kita tergolong umat beliau yang mendapatkan syafaat. Betapa bahagianya kita memasuki bulan Muharram, salah satu diantara 4 bulan yang diharamkan Allah. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. at-Taubah [8]: 36)

Ibnu Rajab mengatakan,”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Dari Abu Bakrah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Berdasarkan hadits tersebut maka jelaslah bahwa bulan Muharram adalah salah satu diantara 4 bulan-bulan haram yang dimuliakan, yang mana Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan: ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Pada bulan Muharram banyak terjadi peristiwa dan juga amalan sunnah untuk kita kerjakan. Diantara peristiwa itu adalah pada hari ketiga bulan Muharram ialah hari dimana Nabi Yusuf a.s. dibebaskan dari penjara dan hari kesepuluh adalah hari dimana umat Nabi Musa a.s. lepas dari kejaran Fir’aun yang tenggelam di laut merah, pada hari kesepuluh pula cucu Rasulullah saw. syahid di padang Karbala. Sedangkan untuk amalannya, pada bulan ini Rasulullah saw. bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim). Yang dimaksud puasa di bulan Muharram ialah berpuasa pada tanggal 10 Muharram atau biasa disebut hari asyura’. Ibnu Abbas menyatakan : "Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada suatu hari karena ingin mengejar keutamaannya selain hari ini (Asyura') dan tidak pada suatu bulan selain bulan ini (maksudnya: Ramadhan)." (HR. al-Bukhari [2006], Muslim [1132]). Rasulullah juga tak hanya mengajarkan untuk berpuasa pada tanggal 10 saja, namun juga pada hari sebelumnya atau pada tanggal 9 Muharram untuk membedakan dengan puasa orang-orang yahudi dan nasrani. Dalam hadits dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah saw.: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Asyura' itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tahun depan insyaallah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan." (HR. Muslim [1134]). Namun di tahun berikutnya ternyata Allah telah mewafatkan beliau sehingga belum sempat untuk melaksanakannya.

Inilah bulan mulia bulan Muharram. Adalah bulan penuh sejarah dan ada amalan sunnah yang khusus yakni puasa asyura’ yang mana barangsiapa yang mengerjakannya maka akan dihapuskanlah segala dosanya selama setahun yang lalu sebagaimana sabda Rasulullah saw. ditanya tentang puasa asyura’, maka beliau menjawab: "Ia menghapuskan dosa tahun yang lalu." (HR. Muslim [1162], Ahmad 5/296, 297). Mengapa kita tidak mengejar fadhilah ini? Bukankah kita tidak mengetahui kapan ajal kan menjemput? Maka mari manfaatkan sisa umur yang ada untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT dan menjadikan diri sebagai umat Muhammad saw. yang senantiasa mengerjakan segala sunnahnya dan menjauhi perkara bid’ah.

Muharram dan Pemuda
Muharram sebagai bulan pertama dan perhitungan kalender Hijriyah jangan kita jadikan sebagai bulan biasa. Bahkan Allah menjadikan Muharram sebagai salah satu dari 4 bulan haram, maka bagaimana dengan kita? Masihkah kita menyiakan kedatangan Muharram dan membiarkannya berlalu begitu saja? Katakan tidak!

Melangkah masuk ke awal Muharram berarti juga melangkah masuk ke tahun yang baru. Maka moment ini sangatlah pas untuk dijadikan moment kebangkitan. Ya, jadikan Muharram sebagai moment kebangkitan, perbaikan, dan perubahan. Berbicara tentang ketiga hal ini –yakni kebangkitan, perbaikan, dan perubahan- kita dapat menjurus kepada sesosok pribadi yang dipandang mampu mewujudkan ketiganya sekaligus. Ya, merekalah para pemuda. Lalu apa kaitan pemuda dan Muharram?

Pemuda sebagai agent of change (agen perubahan) tentu memiliki kapasitas untuk bangkit, baik, dan berubah. Bukankah kita lihat keterpurukan terjadi disekitar kita sekarang ini? Baik di Negara kita, maupun di Agama kita. Mulai dari kasus korupsi, suap, manipulasi, dan segala macam bentuk tipu-tipu para aktor di panggung politik, terlebih lagi jika kita juga berbicara bagaimana fitnah yang sedang menyerang Agama kita, Islam yang mulia ini.

Ini semua harus dihentikan! Dan sekaranglah moment yang tepat. Bukankah Allah juga memberi kita kesempatan untuk ‘membuka lembaran baru’ dengan menghapus dosa kita setahun yang lalu jika kita berpuasa asyura’? Maka mari pula kita buka lembaran baru episode perjalanan bangsa dan Agama ini. Cukuplah semua kekusutan yang terjadi selama ini. Pemuda sebagai pondasi umat harus bisa melakukan sesuatu di tahun yang baru ini. Allah SWT berfirman: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Maka kapan kita akan berubah jika kita tidak mulai berubah mulai dari saat ini?

Jika kita perhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan Muharram dimasa yang lalu, yakni dimana Nabi Yusuf a.s. dibebaskan dari penjara, dimana umat Nabi Musa a.s. lepas dari kejaran Fir’aun yang tenggelam di laut merah, dimana Husein cucu Rasulullah saw. syahid di padang Karbala, semua kejadian ini menggambarkan perjuangan menuju perbaikan. Kesemuanya itu adalah peristiwa-peristiwa dahsyat sebagai dampak dari sebuah pertentangan terhadap kebatilan. Berapa banyak dari kita yang berani mengulang sejarah itu?

Jika dahulu bulan Muharram dihiasi dengan peristiwa-peristiwa perjuangan, maka bagaimana dengan Muharram hari ini? Masihkah kita terlarut dalam hedonisme yang tak berkesudahan? Atau terfokus pada kesyirikan yang tak kunjung membuahkan keberkahan, justru azab yang ditimpakan.

Untuk melakukan kesemuanya itu butuh penggerak, ialah para pemuda. Maka pantaslah jika pemuda diberi jargon sebagai ‘Pilar Kebangkitan Umat’, karena memang besar harapan umat pada para pemuda. Maka lakukanlah yang terbaik yang kita bisa di masa muda kita. Jika kita sebagai pelajar atau mahasiswa, maka apa yang bisa kita sumbangkan untuk perbaikan di moment Muharram ini? Atau jika kita sebagai pekerja, maka sumbangsih apa pula yang mampu kita berikan untuk moment kebangkitan di bulan Muharram ini? Seharusnya pertanyaan seperti inilah yang senantiasa timbul di jiwa-jiwa kritis para pemuda, diikuti dengan action.

Janganlah lagi kita hanya memandang masa muda sebagai masanya bersenang-senang. Abdullah bin Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmidzi)

Ya, masa muda ini akan kita pertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT kelak. Lalu apa yang bisa kita jawab jika kita hanya bermain-main saja dan justru menjauh dari Allah? Maka marilah kita ceburkan diri kita para pemuda kedalam perjuangan menegakkan kalimatullah untuk kebangkitan, perbaikan, dan perubahan kondisi bangsa dan Agama ini di moment Muharram yang mulia ini. Laksanakan terus amalan-amalan ibadah sambil terus istiqamah meniti jalan Islam yang mulia menuju jannah. Semoga Allah meridhai setiap langkah. Amin.


~M.T.Q~

selengkapnya...

Senin, 15 November 2010

Secarik Entri : Satu Dari Alasanku Menulis

Sepanjang umurku hidup di dunia, masih sedikit hal yang baru kulihat. Pengalamanku mungkin memang masih kalah dibandingkan banyak orang. Wajahku memang terlihat tua, namun ketika orang-orang mengetahui umurku yang sebenarnya mereka akan berkomentar, "Ah, masih kecil."

Kuterima itu, dan kuterima kenyataan bahwa aku memang masih harus banyak belajar. Ya, karena menurutku belajar itu harus terus kita lakukan hingga saatnya nanti kita 'ditanam'. Bahkan seorang penemu ulung, ilmuwan, presiden, atau siapapun yang dipandang sebagai orang cerdas dan berpengalaman-pun masih butuh banyak belajar.
Namun setidaknya, dari 'kebodohan' yang masih menghinggapi diriku ini, aku selalu mencoba menyimpulkan setiap 'kepintaran' yang menyambangiku. Setidaknya aku selalu memberi pandangan atas apa yang aku alami. Pandanganku sebagai insan beriman, menisbahkannya pada Tuhanku, lalu memetik hikmah dari kejadian itu. Itulah belajar yang sebenarnya (menurutku).

Aku selalu mencoba menuliskan setiap kejadian yang terasa menghentak batinku, yang terasa memberi pelajaran berarti bagiku. Menurutku, metode itu terasa berdampak terhadap pemahamanku dalam merenungi kejadian itu. Dengan menuliskannya, kemudian memberi pandangan terhadapnya, selain aku bisa lebih mudah memahami kejadian tersebut (karena ia menjadi lebih nyata, terekam dalam tulisan, bukan abstrak dalam pikiran yang kemudian dilahap lupa), aku juga bisa berbagi hikmah itu dengan orang-orang disekitarku. Berangkat dari metode itulah aku mulai menyukai aktifitas menulis.

Contoh dari kebiasaanku yang baru saja engkau baca diatas adalah tulisan ini. Bayangkan, nggak penting banget kan sebetulnya membaca tulisan bernada curhat seperti ini? Siapa saya? Sampai pengalaman saya menjadi penting untuk dibaca. Lebih baik membaca pengalaman hidup Condolezze Rice, sang wanita kulit hitam pertama yang menduduki posisi menjadi menlu AS; atau jika anda pecinta konflik Israel-Palestina, anda bisa membaca biografi tokoh fenomenal Yasseer Arafat; atau jika anda sedikit religius, bisa membaca kisah hidup Sayyid Quthb, atau Paus Yohanes Paulus II. Rasanya kisah mereka lebih berarti untuk dibaca ketimbang tulisan orang yang sama sekali tidak berprestasi ini.

Jangankan menjadi bagian dari sejarah, rasanya untuk mengubah lingkungan radius 500 meter disekitarku menjadi seperti apa yang kumau saja sekarang sulit. Apa yang bisa kuperbuat? Hanya berceloteh di dunia maya, berharap ada orang salah alamat yang kemudian membaca tulisanku. Aku tak berharap orang-orang yang membaca tulisanku akan berubah karena terprovokasi dengan huruf-huruf yang kurangkai menjadi kata dan kalimat. Dengan mereka mau membaca tulisanku dari huruf pertama hingga titik terakhir saja aku sudah teramat senang. Meskipun akhirnya mereka mengomentari dengan satu kata, "cih!"-pun karena buruknya kualitas tulisanku, kuhargai itu sebagai sebuah pujian dan kuartikan itu sebagai nasihat agar aku lebih banyak lagi belajar.

Yah, begitulah resiko menjadi orang yang miskin ilmu. Namun setidaknya aku tidak seperti orang-orang yang kaya ilmu, lalu memandang dirinya sendiri yang paling benar. Aku teramat heran dengan fenomena kesombongan. Ketika ia telah kaya ilmu, lalu memandang orang-orang yang berbeda pandangan dengannya sebagai musuh yang harus dilumat. Prinsip hidupnya adalah pokoknya ilmu yang dia miliki saja yang harus diaplikasikan oleh seluruh dunia, selain itu semua salah. Waduh-waduh, kalau melihat fenomena itu, rasanya aku jadi merasa beruntung. Aku merasa lebih baik memiliki sedikit ilmu, kukuasai, lalu kubagi, dan aku masih menghargai perbedaan sebagai bahan pembelajaran dan pengetahuan bagiku (karena aku merasa bahwa aku adalah seorang miskin ilmu).

Begitulah, hal itu masih sering kulakukan, toleransi itu, kecuali untuk perkara prinsip seperti keyakinan yang telah pasti tuntunannya. Untuk perkara seperti itu, sorry aja bro...

Itulah pengalaman hidupku yang sedikit yang senantiasa memberiku pandangan-pandangan, tentang kondisi manusia yang saat ini kian kacau. Tapi, sebodoh-bodohnya aku, aku tetap masih punya impian. Aku punya impian bahwa suatu saat aku bisa turut memberi sumbangsih dalam perbaikan kondisi umat manusia. Aku tak berharap namaku ditulis dalam lembaran sejarah karena aku berharap aku bisa membuat sejarah meskipun kemudian aku dilupakan sejarah.


diposting dalam secarik entri
15 November 2010 M/9 Dzulhijjah 1431 H
di Semarang, Indonesia


~M.T.Q~

selengkapnya...

Kamis, 11 November 2010

Bencana Merapi Dalam Perspektif Islam

Beberapa hari terakhir ini Indonesia mendapatkan ujian luar biasa dari Allah SWT. Sebut saja tiga bencana alam dahsyat yang menerjang belahan Nusantara bertubi-tubi. Mulai dari banjir bandang yang menyapu Wasior-Papua Barat, tsunami yang menerjang Mentawai-Sumatera Barat, sampai erupsi Merapi yang tak kunjung reda hingga hari ini. Kita tak akan membahas secara luas bagaimana bencana beruntun ini bisa terjadi, namun yang menjadi fokus adalah bencana Merapi yang paling dahsyat diantara ketiga bencana itu. Seolah menjadi pemuncak, Merapi sepuas-puasnya memuntahkan isinya ke permukaan bumi atas perintah Allah SWT. Bagaimana tidak, letusan kali ini sangat berbeda dengan letusan-letusan Merapi sebelumnya, terutama pada 3 letusan sebelumnya (yakni tahun 1994, 1998, dan 2006). Perbedaan itu ialah letusan 2010 ini berasal dari magma paling dalam, sedangkan letusan-letusan sebelumnya hanya berasal dari magma dangkal (keterangan kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada 5 November 2010 - VIVAnews). Hal ini menyebabkan letusan Merapi kali ini bisa bersifat eksplosif dan memiliki daya hancur yang jauh lebih dahsyat daripada letusan-letusan sebelumnya. Keterangan ini juga dibenarkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Earth Observatory of Singapore (EOS). Mereka mengatakan bahwa sejak tahun 1870-an, Merapi hanya mengeluarkan letusan yang terdorong dari magma dangkal kedalaman sekitar 2 kilometer, sedangkan sekarang berasal dari magma dalam yang sangat dalam sekitar 6-10 kilometer. Akibatnya, erupsi Merapi kali ini amat parah dan mendapatkan predikat sebagai erupsi terparah seabad terakhir, na’udzubillahimindzaligh.





Akibat dari bencana ini, sekitar 279.702 penduduk lereng Merapi terpaksa turun gunung menjauhi radius 20 KM dari puncak Merapi dan tersebar di ratusan barak pengungsian. Baik warga dari Boyolali, Klaten, Yogyakarta, Magelang, dan sekitarnya terpaksa mengungsi guna menyelamatkan diri dari ancaman awan panas yang siap menerjang kapanpun tanpa terduga. Awan panas atau disebut juga wedhus gembel ini amat ditakuti karena siapapun dan apapun yang dilewatinya akan hangus terbakar, seperti nasib dusun Kinahrejo, dusun Argomulyo, serta dusun-dusun lainnya beserta 114 orang yang juga tewas terbakar sapuan awan panas (terhitung hingga kamis 11/11/10 pukul 13.49). Awan panas adalah gumpalan abu yang mengandung material vulkanik yang dimuntahkan oleh gunung berapi. Awan ini meluncur dengan kecepatan tinggi menyisir sisi lereng gunung dan dengan suhunya yang sangat panas menghancurkan apapun yang dilaluinya. EA Bryant, dalam "Natural Hazards" terbitan 1991, menyebut kecepatan awan panas terkecil bisa mencapai 30 meter per detik, sedangkan yang besar bisa berkecepatan 200 meter per detik. Awan mematikan ini pun bisa sangat tebal. Misal, pada letusan Gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991, tebal awan panas mencapai 30-50 meter, namun di daerah lain bisa lebih tebal lagi hingga 220 meter. Jangkauannya bisa sejauh 100 km dari pusat letusan di gunung api. Bahkan tebal awan ini bisa mencapai 1.000 meter, artinya jika tinggi badan rata-rata orang Indonesia adalah 165 meter, maka tinggi awan ini bisa sama dengan tinggi 600 orang dewasa yang dijejerkan keatas.

Awan ini juga amat panas hingga mampu menghanguskan semua benda yang dilaluinya. Ketika Gunung Pinatubo di Filipina meletus, awan panas yang dikeluarkannya bersuhu 750 derajat Celcius, sementara awan panas hasil letusan Gunung St Helens pada 1980 yang disebut letusan gunung api terdahsyat di Amerika Serikat, mencapai 350 derajat Celcius. Tapi yang paling dahsyat adalah awan panas hasil letusan Gunung Pelee di St. Pierre, Martinique, Prancis pada 1902. Suhu yang dibawa awan panas oleh gunung api ini mencapai 1.075 derajat Celcius. Panas setinggi ini setara dengan 10 kali panas air mendidih atau sepuluh kali suhu 100 derajat Celcius. Pada letusan Gunung Merapi sendiri, berdasarkan citra satelit, panas wedhus gembel yang dimuntahkan gunung ini mencapai 600 derajat Celcius atau enam kali panas air mendidih.

Dengan panas setinggi itu, ditambah kecepatan awan panas yang amat cepat, maka mustahil rasanya ada orang yang bisa selamat dari terjangan awan panas apabila ia sudah terlambat mengungsikan diri. Meskipun telah memacu kendaraan bermotor sekencang-kencangnya, tetap saja akan terkejar dan menjadi korban. Hal inilah yang diantisipasi oleh warga berdasarkan arahan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) dan dimobilisasi oleh para aparat dibantu relawan, mereka mengungsi sejauh titik aman dari puncak Merapi sebelum terlambat. Demikian mengerikannya bencana ini, bahkan dari sudut pandang ilmiah menunjukkan bahwa kekuatan bencana ini amat dahsyat. Ya, inilah kekuatan Allah SWT. Betapa Nampak kecil dan lemahnya kita.

Betapa panasnya awan yang dimuntahkan oleh Merapi, hingga apabila kita tersapu awan panas, ketika kita menghirup abunya maka paru-paru kita akan layu dan tersumbat, tubuh kita akan mendadak kaku hingga kita tewas seketika. Perumpamaannya sama seperti jika kita memanggang belalang. Wujud awan panas berdasarkan kesaksian saksi mata yang berhasil lolos dari maut adalah berbentuk gumpalan asap putih yang membumbung tinggi dengan warna yang memerah di tengah-tengahnya dan sangat cepat meluncur ke arah mereka. Sebagai insan beriman, tentu kita tak hanya memandang fenomena ini dari segi keilmuan duniawi saja, namun terpikirkah kita bahwa panasnya awan itu tak seberapa dibandingkan panas neraka?

Hadits riwayat Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw bersabda: Api kalian yang dinyalakan anak-cucu Adam adalah sepertujuh puluh dari panas api Jahanam. Para sahabat berkata: Demi Allah, bila sepanas ini saja sudah cukup wahai Rasulullah saw. Beliau bersabda: Sesungguhnya panas api tersebut masih tersisa sebanyak enam puluh sembilan bagian, panas masing-masing sama dengan api ini. (Shahih Muslim No.5077)

Jika awan panas saja mampu meluluh-lantakkan kita sedemikian hebatnya, menewaskan korbannya minimal jika selamat maka akan cacat seumur hidup, lalu terbayangkah kita dengan siksa neraka?



Marilah kita mengingat kembali akan azab yang akan kita terima di akhirat jika kita banyak mengingkari Allah selama di dunia. Tak hanya azab di akhirat, perbuatan maksiat yang kita lakukan juga akan mengundang azab di dunia. Sebagaimana yang dialami kaum Sodom, kaum Tsamud, kaum ‘Aad, dan kaum Saba’, mungkin hal ini jualah yang sedang menimpa ‘kaum Indonesia’, terkhusus ‘kaum Jawa’ ataupun kaum yang sedang menetap di Yogyakarta dan sekitarnya.

Perhatikanlah hadits berikut ini:
Ali bin Abi Thalib r.a, meriwayatkan daripada Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: “Apabila ummatku telah mengerjakan lima belas perkara, maka bala pasti akan turun kepada mereka, yaitu:

  1. Apabila (Maghnam) harta milik umum atau negara hanya berkisar di kalangan elit tertentu
  2. Apabila (aset) amanah dijadikan sebagai keuntungan diri (ghanimah)
  3. Zakat dianggap sebagai beban hutang (diperdagangkan)
  4. (Kehendak) suami dikuasai oleh kehendak istri (Queen Control)
  5. Anak mendurhakai ibunya
  6. Tapi ia (anak) berbaik-baik (patuh) dengan (kemauan) kawannya (yang mengajak pada kesesatan)
  7. Ayahnya (juga) dijauhi
  8. Ribut dan membuat kebisingan di dalam masjid (atas sebab dunia)
  9. Diangkatnya orang fasiq (jahat dan derhaka kepada Allah) menjadi pemimpin
  10. Seseorang ditakuti karena kejahatannya
  11. Arak menjadi minuman lazim
  12. Sutera menjadi pakaian (para pria)
  13. Golongan artis (biduan) disanjung-sanjung
  14. Ketika musik menjadi budaya pujaan
  15. Generasi akhir ummat ini melaknat (menyalahkan) generasi pertama (sahabat dan Ulama)
Maka pada saat itu hendaklah mereka menanti angin merah atau gempa bumi, tanah longsor, manusia berubah sifat (menjadi seperti binatang).”
Dalam hadith riwayat Abu Hurairah mengenai hal ini terdapat tambahan, ”Dan (Qazafan) tembakan, lontaran, serta tanda-tanda lain yang datang secara berturut-turut bagaikan butir manik yang terputus benangnya dan jatuh bertubi-tubi satu lepas satu.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikanlah ke-15 miftahul azab pada hadits diatas, bukankah ke-15-nya telah terjadi di masa ini? Maka bukankah pantas Allah menimpakan bala-Nya kepada kita?

Allah SWT berfirman:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Sudahkah bangsa ini bersyukur atas nikmat yang demikian banyak dilimpahkan Allah atas tanah ini?

Jika ditilik lebih jauh, rasanya pantaslah Allah menimpakan musibah erupsi Merapi sekarang ini terutama di daerah yang terparah yakni di tanah Keraton (Yogyakarta). Betapa banyak maksiat di tanah ini. Mulai dari pergaulan bebas, hingga paham kejawen yang berkembang pesat di Yogyakarta. Mungkin kita mengenal atau minimal pernah mendengar nama pasar kembang. Ya, lokalisasi yang telah berdiri sejak tahun 1818 ini adalah pusat prostitusi terbesar di Yogyakarta, bahkan popularitasnya telah merebak kemana-mana. Tempat ini kerap kali dikunjungi para budak nafsu syahwat untuk memenuhi bujukan syaitan. Dapat kita tebak apa yang mereka kerjakan. Ya, perzinahan menjadi rutinitas harian disana. Tak hanya perzinahan yang menjadi potret kota ini, tapi juga hedonisme (pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup) yang seakan sudah menjadi citra kota Jogja dikalangan anak muda. Hal ini tampak dari berdirinya diskotik-diskotik, club-club malam, dan banyak lagi tempat hura-hura lainnya. Selain gemerlap modernisasi yang menyimpang, ada warna lain yang juga menambah suramnya kota berjuluk kota pelajar ini. Yakni kentalnya adat kejawen yang masih terus langgeng dan dilestarikan. Kejawen adalah sisa-sisa paganisme sebelum masuknya cahaya Islam ke tanah Jawa. Hingga hari ini, paham itu masih dilestarikan khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Paham ini sangat tidak sesuai dan bertentangan dengan paham Islam. Karena Islam berlandaskan tauhid kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Sedangkan pelanggaran-pelanggaran kejawen adalah:
  • Sinkretisme, menyampurkan ajaran Hindu, Budha, dan Islam
  • Syirik, meyakini ada sesembahan dan tempat perlindungan selain Allah. Seperti Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul yang menguasai Laut Kidul, Eyang Petruk penunggu Merapi, Kyai Sapu Jagat, dan banyak ke-syirik-an lainnya.
  • Beribadah kepada selain Allah, dengan mengadakan upacara disertai penyembelihan hewan dan penyerahan sesajen untuk sesembahan selain Allah yang dipercaya mempunyai kekuatan untuk mengendalikan alam.
  • Tidak melaksanakan kewajiban shalat. Bagi penganut kejawen, eling saja sudah cukup sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, jelas ini merupakan bentuk kekafiran kepada Allah sebagaimana sabda Rasul saw: “Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah ra.)

Melihat betapa dilupakannya Allah di negeri ini, maka wajar saja rasanya Allah ‘cemburu’ lalu menimpakan bencana yang dahsyat sebagai peringatan bagi kita semua. Pergaulan bebas, seks bebas, praktek syirik, dan segala macam kesenangan-kesenangan ala syaitan bin iblis harus segera kita tinggalkan. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib ra.: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan bertobat.” (Al-Jawabul Kafi hal. 118)

Maka dari itu, jika kita menginginkan ketentraman dan kesejahteraan dari Allah, tentu kita harus menyikapi bencana ini sebagai pukulan agar kita kembali ke jalan Allah, kembali bersyukur dan senantiasa meng-esa-kan-Nya. Kita harus semakin mendekatkan diri kepada-Nya, bukan justru semakin menduakan Allah dengan menggelar ritual syirik seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Yogyakarta pada senin-8 November untuk menolak bala. Ya, mereka mengadakan upacara adat yang digelar di tugu Yogyakarta, dimulai dengan pertunjukan Tari Srimpi, kemudian menyembelih hewan ternak berupa sapi dan ayam, yang nantinya kepala, kaki, dan ekor dari hewan sembelihan itu ditanam di sekitar Kaliurang, dan dagingnya dibagikan kepada para pengungsi. Na’udzubillahimindzaligh

Walhasil, Merapi justru semakin parah dan semakin memuntahkan isinya yang tak kunjung mereda hingga hari ini. Semua alasan sains yang coba menjelaskan fenomena ini memang terasa logis, tapi bukan hanya itu alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Kita tak boleh mengabaikan perspektif al-Qur’an. Sebagai orang yang beriman, tentu kita memercayai bahwa Allah-lah penggenggam alam semesta ini, tiada satupun yang mampu berkuasa selain Dia. Maka, ketika bencana datang menghampiri kita, pendekatan pertama yag harus kita lakukan tentu adalah dari sudut pandang aqidah. Tiada satu daunpun yang jatuh dimuka bumi ini yang lepas dari pengawasan Allah, artinya tiada satupun kejadian dimuka bumi ini kecuali karena capur tangan Allah. Maka, instropeksilah diri kita. Seperti apa kita terhadap Allah selama ini? Apakah kita termasuk golongan orang beriman yang sabar yng diuji Allah sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Atau kita termasuk hamba Allah yang kufur sebagaimana firman Allah:
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)



Semua berpulang kepada kita, berpulang pada keyakinan dan keimanan kita. Yang pasti, bencana ini adalah teguran dari Allah, maka dari itu, instropeksilah diri kita. Allah hanya mau kita kembali ke jalan yang benar, diinullah tanpa terkotori dengan bid’ah, takhayul, dan khurafat. Allah hanya mau kita istiqomah di jalan yang benar, tanpa terkotori dengan maksiat-maksiat karena terbujuk rayu syaitan. Allah sayang kepada kita, dan semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu mendapat petunjuk hidayah dari-Nya.

Semoga dengan bencana ini, Yogyakarta menjadi bersih dari segala macam bentuk praktek maksiat dan kesyirikan. Semoga dakwah di kota ini semakin bisa ditegakkan, sehingga syariat semakin bisa diagungkan. Dan harapannya, jika seluruh ummat telah beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya iman, meninggalkan ke-15 penyebab bala, dan menjaga diin yang agung ini tetap tegak di tanah keraton, insyaallah tanah ini akan menjadi tanah yang diberkahi Allah sebagaimana firman Allah:

”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al-A’raaf: 96)


Bukan sebaliknya:

”… tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96)

Amin ya Rabbal ‘alamin…

Oleh : ~M.T.Q~
Pada : 11 November 2010 M/4 Dzulhijjah 1431 H

selengkapnya...

Jumat, 29 Oktober 2010

Opini: Jadilah Pemuda Harapan Islam

Islam tidak butuh masa tuamu!
Islam butuh masa mudamu, yang penuh gairah, siap berjuang, dan rela berkorban demi Allah!


Setiap tanggal 28 Oktober di Indonesia diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Tanggal ini dianggap bersejarah karena pada tanggal ini di tahun 1928 Masehi, sebuah gebrakan luar biasa dilakukan oleh pemuda-pemudi Indonesia yakni pendeklarasian sumpah pemuda yang berbunyi :

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

3 sumpah yang diikrarkan oleh perwakilan pemuda-pemudi dari berbagai persatuan pemuda daerah di seluruh Indonesia ini merupakan suatu pendobrak dinding pembatas yang menjadi penghalang bersatunya bangsa Indonesia. Sumpah ini bagai ombak yang menghapus tulisan di pantai. Ya, ia menghapus perpecahan dan menjadi simbol bersatunya seluruh pemuda Indonesia, seluruh rakyat Indonesia. Sumpah ini juga menggentarkan jiwa-jiwa para kompeni, dan sumpah ini menggelegar menggetarkan hati-hati para pejuang kemerdekaan, membakar semangat persatuan dan membawa perubahan besar menuju babak baru dalam merebut kemerdekaan.

Begitu luar biasanya hingga hari diucapkannya ikrar dalam kongres pemuda di Gedung Kramat 106, Waltervreden (sekarang bernama Jakarta) ini kemudian diperingati sebagai hari bersejarah, dan teks ikrarnya tetap menggema dalam jiwa nasionalis rakyat Indonesia hingga hari ini. Tampaknya benarlah ungkapan terkenal dari Bung Karno yang mengatakan, “Beri aku seratus orang tua, maka akan kupindahkan semeru. Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!” Mengapa Bung Karno berkata seperti itu? Karena beliau memandang pemuda memang punya energi luar biasa yang mampu menjungkirbalikkan dunia, mewujudkan mimpi-mimpi, karena pemuda adalah semangat yang harusnya sanggup mewujudkan perubahan dengan kondisinya yang dalam periode keemasan.

Tak hanya dalam semangat nasionalis, dalam Islampun peran pemuda sangatlah dipandang penting. Ungkapan yang saya kutip diawal tadi membawa kita berpikir bahwa demikian berharganya masa muda bagi Islam, hingga dikatakan Islam ‘butuh’ masa muda kita sebagai pemeluknya. Pada dasarnya agama ini tidak pernah membutuhkan siapapun karena Allah-lah yang menjaga keagungan Diin ini. Namun diungkapkan demikian agar kita terprovokasi untuk menyerahkan masa muda kita kepada Diin ini, untuk mengawal kemuliaannya, menjaga kejayaannya, dan mempertahankan kemenangannya. Islam sangat menaruh perhatian pada pemuda. Betapa banyak kisah kemenangan Islam berasal dari pasukan-pasukan yang dipimpin oleh pemuda, lihat saja Muhammad al-Fatih; Shalahuddin al-Ayubi. Banyak shahabat Rasulullah saw. yang juga berasal dari kalangan pemuda, lihatlah Ali bin Abi Thalib; Sa’ad bin Abi Waqqash; Umar bin Abdul Aziz; dan banyak lagi. Lebih dari itu, pemuda saat ini ditempatkan sebagai pilar kebangkitan Islam. Betapa berat amanah menjadi pemuda, namun mengapa kita sebagai pemuda masih bermalas-malasan? Padahal amanah ini nantinya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Ya, Allah akan menanyakan kemana masa muda ini kita habiskan, sebagaimana hadits :

Abdullah bin Mas’ud ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmidzi)

Demikian besarnya karunia Allah berupa ‘masa muda’ ini, hingga harus disampaikan LPJ (Laporan Pertanggungjawaban)-nya dihadapan Allah kelak di yaumil akhir. Sekarang pertanyakanlah diri anda, apa yang sudah anda lakukan di masa muda anda? Apakah dimanfaatkan untuk memenuhi ‘kebutuhan’ Islam? Atau hanya bermain-main dan memuaskan hawa nafsu semata?

Pertanyaan diatas memang tampak sepele, dan mungkin andapun malas untuk menjawabnya. Namun ternyata pertanyaan itu begitu penting untuk mencari tahu sejauh apa anda manfaatkan nikmat luar biasa dari Allah itu. Biarkan kata hati yang menjawab, dan anda akan mengetahui seberapa meruginya anda karena telah membuang masa muda anda dengan sia-sia. Belajarlah dari para pemuda yang hadir di Kongres Pemuda 82 tahun yang lalu. Betapa mereka memanfaatkan masa muda mereka untuk melakukan hal yang luar biasa bagi bangsa ini. Bahkan sebagian kalangan berpendapat bahwa sumpah pemuda adalah bukti otentik telah lahirnya bangsa Indonesia. Amalan merekapun dikenang hingga hari ini, dan menjadi pelajaran yang amat berharga bagi seluruh rakyat lintas generasi. Mereka mampu menggebrak zaman dengan inovasi mereka, mengapa kita tidak bisa. Apa bedanya mereka dengan kita? Mereka pada saat itu adalah pemuda, kitapun pada saat ini adalah pemuda. Indonesia pada saat itu dalam kondisi berpecah-belah, apa bedanya dengan kondisi Islam hari ini? Jika dulu mereka bisa mempersatukan bangsa Indonesia yang kemudian menjadi kunci utama kemerdekaan Negara ini, mengapa kita tidak mampu mempersatukan ummat yang akan menjadi kunci utama kebangkitan Diin mulia ini?

Yang saya sampaikan diatas adalah beberapa bahan pertimbangan bagi kita semua. Betapa gerakan pemuda sangat didambakan Islam saat ini. Bukan gerakan yang hanya mementingkan firqah-nya masing-masing lalu menyalahkan yang lainnya. Namun bagaimana ada satu gerakan yang sinergis dalam berjalan meraih izzatul Islam (kejayaan Islam). Betapa banyaknya pemuda Islam yang meng-azzam-kan dirinya untuk berpartisipasi dalam meraih izzah, namun mereka tak mampu bersatu. Lebih parahnya ternyata jauh lebih banyak pemuda Islam yang larut dalam hedonisme kehidupan dunia. Acuh terhadap agamanya seolah tak ada tanggung jawab baginya untuk menegakkan agama ini. Hai pemuda! Kukatakan padamu, jika kau tak ingin berperan menegakkan agama ini, maka jadilah satu diantara penggugur kewajiban itu! Apakah hilang akal? Atau kembali menjadi anak ingusan? Atau murtad sekalian? Karena Islam tak butuh orang sepertimu!

Kata-kata saya diatas bukan karena amarah, namun karena seperti itu memang lebih baik, daripada kita hanya menjadi pencemar nama Islam. Jika tak ingin menjadi seperti itu, maka berperanlah untuk Islam. Jadikan slogan ‘pemuda sebagai pilar kebangkitan Islam’ tak hanya sekedar impian, namun menjadi kenyataan. Karena memang pemuda memiliki kemampuan untuk itu. Rambut yang hitam lebat, fisik yang masih kuat, nalar yang masih ingat, mata yang masih tajam melihat, punggung yang masih tegap, akan menjadi sia-sia jika hanya digunakan untuk maksiat dan pemuasan syahwat. Semua nikmat ini harus kita manfaatkan. Datangilah majlis-majlis ilmu, bergabunglah dalam harokah, dan berikan sumbangsih terbaikmu untuk Diin ini. Karena sekali lagi, Islam tak butuh masa tuamu! Tapi Islam butuh masa mudamu, yang penuh gairah, siap berjuang, rela berkorban demi Allah. ALLAHUAKBAR!!!

28 Oktober 2010 M/21 Dzulqa'idah 1431 H

Artikel oleh : ~M.T.Q~

selengkapnya...

Kamis, 07 Oktober 2010

Innama'al 'Usri Yusraa

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Suatu hari saya mengendarai motor dan tancap gas ke tempat tujuan. Berharap cepat sampai, ternyata rezeki saya hari itu adalah terjebak dalam kemacetan yang tak berkesudahan (agak berlebihan, hehe). Yaah, kecewa juga saya melihat antrian panjang berderet sepanjang jalan. Saya sudah berpikir bahwa saya akan terlambat sangat banyak sampai tempat tujuan nanti.

Sepertinya matahari pada hari itu moodnya mungkin sedang bagus, karena panasnya sangat terik. Tak ada angin yang berhembus, ooh sudahlah, terasa mendidih sampai ke pori-pori. Keringat mulai bercucuran, ditambah lagi saya mengenakan jaket, tujuannya sih supaya tak kena sinar matahari langsung, tapi malah beralih fungsi jadi alat SPA gratis. Panas-panas begitu paling enak ya... mengkhayal. Membayangkan segelas air putih dingin yang menyegarkan. Dari air putih, mulai berkembang jadi minuman lain. Es sirup lah, cendol lah, es campur lah, dan banyak lagi. Waah segarnya... sedikit hiburan dikala mengantri. hehe.

Dikala mengkhayal, tiba-tiba terbersit dipikiran saya untuk menganalogikan hidup ibarat perjalanan yang sedang saya tempuh. Ya, hidup pun terkadang mengalami ke-macet-an. Tak mudah mencapai tujuan yang diinginkan. Banyak kesulitan yang menanti sepanjang perjalanan kita menuju tempat tujuan. hmm, bicara kesulitan saya jadi teringat ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa innama'al usri yusraa (sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan). Ya, saya jadi kepikiran sebenarnya memang ada kemudahan setiap kali kita menghadapi kesulitan, namun seringkali kita tak memanfaatkan itu.

Kemudahan, menurut saya kemampuan kita dalam menyederhanakan pemikiran kita mengenai permasalahan yang sedang kita hadapi pun adalah salah satu bentuk kemudahan. Seperti reaksi orang-orang yang berbeda-beda dalam menghadapi macet di jalanan. Orang yang mengendarai mobil di sebelah kanan depan saya adalah tipikal orang yang tak menyadari kemudahan itu. Entah sudah berapa kali sejak tadi ia marah-marah dan memaksa mobilnya meraung-raung dan berteriak-teriak dengan klakson. Saya jadi berpikir, kalau kita bersikap seperti itu apa keuntungan yang akan kita dapat? (Mulai berpikir materialistis dengan mencari keuntungan, hehe) Yang ada hanya membuat capek urat syaraf, membuat suasana semakin tak enak, penumpangpun ikut-ikut jadi tak nyaman, polusi suara, waaah banyak mudharatnya pokoknya. Padahal dengan marahpun tak merubah kondisi. Mobilnya tak secara ajaib menghilang dan muncul di luar kemacetan, hehehe.

Ketika kemacetan sudah berangsur sedikit maju, saya bersebelahan dengan mobil lain yang saya pikir pengemudinya mampu memanfaatkan kemudahan itu. Ia tampak asyik bernyanyi sambil sedikit mengangguk-anggukkan kepala dan tangannya memukul-mukul steer mobil seolah itu adalah gendang. Di telinganya tampak headset menempel, mungkin ia sedang mendengarkan berita, eh musik maksudnya, hehehe. Senang juga melihatnya. Yaah, ia menikmati kesulitan yang sedang ia hadapi dan sesungguhnya itulah suatu kemudahan baginya. Bukankah kemacetan juga ada hikmahnya. Seringkali kita tak memperhatikan aktivitas warga sepanjang jalan, kalau tak ada macet kita tak akan bisa belajar dari mereka. Kita tak akan belajar bagaimana perjuangan para pengamen yang memanfaatkan moment macet untuk mengais penghasilan lebih. Bagaimana perjuangan pedagang asongan yang juga punya harapan yang sama dengan si pengamen tadi. Ya, banyak orang yang berharap mendapat keuntungan dengan memanfaatkan kesulitan yang kita hadapi, tapi itu adalah kesempatan kita belajar dan mungkin kesulitan kita adalah kemudahan yang datang dari Allah untuk mereka.

Pada dasarnya, kemudahan itu tergantung bagaimana kita mengatur mindset dalam memandang sebuah problem. Kita sering menganggap masalah itu besar. Ingat kata-kata saya, 'menganggap'. Artinya itu adalah anggapan kita. Sering karena kita lemah, berpikiran buruk, curiga berlebihan, khawatir, dan lain hal sebagainya yang menandakan kelemahan kita maka kita membesar-besarkan masalah yang sebenarnya hanya masalah kecil atau bahkan sebenarnya tidak ada masalah sama sekali.

Masalah, apa itu masalah?
Masalah adalah problem yang disebabkan adanya benturan atau ketidak sesuaian antara apa yang kita inginkan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Solusi adalah jalan tengah antara keduanya, maka carilah jalan itu. Untuk mencari jalan tentu kita tak boleh menutup mata. Bukalah mata kita dengan cara menyikapi suatu permasalahan dengan benar. Ketika kita menyikapi dengan benar, maka disitulah kemudahan akan datang dan kita akan keluar dari masalah yang sedang kita hadapi.

Solusi tak harus muncul seketika itu. Seringkali kita harus bersabar mencari dimana letak solusi. Sebagaimana macet di jalanan tadi juga. Saya selaku pengendara motor pasti akan mencari celah di antara mobil-mobil untuk bisa terus maju keluar dari kemacetan, tapi bukankah celah itu tak terus ada di depan mata saya? Terkadang saya juga terpaksa harus ikut mengantre karena tak ada celah yang bisa saya telusupi. Itu karena kondisi saya yang mengendarai sepeda motor, sehingga lebih banyak celah-celah kecil yang bisa saya lalui. Namun bagaimana kondisinya dengan pengendara mobil? Tentu celah yang bisa dilalui sepeda motor belum tentu bisa pula ia lewati. Dengan ukuran mobil yang jauh lebih lebar, ia tentu membutuhkan celah lebih besar pula untuk bisa lewat. Maka itu, ia terpaksa harus menunggu antrian itu berangsur-angsur maju karena hanya itu cara satu-satunya agar ia bisa keluar dari kemacetan.

Begitulah hidup. Semakin kecil suatu masalah, semakin banyak celah solusi yang bisa kita cari. Namun jika masalah itu besar, maka semakin sulit kita mencari solusi. Namun itu semua memiliki satu kunci yang bisa membawa kita pada kemudahan, yakni kesabaran. Karena yakinlah bahwa Allah SWT tak memberi masalah pada kita tanpa telah disiapkannya jalan keluar untuk kita.

wallahua'lam bishshowab.
afwaminkum wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


~M.T.Q~

selengkapnya...

Senin, 27 September 2010

Ayahanda… Ibunda… Sekarang saya anak ROHIS…

Ya, kata-kata itulah yang senantiasa ingin saya ungkapkan kepada kedua orangtua saya yang saya cintai. Betapa bangga rasanya kalau saja ucap itu tersampaikan kepada mereka lengkap beserta rasa bahagia dan bangga yang menjadi esensinya, namun entah mengapa rasanya ada saja yang menahan kata-kata itu keluar dari bibir pemberian Allah ini. Kalaupun bisa terucap, ia menjadi tak seindah ketika masih berada dalam benak. Tak berhasil merepresentasikan rasa bangga begitu luar biasa dalam hati saya karena saya dipilih Allah SWT menjadi anak ROHIS.

Saya ingin sedikit bernostalgia, dahulu ketika awal saya melangkahkan kaki kelembah putih abu-abu saya tak tahu akan jadi seperti apa. Tak ada gambaran apapun mengenai akan jadi apa saya baik di masa SMA maupun setelahnya. Tapi pikir saya ya sudahlah, toh nantinya semua akan mengalir dan kita ikuti saja aliran itu layaknya air. Di masa-masa awal sekolah, saya hanya menemukan hedonisme dalam kehidupan SMA. Ketawa-ketiwi jadi agenda saya setiap hari. Namun entah apa yang mendasari rasa ini, saya begitu tak nyaman dengan gaya hidup semacam itu. Memang ketawa-ketiwi itu juga sebenarnya hobi saya (hehehe), tapi ada yang hampa rasanya karena kesenangan itu hanya sekedar kesenangan saja, tidak ada yang saya dapatkan kecuali gigi yang kering dan pipi yang pegal. Sejenak juga hilang, tidak berbekas. Hal ini mungkin yang membuat saya berpikir dan membongkar hati saya untuk mencari apa sih maunya ini hati?

Pada suatu masa, ketika saya sedang belajar dalam ruang kelas, masuklah kakak-kakak kelas kedalam ruang kelas saya. Ternyata mereka ingin mempromosikan ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini. Mulai dari pramuka, PMR, basket, dan banyak ekstrakurikuler lainnya mengirimkan perwakilan yang secara bergantian masuk ke ruang-ruang kelas untuk mempromosikan dan mengajak siswa-siswi baru untuk bergabung, tak terkecuali kelas saya juga. Yah ini agenda tahunan mereka, saya sih cuek saja. Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba menghentak saya dari lamunan ketika saya mendengar perwakilan dari ROHIS masuk ke ruang kelas. Ya, ROHIS, nama organisasi ekstrakurikuler yang satu ini memang sudah mengiang-ngiang di benak saya sejak saya mendaftar ke sekolah ini, karena mereka membuat spanduk penyambutan siswa baru dan juga mendirikan stand pusat informasi yang juga menjual alat-alat tulis sehubungan dengan aktifitas pendaftaran. Mereka sudah menarik perhatian saya sejak perdana saya memasuki gerbang sekolah, dan kini saya mendengar mereka membuka peluang bergabung didepan mata kepala saya.

Sontak kesempatan ini tak saya sia-siakan. Bagaikan mendapat bongkahan emas, entah mengapa saya begitu bergairahnya ketika formulir itu disodorkan kepada saya. Tak menunggu lama saya ambil saja dan saya isi formulir itu, keesokan harinya saya kembalikan lagi kepada pengurus. Singkat cerita, akhirnya sayapun resmi bergabung di ROHIS dan artinya saya telah mengangkat sauh perahu untuk mengarungi dunia penuh cabaran dan cobaan, yakni dunia dakwah yang diridhai Allah SWT.

Kebahagiaan yang islami, itulah yang tergambar di kepala saya kalau ditanya apa yang saya harapkan bisa saya dapatkan di ROHIS. Memang benar, dan memang itulah yang saya dapatkan sekarang. Namun tampaknya defenisi ‘kebahagiaan’ antara yang dulu saya harapkan dengan yang sekarang saya dapatkan itu ternyata berbeda. Dulu saya kira yang namanya kebahagiaan hanyalah yah itu tadi, ketawa-ketiwi sana-sini, bersenda gurau dan bermain-main. Namun di ROHIS saya menemukan arti kebahagiaan yang saya pikir inilah makna yang sesungguhnya. Dimana saya mendapatkan teman-teman yang sudah menjadi saudara, yang rela bersama dikala senang maupun susah, dimana saya mendapatkan ilmu dan hikmah dari setiap perjumpaan saya dengan mereka, dimana ada rasa rindu yang luar biasa menggelayuti qalbu ketika tak bisa berjumpa dengan mereka dalam beberapa waktu. Dimana kesusahan justru menghasilkan sebuah kenikmatan yang tiada terukur harganya. Dimana saya belajar menjadi dewasa dan berguna di masyarakat. Ya! Inilah saya! Teriak batin saya yang begitu membahana karena akhirnya saya berada di tempat saya akan menemukan jati diri.

Berbagai macam aktifitas dan kegiatan di ROHIS memang menyita waktu saya. Tapi rasanya itu semua terbayarkan dengan ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan dari waktu yang saya korbankan itu. Bagaimana tidak? Waktu yang saya pergunakan itu diganti Allah dengan ilmu (dari sisi dunianya) dan pahala (dari sisi akhiratnya), karena di ROHIS tak hanya sekedar ber-muamalah, tapi juga beribadah kepada Allah dengan penerapan hukum-hukum-Nya dan pengamalan perintah-Nya, yaitu dakwah ilallah. Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang sangat sayang pada hamba, karena Engkau telah mempertemukan hamba dengan majlis mulia ini. Betapa girangnya hati ini jika mengingat kembali berharganya masa yang kuhabiskan bersama mereka di ROHIS tercinta.

Namun yang namanya hidup, tetap saja tak ada yang gratis. Kebahagiaan itu tentu harus ditebus dengan pengorbanan yang tak kalah dahsyat. Tak hanya waktu yang tadi saya utarakan, tapi juga tenaga, pikiran, perasaan, juga harta. Bahkan kebahagiaan itu harus dicapai dengan menghadapi berbagai cobaan, diantaranya fitnah, dugaan, larangan dari berbagai pihak, bahkan sampai dikucilkan sekalipun, padahal apa yang saya lakukan di ROHIS hanyalah menjalankan kehidupan sesuai Al-Quran dan hadits, namun selalu saja ada pihak-pihak yang tidak menyenanginya. Tampaknya itu sudah sunatullah, tapi hal ini justru menjadi kayu bakar yang akan menyalakan api semangat yang berkobar. Bukankah Allah tidak membiarkan hamba-Nya mengatakan dirinya beriman sebelum Allah mengujinya terlebih dahulu?

Inilah dinamika hidup menjadi anak ROHIS. Menjalani hidup sembari memahami arti perjuangan. Semua perbuatan menjadi karena Allah. Berteman karena Allah, berprestasi dalam belajar karena Allah, beraktifitas karena Allah, karena memang perjuangan ini karena Allah. Bukankah itu indah?

Menjadi anak ROHIS tentunya mendapatkan keuntungan-keuntungan yang saya rasa tak akan mendapatkannya di tempat lain. Jujur saja, saya mampu shalat 5 waktu tanpa bolos sehari semalam itu karena kebiasaan yang dibangun dalam pendidikan di ROHIS, saya mampu membaca, mentadabburi, dan mengamalkan serta mengajarkan Al-Qur’an hari inipun, juga karena pendidikan yang saya dapatkan di ROHIS. Dan banyak lagi amalan saya yang mengalami perbaikan karena ilmu dan kebiasaan yang didapatkan dari keseharian saya di ROHIS. Itu adalah keuntungan ruhiyahnya. Lalu apa keuntungan fikriyahnya? Yah, saya jadi mampu berbicara didepan publik. Berkali-kali saya berhasil memberanikan diri untuk berdiri didepan pasang mata dan telinga, baik itu jumlahnya satuan, puluhan, bahkan ratusan dan ribuan sekalipun. Saya jadi mampu mengerti bagaimana bermasyarakat yang baik. Bersosial dengan teman-teman, guru-guru, keluarga, dan lingkungan sekitar. Selain itu saya juga mendapatkan ilmu organisasi, manajemen, kepemimpinan dan segala macam tata kelola terkait operasional suatu organisasi. Bukankah itu hal yang sangat positif? Apalagi bagi generasi muda yang memang membutuhkan itu semua guna mempersiapkan dirinya menjadi bagian dari masyarakat di kemudian hari.

Tetapi tampaknya sedemikian banyak aspek positif dari ‘ber-ROHIS-ria’ tak menjadi fokus bagi kebanyakan orang tua. Banyak orang tua yang memandang hal-hal tak penting yang sebenarnya itu hanya konsekuensi ringan yang harus dijalani sang anak karena ia mau menjadi orang yang sukses atau itu hanya karena kebiasaan si anak itu sendiri, bukan karena ia berada di ROHIS. Orang tua hanya mempermasalahkan hal-hal seperti jam pulang yang jadi lebih lama dari biasanya, waktu yang banyak tersita diluar, nilai-nilai pelajaran yang merosot, dan hal-hal kecil lainnya.

Seperti permasalahan jam pulang yang lebih lama, anehnya para orangtua tak mempermasalahkan jika anaknya pulang lama karena les bimbingan belajar, alasannya yah barang tentu karena mereka menganggap jika anaknya pulang lama karena bimbel itu adalah alasan yang jelas karena ia belajar disana, tapi kalau di ROHIS tidak jelas ngapain saja kerjaannya. Waduh, ini sungguh pemahaman yang keliru dan menunjukkan tidak adanya perhatian orang tua terhadap anaknya. Siapa bilang anak pasti akan belajar ketika berada di bimbingan belajar? Kebanyakan bimbingan belajar saat ini hanya menjadi ajang bisnis dan tak begitu mempedulikan transfer ilmu yang seharusnya dilakukan. Lihat saja kelasnya yang apa adanya, belum lagi ramainya siswa dalam satu kelas. Apakah kondusif untuk belajar? Siapa yang menjamin kebanyakan anak tidak akan mengobrol ketika dalam kelas bimbingan belajar? Sementara ketika mereka berada di ROHIS, disana mereka pasti belajar. Belajar bukan hanya membaca buku, atau membahas mata pelajaran yang ada di sekolah, atau mengerjakan soal-soal latihan dari buku paket. Tapi bukankah bersosial juga adalah belajar? Bukankah berorganisasi juga adalah belajar? Bukankah beribadah jugapun sesungguhnya adalah proses mendidik diri?

Kita mengerti nilai di sekolah sesungguhnya tak lebih dari sekedar formalitas, yang namanya belajar tentu saja setiap saat, tak hanya di sekolah. Namun dilakukan setiap saat dan di ROHIS kami dibimbing untuk mempelajari sesuatu berlandaskan Quran dan sunnah. Kita juga mengerti bahwa dalam realitanya, pelajaran-pelajaran yang kita dapati di sekolah hanya akan terpakai sekitar 10-15% saja dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan 85-90% adalah soft skill yang itu diasah dalam beraktifitas di ROHIS.

Orang tua juga banyak yang meng-kambinghitam-kan ROHIS ketika nilai pelajaran anaknya menjadi merosot. Sehingga kemudian mereka melarang anaknya untuk terus aktif berkegiatan di ROHIS. Wahai ayahanda, wahai ibunda, janganlah seperti itu. Pahamilah bahwa di ROHIS-pun tidak menyepelekan pelajaran sekolah. Disinipun kami membentuk kelompok belajar dan bersama-sama mendiskusikan pelajaran sekolah. Justru disini kami mendapat pencerahan dan lebih mengerti tentang pelajaran itu. Wahai ayahanda, wahai ibunda, yakinlah meskipun ayahanda bunda melarang kami aktif di ROHIS dengan harapan nilai kami bisa meroket, belum tentu juga harapan itu akan terwujud. Kami hanya akan sama saja atau malah lebih buruk karena dijauhkan dari teman-teman yang selama ini mengajarkan kami dan memotivasi kami.

ROHIS sudah ibaratkan rumah kedua bagi para anggotanya. Disanalah kami bernaung membina ukhuwah dan berjuang demi dakwah. Disanalah tempat menuntut ilmu yang syar’i dan disanalah tempat untuk belajar jadi lebih mandiri. Ayahanda bunda, betapa Allah sayang pada ayah dan bunda. Bukankah ayah bunda senantiasa berdo’a setiap malam kepada Allah memohonkan anak yang sholeh dan mendo’akan serta berbakti kepada kedua orang tuanya? Inilah saya datang kepada ayah bunda. Allah menjadikan saya berjumpa dengan ROHIS karena Allah ingin mengabulkan do’a yang selama ini senantiasa tanpa jemu ayah bunda pintakan kepada Allah SWT. Tahukah ayah, tahukah bunda? Dalam hati saya yang terdalam, sungguh saya ingin ayah bunda mengucap, “Nak, kami bangga padamu.” Sungguh saya berjuang mati-matian di ROHIS ini, mengambil peran di masyarakat agar semua orang tahu, ‘ini loh anaknya bapak fulan dan ibu fulanah adalah anak yang sholeh dan sangat disayangi masyarakat. Ia rajin ke masjid dan berperan di lingkungan kami. Ia juga jadi pemimpin di kalangan kami. Subhanallah, sungguh beruntung mereka mempunyai anak seperti ia.’

Sungguh saya bukan ingin riya’ dan sombong, namun saya hanya ingin membuat ayah bunda bangga, karena bakti itulah yang bisa saya persembahkan kepada ayah bunda yang sangat saya kasihi, sangat saya cintai. Begitu banyak yang telah saya alami di ROHIS ini dan yang akan saya alamipun juga telah menunggu. Motivasi saya ialah karena Allah, karena rasulullah saw, juga karena ayahanda bunda yang saya hormati, kasihi dan cintai.

Demikian tulisan ini saya buat karena saya sangat ingin mengutarakan kepada ayah bunda akan kebanggaan dan kebahagiaan saya di ROHIS, harapan saya, dan motivasi saya. Jika mulut ini sering salah berucap, jika tingkah ini sering salah bertindak, maka saya harap tulisan ini dapat menyampaikan maksud yang saya inginkan ayahanda dan bunda mengetahuinya meskipun saya rasa tetap tidak menggambarkan perasaan saya yang sesungguhnya. Saya mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan, dan saya mohon ampun kepada kedua orang tua saya atas segala kedurhakaan dan kekurangan sebagai seorang anak. Ananda ini masihlah belajar, biarkanlah berkembang karena sesungguhnya sekarang ananda berada di jalan yang benar, yakni jalan dakwah yang akan membimbing kepada Jannah. Do’akanlah ananda tetap istiqomah dan restuilah setiap kali ananda mengambil langkah. Ayahanda bunda, ananda sayang padamu, terima kasih tiada terkira atas pengertian yang selama ini diberikan dan ridhoilah ananda mengambil ROHIS sebagai jalan hidup ananda.

27 September 2010/19 Syawal 1431 H
~M.T.Q~

selengkapnya...

Jumat, 27 Agustus 2010

Setelah Lama Tak Menulis Lagi

Assalamu'alaikum akhi wa ukhti fillah.
Kaifa haluk? Mudah-mudahan selalu dalam rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Beberapa waktu yang lalu ana berjumpa dengan salah seorang adik ana, senang rasanya berjumpa dengan saudara di jalan Allah. Setelah berukhuwah, beliaupun nyeletuk menanyakan ke ana, "kak, kok blognya udah gak aktif lagi?". Mungkin pertanyaan ini sepele dan sekedar basa-basi, tapi ternyata pertanyaan ini seperti percikan air yang menyadarkan ana dari lelap. Hmm... Ana seakan terbangun dari tidur. "Benar juga.", gumam hati ana. Ana tak sadar telah cukup lama vakum dari dunia tulis menulis baik melalui media sederhana seperti blog dan juga melalui media-media lainnya.

Ya Allah, ana lupa bahwa ana punya alat secanggih ini untuk berdakwah. Kenapa ana bisa lupa ya? Mungkin karena terlalu sibuk akhir-akhir ini. Maklum, ana sudah satu bulan ini sedang berada di kota penuh makna bagi ana, yakni Pekanbaru. Kota perjuangan, penuh kenangan, dan tak akan pernah ana lupakan. Kota tempat saudara-saudara seperjuangan bergelut menegakkan syiar agama ini hingga titik darah penghabisan. Kota yang sangat menyenangkan, bukan karena infrastruktur maupun tata kotanya, tapi karena apa yang terdapat di dalamnya, yakni keluarga ana dan juga saudara-saudara ana yang sangat ana cintai karena Allah.

Tapi kalau dibilang sibuk, apakah itu alasan untuk vakum dari dakwah melalui blog ini? Ana sendiri merasa itu bukanlah suatu alasan syar'i yang bisa ana jadikan landasan ngeles dari pertanyaan basa-basi tadi. Ana rasa ana masih punya cukup waktu untuk terus berkarya untuk Allah melalui blog ini setelah ana menyelesaikan aktivitas setiap harinya. Bukankah Allah SWT berfirman :

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (QS. Al-Insyirah : 7)

Maka mengapa ana tidak mengaplikasikan ayat tersebut? Astaghfirullahal'adziim.

Dalam artikel ini, ana ingin berterima kasih kepada adik ana yang telah menyadarkan ana dari suatu kekhilafan. Syukron adikku. Jazakillah khaira jaza. Doakan ana tetap istiqomah dalam jalan dakwah ini apapun yang terjadi, dan semoga engkau dan adik-adikku yang lainnya pun begitu juga. Karena Allah SWT berfirman :

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (QS. Fushshilat : 33)

Dan mari kita terus saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran. Mudah-mudahan Allah selalu merahmati dan meridhai setiap langkah kita semua untuk menegakkan panji-panji Islam di muka bumi. ALLAHUAKBAR.

Afwaminkum. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mahib ats-Tsaqib al-Qeis

selengkapnya...

Jumat, 18 Juni 2010

Untuk Apa Kita Hidup?

SEBUAH TANYA YANG LALAI UNTUK SELALU KITA JAWAB
Sahabatku di jalan Allah…
Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”
Manusia-manusia agung seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad ibn Hanbal, -dan sebutlah nama-nama lainnya dengan bibirmu-. Menurutmu apa yang melebihkan mereka dari diri kita? Sekali lagi, menurutku karena mereka sangat cerdas menjawab pertanyaan ini dengan amal mereka. Hanya itu.

Sahabatku dalam perjuangan…
Suatu ketika, aku diizinkan oleh Allah untuk menyiapkan penerbitan sebuah buku tentang kehidupan seorang mujahid besar abad ini, Syekh Ahmad Yasin rahimahullah. Terus terang harus kuakui, saat membaca buku itu, aku seperti baru saja mengenal mujahid yang lumpuh itu. Aku malu. Dan itu bukan basa-basi. Aku benar-benar malu pada Syekh itu. Menurutmu, dengan sekujur tubuh yang lumpuh seperti itu, apa yang akan engkau lakukan untuk masa depanmu? (Ingatlah, aku tidak sedang bertanya tentang “apa yang akan engkau lakukan untuk ummat ini dengan kelumpuhan seperti itu?”). Mengucilkan diri. Atau mencoba tersenyum dan mencoba bersabar. Bukankah kita patut malu pada Syekh tua itu? Mengapa kita tidak malu, dengan tubuh yang sedemikian sehat ini saja kita tak pernah benar-benar serius memikirkan masa depan ummat, apalagi dengan segala kelumpuhan fisik.
Hari itu, saat aku usai membaca tentang Syekh Ahmad Yasin, aku mencatat dalam pengantarku untuk buku itu kalimat-kalimat berikut:
“’Hidup ini sesungguhnya untuk apa?’. Itulah pertanyaan yang seharusnya bergelayut dalam pikiran dan benak kita sepanjang hari. Tidak untuk apa-apa, hanya sekedar untuk mengingatkan kita, apakah kelak bila kematian menjemput, ada jejak yang patut kita banggakan di hadapan Allah Azza wa Jalla di yaumil hisab. Bukankah hingga usia kehidupan kita sejauh ini, kita masih selalu saja melupakan hal itu? Kilap kemilau dunia terlalu sering membuat kita lalai menyiapkan “jejak-jejak kebaikan” yang menebarkan semerbak wewangian mengagumkan di dunia dan di akhirat kelak.

Banyak orang yang hidup. Dan sudah banyak pula yang beranjak menjemput kematian. Ke mana mereka semuanya pergi? Entahlah. Banyak yang meninggalkan dunia, dan menyisakan jejak-jejak laknat pada generasi berikutnya. Dalam pentas sejarah, nama-nama seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan Musailamah Al-Kadzdzab, adalah nama-nama yang menebarkan aroma laknat dan kejahatan. Sungguh jauh, ya, sangat jauh dengan aroma rahmat yang ditebarkan oleh Musa, Muhammad, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar ibn Al-Khathab dan kafilah yang mengikuti mereka.

Banyak orang yang hidup. Fisik mereka sehat dan sempurna. Tapi saat kematian menghampiri, hampir tak satupun jejak-jejak kebaikan yang dapat dikenang dari mereka. Mereka pergi begitu saja dari dunia ini, tanpa ada yang kehilangan. Ada yang menangisi, tapi hanya untuk beberapa saat. Setelah itu, nama dan jejak mereka tak lagi pernah disentuh. Miris. Tentu saja. Tapi mungkin seperti itulah akhir hayat manusia yang tak pernah bertanya dengan jujur, “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”.

Dulu –tapi belum lama-, seorang pria tua dan lumpuh pernah hidup di antara reruntuhan negri dan bangsanya. Bagi manusia berhati lemah, reruntuhan itu mungkin tak akan pernah menyisakan harapan. Tapi tidak bagi “manusia berjiwa langit” ini. Kekuatan hatinya terlalu perkasa untuk dikalahkan oleh kelumpuhan fisiknya. Lihatlah wajah dan senyumnya! Dari situ saja, engkau akan mendapatkan energi kehidupan. Kekuatan dan energi itulah yang membuatnya menjadi manusia paling ditakuti oleh bangsa paling “cerdik” (baca: cerdas tapi licik) di dunia, Israel. Padahal menggerakkan tangannya saja ia tak sanggup, apalagi menarik pelatuk senjata.

Dan hari itu, 22 Maret 2004, di sebuah subuh yang dingin, pria tua dan lumpuh itu meraih impian tertingginya. Ketakutan Israel yang semakin membuncah mendorong mereka untuk menembakkan rudal dari sebuah helikopter Apache buatan Amerika…hanya untuk membunuh seorang kakek yang bahkan untuk menggerakkan kepalanya saja ia tak sanggup. Subuh yang dingin itu menjadi saksi. Tembok-tembok rumah yang terciprat darah itu pun kelak menjadi saksi, bahwa di tanah itu, seorang “panglima berkursi roda” memenuhi janji Tuhannya.

Ahmad Yasin, nama kakek tua yang lumpuh itu. Ada banyak kata untuknya. Dan buku kecil ini adalah “sedikit kata” tentangnya. Jika hingga detik ini, Anda belum juga menemukan jawaban untuk “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”, bacalah buku ini. Insya Allah, Anda akan mengerti bagaimana seharusnya menjalani hidup, lalu kelak meninggalkan jejak-jejak semerbak di dunia dan di akhirat.” (Pengantar buku Syekh Ahmad Yasin; Syahid yang Membangunkan Ummat , hal.ix-xi)

Sahabatku…
Setiap kali aku membaca kalimat-kalimat yang kutulis sendiri itu, setiap kali itu pula aku perasaan malu dalam jiwaku membuncah. Entah apa yang sanggup kita katakan? Tubuh yang sempurna ini, bukankah kelak ia akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat dengannya? Mata yang indah ini, wajah yang sempurna ini, bibir yang cantik ini, kedua tangan yang lengkap ini, kedua kaki yang tegap melangkah ini; Sahabat, tentang semua nikmat ini, bukankah kita akan dihisab?? Tapi sejauh ini, jejak kebaikan apakah yang telah kita tinggalkan melalui setiap anggota tubuh dan panca indera kita yang luar biasa kenikmatannya itu?
Kita seringkali ditanya, dan jawaban kita pun menjadi klise belaka, “Hidup ini untuk beribadah.” Benarkah? Maksudku, benarkah jawaban itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh meyakininya? Atau mungkin itu hanya menjadi –seperti biasa- pemanis bibir kita saja, terutama karena orang lain sudah terlanjur menganggap kita manusia shaleh kekasih Tuhan? Ah, sudahlah…Ini semakin membuatku malu. Seorang ulama salaf pernah mengungkapkan pada muriid-muridnya –ia heran mengapa mereka begitu betah duduk bersamanya-, “Seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan aroma yang busuk dari para pelakunya, maka pasti kalian tidak akan berlama-lama duduk di majlisku ini.” Demikian ungkapnya. Lalu kita, ya, kita, sahabat, apa yang akan kita katakan?
Sahabatku…
Maka mulailah menghitung jejak-jejak yang tersisa. Dan jangan pernah bosan untuk bertanya di setiap jejak-jejak itu, “Untuk apa aku hidup? Jejak apakah yang nanti akan tertoreh dalam catatan amalku?” Ingatlah, di kehidupan abadi itu sudah pasti kita tidak akan bersama lagi. Karena aku dan kau, setiap kita hanya akan mempertanggungjawabkan semua secara sendiri-sendiri. Yah, sendiri-sendiri. Tidak ada ayah, ibu, anak, istri, saudara atau sahabat seperjuangan. Hanya aku sendiri. Dan engkau pun sendiri. Sungguh menakutkan. Dan terlalu mencekam.

Oleh : Al-Ustadz Ridwan Hamidi, Lc.
Diposting oleh : MTQ

selengkapnya...