Mohon Maaf Kepada Seluruh Pembaca, Karena Kesibukan Admin Blog Ini Jadi Jarang Update. Insyaallah Kedepannya Akan Lebih Sering Update Demi Kelangsungan Dakwah.
________________
Tampilkan postingan dengan label Sirah Shahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Shahabat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

Kisah Ka'ab bin Malik

PENGANTAR:

Saudaraku, sebelum memulai kisah, ana ingin bertanya pada antum, pernahkah antum mendapatkan iqob (sanksi)? Dan adakah yang pernah mendapatkan iqob berupa peng-off-an sementara dari aktivitas harakah (gerakan) karena kesalahan kita? Jika iya, lalu apa perasaan antum? Marahkah? Sedihkah? Senangkah?

Saudaraku, ana sendiripun pernah terkena iqob berupa di-off-kan sementara dari aktivitas harakah. Dan pada saat itu reaksi ana adalah marah serta tidak terima. Iqob berupa peng-off-an sementara adalah termasuk ke dalam iqob berat, dan ana tidak terima iqob itu dikenakan pada ana oleh Murobbi ana. Karena iqob itu, komunikasi ana dengan beliau sempat tak baik. Ana jadi berpikir iqob macam apa ini yang membuat ana malah jadi menjauh dari aktivitas dakwah? Apa yang dipikirkan Murobbi ana itu? Dan bahkan ana sempat ber-su'udzan kepada Murobbi ana tersebut (Astaghfirullah).

Namun semua berubah drastis ketika suatu masa ana membaca kisah tentang Ka'ab bin Malik. Ana bagai tertampar hingga bangun di tengah lelap. Seperti apakah kisah Ka'ab bin Malik hingga bisa menghapus semua keraguan dan su'udzan ana terhadap iqob yang diberikan? Seperti apakah kisah itu hingga bisa menghapus rasa marah dan kecewa ana kepada sang Murabbi berubah menjadi rasa bersalah dan kagum pada beliau?

Mari bersama kita simak kisahnya dalam catatan ini. Simaklah dengan baik karena hikmahnya amatlah banyak. Semoga Allah meridhai apa yang sedang kita kerjakan.



KISAH KA'AB BIN MALIK :

Ibnu Ishaq menceritakan, "Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri menuturkan kisah dari Abdur Rahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik, bahwa Abdullah bin Ka'ab bin Malik dan dua shahabatnya menceritakan kisah ketidak-ikutsertaannya bersama Rasulullah saw. dalam perang Tabuk. Ia berkata, "Aku tidak pernah tertinggal dari peperangan yang diikuti Rasulullah saw., kecuali perang Badar."

"Mengenai perang Badar, Allah dan Rasul-Nya tidak mempersalahkan orang yang tidak mengikutinya, karena Rasulullah saw. hanya keluar untuk menghadang kafilah Quraisy. Tetapi dalam peristiwa tersebut Allah berkehendak mempertemukan Rasul-Nya dengan musuh, tanpa ada perjanjian terlebih dahulu. Akan tetapi, aku mengikuti Bai'atul Aqabah bersama Rasulullah saw., saat kami bersumpah setia untuk membela dan memperjuangkan Islam. Aku tidak suka andaikata kedudukan Bai'atul Aqabah diganti dengan perang Badar, meskipun perang Badar lebih dikenang manusia."

Ka'ab menyambung kisahnya dengan mengatakan, " Ketika aku tertinggal dari Rasulullah saw. dalam perang Tabuk, aku berada dalam kondisi kuat dan lebih muda dari sebelumnya. Demi Allah, tidak pernah terkumpul dua kendaraan sekaligus untukku seperti saat menjelang perang Tabuk ini. Biasanya Rasulullah saw. merahasiakan informasi peperangan yang ingin dilakukan. Namun itu tidak dilakukan Rasulullah pada menjelang perang Tabuk.

Peperangan ini terjadi pada musim yang amat panas, perjalanan yang akan ditempuh sangat jauh, dan musuh yang dihadapi banyak jumlahnya. Karena itu, Rasulullah menjelaskan rencananya secara terus terang, dan memberitahukan target sasaran yang hendak dituju kepada umatnya, agar mereka dapat mempersiapkan diri seoptimal mungkin. Jumlah kamu muslimin yang mengikuti Rasulullah saw. amat banyak, tetapi tak tercatat dalam sebuah dokumen. Karenanya, orang-orang yang membelot beranggapan bahwa ketidak-ikutsertaan dalam perang tersebut tidak akan terdeteksi, kecuali bila Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya."

Ka'ab melanjutkan kisahnya, " Rasulullah saw. berangkat perang saat musim buah, udara sejuk, dan pohon-pohon melambai untuk 'merayu' manusia agar bersantai ria dibawah teduhnya. Rasulullah saw. telah berkemas-kemas dan kaum muslimin mengikutinya. Aku pun berniat untuk berkemas dan bergegas pulang. Tetapi sesampai di rumah, aku tak melakukan apa-apa. Bahkan, aku berbisik dalam hati, "Aku mampu melakukan semua itu dengan mudah bila aku mau."

Hal itu terus menerus menggodaku sampai kaum muslimin lainnya bangkit dengan penuh kesungguhan. Keesokan harinya Rasulullah saw. dan kaum muslimin berangkat, sedang aku belum menyiapkan apa-apa. Bahkan aku berkata dalam diriku, "Aku akan bersiap-siap setelah sehari atau dua hari dari keberangkatan Rasul, dan aku akan mampu menyusul mereka."

Ketika Rasulullah dan kaum muslimin telah benar-benar meninggalkan Madinah, aku pulang untuk menyiapkan perbekalan. Tetapi sesampai di rumah, tiada sesuatu pun yang kulakukan. Demikian pula pada hari berikutnya. Hal itu selalu menggodaku hingga kaum muslimin semakin jauh dan peperangan terlewatkan olehku. Saat itu aku bertekad berangkat untuk menyusul mereka. Alangkah beruntung seandainya aku betul-betul melaksanakannya, tetapi hal itu juga tidak kulakukan.

Selepas keberangkatan Rasulullah saw. aku berjalan-jalan mengitari pemukiman penduduk Madinah. Dan alangkah sedihnya hatiku, karena tak seorang pun yang kulihat, kecuali orang-orang yang dikenal kemunafiqannya, atau orang-orang lemah yang diberi kelonggaran oleh Allah untuk tidak mengikuti peperangan.

Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku hingga sampai di Tabuk. Tetapi ketika duduk di hadapan kamu Muslimin di Tabuk, beliau bertanaya kepada mereka, "Apa yang dilakukan Ka'ab bin Malik?" Seorang dari Bani Salamah menjawab, "Ya Rasulullah, ia tertahan oleh selimutnya dan memandangi kedua istrinya." Mu'adz bin Jabal berseru kepada orang tersebut, "Alangkah buruk apa yang engkau ucapkan itu. Demi Allah, ya Rasulullah, kami tidak mengetahui dari dirinya kecuali kebaikan." Kemudian Rasulullah saw. diam.

Ketika kabar kepulangan Rasulullah saw. sampai ke telingaku, kesedihan hadir mengusik jiwaku dan terlintaslah rencana untuk berbohong kepadanya. Aku mulai memikirkan cara yang dapat menghindarkan diri dari kemurkaan Rasulullah saw., dan meminta bantuan orang-orang berpengalaman dari keluargaku untuk menyukseskan rencana busuk itu. Akan tetapi ketika dikabarkan bahwa Rasulullah saw. hampir tiba di Madinah, hilanglah rencana busuk itu dari benakku. Aku menyadari bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan dari kemurkaan beliau, kecuali kejujuran. Maka itu, aku bertekad untuk jujur padanya.

Rasulullah saw. tiba di Madinah pada waktu pagi. Dan biasanya, bila kembali dari suatu perjalanan beliau menuju masjid terlebih dahulu, lalu melakukan shalat dua rakaat, lalu duduk menemui umat. Ketika Rasulullah saw. melakukan hal itu, para pembelot yang jumlahnya delapan puluh lebih hadir untuk menemuinya. Mereka bersumpah dan mengemukakan alasan masing-masing. Rasulullah saw. menerima pernyataan dan sumpah mereka, lantas memohonkan ampun untuk mereka, kemudian menyerahkan apa yang tersimpan dalam hati mereka kepada Allah swt.

Aku juga datang dan memberi salam kepada Rasulullah saw., akan tetapi beliau tersenyum sinis dan berkata kepadaku, "Kemarilah!" Aku menghampiri dan duduk di hadapannya, lalu beliau bertanya kepadaku, "Apa yang menyebabkanmu tertinggal? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?"

Aku menjawab, "Ya Rasulullah, demi Allah, seandainya aku duduk di hadapan seseorang selain engkau, tentu aku akan dapat terbebas dari kemarahannya dengan mengutarakan alasan, karena aku dikaruniai kelihaian berdebat. Demi Allah, engkau akan ridha kepadaku sekiranya aku berbohong. Akan tetapi, Allah pasti akan membuat engkau murka kepadaku. Sebaliknya, bila aku mengatakan secara jujur, maka engkau akan murka kepadaku. Meski demikian aku tetap mengharapkan kesudahan yang baik dari Allah. Demi Allah, tidak ada suatu udzur pun untukku saat engkau memerintahkan untuk berperang. Demi Allah, saat tertinggal aku berada dalam kondisi lebih kuat dan lebih muda dari hari-hari sebelumnya."

Mendengar hal itu Rasulullah saw. berkata, "Engkau telah berkata jujur dalam hal ini, maka bangkitlah sampai Allah memberikan keputusan-Nya kepadamu."

Aku pun segera bangkit meninggalkan Rasulullah saw., lalu beberapa orang dari Bani Salamah menyusulku dan berkata kepadaku, "Demi Allah, kami belum pernah mengetahuimu berbuat kesalahan sebelum ini. Sungguh engkau begitu lemah, tidak meminta maaf kepada Rasulullah seperti yang dilakukan oleh para pembelot lainnya. Padahal kesalahanmu itu akan dihapus dengan permintaan ampun oleh Rasulullah saw."

Mereka terus membujukku hingga aku mau kembali ke hadapan Rasulullah untuk membatalkan pernyataan yang telah kuucapkan tadi. Untuk meyakinkan perasaanku, kemudian aku bertanya kepada mereka, "Apakah ada orang lain selain aku, yang mengalami nasib sepertiku?" Mereka menjawab, "Ya, ada dua orang yang berkata seperti yang telah engkau katakan tadi."

Aku bertanya lagi, "Siapa mereka itu?" Mereka menjawab, "Murarah bin Ar-Rabi'ah Al-'Amry dari Bani 'Amr bin 'Auf dan Hilal bin Abi Umayah Al Waqify."

Kedua orang ini adalah orang-orang shalih yang menjadi teladan, maka aku pun terdiam ketika mereka menyebutkan dua nama tersebut. Dan, Rasulullah melarang kaum Muslimin berbicara dengan kami bertiga yang tidak menyertai beliau. Maka, mereka pun menjauh dan berubah sikap terhadap kami bertiga, hingga rasanya diriku dan bumi ini telah berubah. Seolah bumi yang kupijak ini bukan lagi dunia tempat aku hidup.

Yang menyedihkan lagi, keadaan seperti itu berlangsung sampai lima puluh malam. Selama itu dua sahabat yang senasib denganku berdiam diri di rumah. Sementara aku yang lebih muda dan kuat dari mereka tetap keluar, turut menunaikan shalat bersama kaum Muslimin, dan berkeliling pasar. Namun, yang kudapatkan tak seorangpun mau berbicara denganku. Betapa sedihnya hatiku.

Suatu hari, aku mendatangi Rasulullah saw. saat beliau duduk di majelisnya seusai melakukan shalat. Lantas aku mengucapkan salam kepadanya sambil memperhatikan apakah Rasulullah saw. menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak. Kemudian, aku melakukan shalat dekat sekali dengan beliau, sambil mencuri pandang. Ketika aku mulai mengerjakan shalat ia memandangiku namun ketika aku menoleh ke arahnya beliau segera berpaling.

Aku merasakan betapa lamanya kaum Muslimin memutuskan hubungan denganku, sehingga aku tidak tahan. Hingga akhirnya, aku memanjat pagar rumah sepupuku dan orang yang sangat kucintai, yakni Abu Qatadah. Kemudian aku memberi salam kepadanya, akan tetapi, demi Allah dia tidak menjawab salamku. Maka, aku berkata kepadanya, "Wahai Abu Qatadah, aku bersumpah dengan nama Allah kepadamu. Bukankah aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Namun, Abu Qatadah tetap diam membisu. Aku mengulangi ucapanku, akan tetapi ia tetap tidak mau menggerakkan bibirnya. Aku mengulangi ucapanku, dan ia tetap membisu. Ketika kuulangi sekali lagi ucapanku, baru saudaraku itu menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."

Mendengar jawaban itu tak terasa air mataku bercucuran. Lalu, aku meloncat menaiki pagar dan berjalan menuju pasar. Ketika aku sedang berjalan-jalan di pasar, tiba-tiba ada orang asing bertanya tentang diriku pada rombongan orang Syam yang biasa berjualan gandum di Madinah. "Siapa bersedia menunjukkanku kepada Ka'ab bin Malik?", kata orang asing itu. Lalu, orang-orang menunjukkannya kepadaku. Maka, ia menemuiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan kepadaku.

Surat itu ditulis sobekan sutera yang bunyinya, "Amma ba'd. Kami mendengar bahwa sahabatmu telah mengucilkan dirimu, padahal Allah tidak menjadikanmu di tempat yang hina dan sia-sia. Karena itu bergabunglah bersama kami, kami akan menolongmu". Maka aku berkata kepada diriku, "Ini juga fitnah." Lalu, aku menuju tungku untuk membakar surat tersebut.

Keadaan seperti itu kami alami sampai empat puluh malam. Tiba-tiba utusan Rasulullah saw. datang kepadaku dengan membawa instruksi baru, "Rasulullah saw. menyuruh agar engkau menjauhi istrimu." Tentu saja aku terkejut dan bertanya kepadanya, "Aku menceraikannya atau bagaimana?" Ia menjawab, "Tidak, tapi jauhilah dan jangan mendekatinya!" Rasulullah saw. juga mengutus utusan kepada dua orang sahabatku dengan perintah yang sama. Maka aku berkata kepada istriku, "Pulanglah ke rumah orang tuamu dan tinggallah bersama mereka sampai Allah memberikan keputusan apa saja yang Dia kehendaki mengenai masalah ini."

Istri Hilal bin Umayah datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin Umayah sudah tua dan tidak ada yang melayaninya, apakah engkau mengizinkan aku melayaninya?" Rasulullah saw. menjawab, "Boleh, akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu (berhubungan intim)." Istri Hilal berkata, "Demi Allah, ya Rasulullah, dia tidak mempunyai gairah sedikitpun kepadaku. Demi Allah, dia selalu menangis sejak peristiwa itu sampai hari ini, hingga aku khawatir ia akan menjadi buta."

Ka'ab berkata, "Sebagian keluarga berkata kepadaku: 'Mengapa engkau tidak memintakan izin istrimu kepada Rasulullah saw., padahal Rasulullah saw. telah memberikan izin kepada istri Hilal bin Umayah untuk melayaninya." Aku menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan memintakan izin untuk isteriku, aku tidak mengerti apa yang akan dikatakan Rasulullah saw. bila aku meminta izin tentang hal ini, karena aku seorang laki-laki yang masih muda."

Keadaan seperti ini kami alami selama sepuluh hari, hingga genaplah lima puluh hari dari sejak Rasulullah melarang kaum Muslimin berbicara dengan kami.

Pada suatu pagi di hari yang kelima puluh aku melakukan shalat shubuh di rumah, dan keadaan kami persis seperti yang telah disebutkan oleh Allah: bumi yang luas ini terasa sempit bagiku, bahkan aku sendiri merasakan sesak di dadaku. Ketika aku sedang berada di kemah yang kubangun di sebuah perbukitan, aku mendengar suara orang berteriak dengan keras dari balik bukit, "Hai Ka'ab bin Malik, bergembiralah!" Maka aku langsung bersujud, dan aku tahu bahwa jalan keluar telah tiba (Allah telah menerima taubat mereka)."

Dan, memang benar bahwa Rasulullah saw. mengumumkan penerimaan taubat ketiga orang yang telah tertinggal dari perang Tabuk ini, setelah shalat shubuh. Orang-orang pun ramai mendatangiku memberikan kabar gembira itu. Demikian juga yang terjadi pada kedua sahabat yang senasib denganku, mereka didatangi para sahabat lainnya.

Selepas shubuh, tampak seorang laki-laki menaiki kudanya, lalu melesat menuju tempat tinggalku. Tak cuma itu, dari arah lain juga tampak seorang dari Aslam berupaya mencapai perbukitan, sambil meneriakkan kabar gembira untukku itu. Suaranya melengking hingga lebih cepat sampai ke telingaku, ketimbang orangnya.

Ketika pemilik suara yang membawa kabar gembira sampai kepadaku, kabar gembira sampai kepadaku, aku langsung melepaskan dua pakaianku dan memakaikannya apda orang tersebut. Padahal, saat itu aku tidak memiliki pakaian selain dua lembar itu. Maka itu, aku terpaksa meminjam dua pakaian kepada keluargaku untuk kukenakan, lalu berangkat menuju Rasulullah saw. Sesampai di tempat yang kutuju, orang-orang menyambutku dengan memberi berita gembira yang mengharukan itu. Mereka berkata, "Selamat atas diterimanya taubat Anda oleh Allah."

Tak mau menyia-nyiakan waktu, begitu sampai, aku segera masuk masjid untuk menemui Rasulullah. saat itu Rasulullah saw. tampak sedang duduk di tengah-tengah para sahabat, tiba-tiba Thalhah bin 'Ubaidillah berdiri untuk memberi salam dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tak ada seorangpun dari kalangan muhajirin yang berdiri kecuali Thalhah. Itu sebabnya, saya tidak pernah melupakan Thalhah dengan peristiwa tersebut."

Ka'ab meneruskan kisahnya, "Ketika aku memberi salam kepada Rasulullah saw. beliau mengatakan kepadaku dengan wajah berseri-seri, "Bergembiralah dengan hari terbaik sejak engkau dilahirkan oleh ibumu." Aku bertanya kepada Rasulullah, "Apakah berita gembira hari ini darimu atau dari Allah, wahai Rasulullah?"

"Dari Allah.", jawab Rasulullah saw. dengan wajah yang berseri-seri bak sekeping bulan, lantaran merasa bergembira. Ketika aku duduk di hadapan Rasulullah saw. aku berikrar, "Ya Rasulullah, sebagai bukti taubatku kepada Allah, maka aku lepaskan seluruh hartaku sebagai shadaqah untuk Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah saw. pun menjawab, "Tahanlah sebagian hartamu, dan itu lebih baik bagimu."

Aku berkata, "Aku akan menahan bagianku yang ada di Khaibar, ya Rasulullah." Lalu aku meneruskan ikrarku, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkanku sebab kejujuran. Dan sebagai bukti taubatku kepada Allah, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur sepanjang hayatku."

Ka'ab berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang diuji oleh Allah karena kejujurannya, semenjak aku berlaku jujur pada Rasulullah saw. Demi Allah, sejak peristiwa itu hingga hari ini, aku tidak punya niat untuk berdusta sedikit pun. Aku berharap, semoga Allah senantiasa menjagaku pada sisa-sisa umurku."

Berkenaan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan wahyu-Nya,

"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (At-Taubah : 117-119)

Ka'ab berkata, "Demi Allah, tidak ada satu pun nikmat yang diberikan Allah kepadaku sejak aku mendapat hidayah yang lebih besar dan berkesan dalam jiwaku dibanding kejujuranku kepada Rasulullah saw. Andaikan saat itu aku berdusta, maka pasti akan binasa seperti mereka yang telah berdusta. Allah swt. berfirman tentang mereka yang berdusta dengan kata yang amat pedas,

"Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahanam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu rida kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu rida kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rida kepada orang-orang yang fasik itu." (At-Taubah : 95-96)

Ka'ab berkata, "Kami bertiga diselamatkan dari urusan mereka yang alasan diterima dan dimohonkan ampunan oleh Rasulullah saw. karena bersumpah. Rasulullah saw. menangguhkan urusan kami, sehingga Allah memberi keputusan tentangnya. Dalam firman-Nya Allah menjelaskan,

"dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (At-Taubah : 118)

Jadi, penangguhan yang disebutkan oleh Allah itu tidak disebabkan oleh pembelotan kami dari peperangan, tetapi semata-mata karena ditangguhkan dari perbuatan orang-orang yang gemar beralasan dan bersumpah di hadapan Rasulullah, hingga beliau menerima alasan mereka."


HIKMAH DARI KISAH DIATAS :

* Ka'ab menyadari bahwa yang ia lakukan adalah kesalahan dan patut untuknya sebuah hukuman
* Kejujuran itu amatlah penting
* Iqob berupa peng-off-an sementara merupakan metode Rasulullah saw. untuk mendidik sahabatnya yang membuat kesalahan fatal, dan itu beliau terapkan serta terbukti berhasil
* Ketabahan Ka'ab bin Malik dalam menjalani iqob tersebut karena kecintaannya pada Allah saw. dan Rasulullah saw.
* Ketaatan kaum muslimin dalam mentaati instruksi Rasulullah saw. untuk tidak berbicara dengan Ka'ab menunjukkan kekompakan umat Islam pada saat itu
* Ketika taubat Ka'ab diterima, lantas ia bersungguh-sungguh untuk benar-benar membuktikan bahwa dirinya telah berubah dan tidak akan mengulangi kesalahannya lagi


Diambil dari buku "Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah" karya asy-Syaikh Fathi Yakan, terbitan Al-I'tishom-Jakarta Timur.

~M.T.Q~

selengkapnya...

Sabtu, 30 Oktober 2010

Sirah Shahabat : Sa’ad bin Abi Waqqash

Singa Yang Menyembunyikan Kukunya

Berita yang datang secara beruntun menyatakan serangan licik yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata Persi terhadap Kaum Muslimin, amat menggelisahkan hati Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab... Disusul kemudian dengan berita, tentang pertempuran Jembatan, di mana empat ribu orang pihak Kaum Muslimin gugur sebagai syuhada dalam waktu sehari, begitu pun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Irak terhadap perjanjian-perjanjian, yang mereka perbuat, serta ikrar yang telah mereka akui..., menyebabkan khalifah mengambil keputusan untuk pergi dan memimpin sendiri tentara Islam dalam perjuangan bersenjata yang menentukan, melawan Persi.

Bersama beberapa orang shahabat dan dengan menunggang kendaraan, berangkatlah ia dengan meninggalkan Ali Karamallahu Wajhah di Madinah sebagai wakilnya. Tetapi belum berapa jauh dari kota sebagian anggota rombongan berpendapat dan mengusulkan agar ia kembali dan memilih salah seorang di antara para shahabat untuk melakukan tugas tersebut. Usul ini diprakarsai oleh Abdurrahman bin 'Auf yang menyatakan bahwa menyia-nyiakan nyawa Amirul Mu'minin dengan cara seperti ini, sementara Islam sedang menghadapi hari-harinya yang menentukan, adalah perbuatan yang keliru. Umar pun menyuruh Kaum Muslimin berkumpul untuk bermusyawarah dan diserukanlah "Asshalata jami'ah"; sementara Ali dipanggil datang; yang bersama beberapa orang penduduk Madinah berangkat menuju tempat perhentian Amirul Mu'minin. Akhirnya tercapailah persetujuan sesuai dengan apa yang diusulkan oleh Abdurrahman bin 'Auf, dan peserta musyawarah memutuskan agar Umar kembali ke Madinah dan memilih seorang panglima lain yang akan memimpin peperangan menghadapi Persi. Amirul Mu'minin tunduk pada keputusan ini, lalu menanyakan kepada para shahabat, siapa kiranya orang yang akan dikirim ke Irak itu. Mereka sama tertegun dan berfikir.

Tiba-tiba berserulah Abdurrahman bin 'Auf, "Saya telah menemukannya." "Siapa dia?" tanya Umar. Ujar Abdurrahman, "Singa yang menyembunyikan kukunya, yaitu Sa'ad bin Malik az Zuhri!" Pendapat ini disokong sepenuhnya oleh Kaum Muslimin, dan Amirul Mu'minin meminta datang Sa'ad bin Malik az-Zuhri yang tiada lain Sa'ad bin Abi Waqqash. Lalu diangkatnya sebagai Amir atau Gubernur Militer di Irak yang bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai panglima tentara.

Nah, siapakah dia singa yang menyembunyikan kukunya itu? Dan siapakah dia yang bila datang kepada Rasulullah ketika berada di antara shahabat-shahabatnya; akan disambutnya dengan ucapan selamat datang sambil bergurau, sabdanya: "Ini dia pamanku...! Siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?" Itulah dia Sa'ad bin Abi Waqqash! Kakeknya ialah Uhaib, putera dari Manaf yang menjadi paman dari Aminah ibunda dari Rasulullah saw.

Sa'ad masuk Islam selagi berusia l7 tahun, dan keislamannya termasuk yang terdahulu di antara para shahabat. Hal ini pernah diceritakannya sendiri, katanya, "Pada suatu saat saya beroleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam." Maksudnya bahwa ia adalah salah seorang di antara tiga orang yang paling dahulu masuk Islam. Maka pada hari-hari pertama Rasulullah menjelaskan tentang Allah Yang Esa dan tentang Agama baru yang dibawanya, dan sebelum beliau mengambil rumah al-Arqam untuk tempat pertemuan dengan shahabat-shahabatnya yang telah mulai beriman, Sa'ad bin Abi Waqqash telah mengulurkan tangan kanannya untuk bai'at kepada Rasulullah saw.

Sementara itu buku-buku tarikh dan riwayat menceritakan kepada kita bahwa ia termasuk salah seorang yang masuk Islam bersama dan atas hasil usaha Abu Bakar. Boleh jadi ia menyatakan keislamannya secara terang-terangan bersama orang-orang yang dapat diyakinkan oleh Abu Bakar, yaitu Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin 'Auf dan Thalhah bin 'Ubaidillah. Dan ini, tidak menutup kemungkinan bahwa ia lebih dulu masuk Islam secara sembunyi-sembunyi.
Banyak sekali keistimewaan yang dimiliki oleh Sa'ad ini, yang dapat ditonjolkan dan dibanggakannya. Tetapi di antara semua itu dua hal penting yang selalu menjadi dendang dan senandungnya. Pertama, bahwa dialah yang mula-mula melepaskan anak panah dalam membela Agama Allah, dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Dan kedua, bahwa dia merupakan satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Bersabdalah Rasulullah saw di waktu perang Uhud:

"Panahlah hai Sa'ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu!"

Memang! Kedua ni'mat besar ini selalu menjadi dendangan Sa'ad buah syukurnya kepada Allah. Katanya, "Demi Allah sayalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah..!" Dan berkata pula Ali bin Abi Thalib, "Tidak pernah saya dengar Rasulullah menyediakan ibu bapaknya sebagai jaminan seseorang, kecuali bagi Sa'ad. Saya dengar beliau bersabda waktu Perang Uhud:

"Panahlah, hai Sa'ad Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu!"

Sa'ad termasuk seorang kesatria berkuda Arab dan Muslimin yang paling berani. Ia mempunyai dua macam senjata yang amat ampuh, yaitu panahnya dan do'anya. Jika ia memanah musuh dalam peperangan, pastilah akan mengenai sasarannya, dan jika ia menyampaikan suatu permohonan kepada Allah pastilah dikabulkan-Nya. Menurut Sa'ad sendiri dan juga para shahabat- nya, hal itu adalah disebabkan do'a Rasulullah juga bagi pribadinya. Pada suatu hari ketika Rasulullah menyaksikan dari Sa'ad sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di hati beliau, diajukannyalah do'a yang maqbul ini:

"Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya, dan kabulkanlah do'anya."

Demikianlah ia terkenal di kalangan saudara-saudara dan handai tolannya bahwa do'anya tak ubah bagai pedang yang tajam. Hal ini juga disadari sepenuhnya oleh Sa'ad sendiri, hingga ia tak hendak berdo'a bagi kerugian seseorang, kecuali dengan menyerahkan urusannya kepada Allah Ta'ala. Sebagai contoh ialah peristiwa yang diriwayatkan oleh 'Amir bin Sa'ad.

"Sa'ad mendengar seorang laki-laki memaki 'Ali, Thalhah dan Zubair. Ketika dilarangnya, orang itu tak hendak menurut. Maka katanya, 'Kalau begitu saya do'akan kamu kepada Allah' Ujar laki-laki itu, 'Rupanya kamu hendak menakut-nakuti aku, seolah-olah kamu seorang Nabi.' Maka Sa'ad pun pergi wudlu dan shalat dua raka'at. Lalu diangkatlah kedua tangannya, katanya, 'Ya Allah, kiranya menurut ilmu-Mu laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah beroleh kebaikan dari-Mu, dan tindakan mereka itu mengundang amarah murka-Mu, maha mohon dijadikan hal itu sesuatu pertanda dan suatu pelajaran...!” Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari salah satu pekarangan rumah, muncul seekor unta liar dan tanpa dapat dibendung masuk ke dalam lingkungan orang banyak seolah-olah ada yang dicarinya. Lalu diterjangnya laki-laki tadi dan dibawanya ke bawah kakinya, serta beberapa lama menjadi bulan-bulanan injakan dan sepakannya hingga akhirnya tewas menemui ajalnya..!"

Kenyataan ini pertama kali mengungkapkan kebeningan jiwa, kebenaran iman dan keikhlasannya yang mendalam. Begitu pula Sa'ad, jiwanya adalah jiwa merdeka, keyakinannya keras membaja serta keikhlasannya dalam dan tidak bernoda. Dan untuk menopang ketaqwaannya ia selalu memakan yang halal, dan menolak dengan keras setiap dirham yang mengandung syubhat.

Dalam kehidupan akhirnya Sa'ad termasuk Kaum Muslimin yang kaya dan berharta. Waktu wafat, ia meninggalkan kekayaan yang tidak sedikit. Tapi kalau biasanya harta banyak dan harta halal jarang sekali dapat terhimpun; maka di tangan Sa'ad hal itu telah terjadi. Ia dilimpahi harta yang banyak, yang baik dan yang halal sekaligus. Di samping itu ia dapat dijadikan seorang mahaguru pula dalam soal membersihkan harta. Dan kemampuannya dalam mengumpulkan harta dari barang bersih lagi halal, diimbangi bahkan mungkin diatasi oleh kesanggupan menafqahkannya di jalan Allah.
Ketika Hajji Wada', Sa'ad ikut bersama Raisulullah saw. Kebetulan ia jatuh sakit, maka Rasulullah datang menengoknya.

Tanya Sa'ad, "Wahai Rasulullah, saya punya harta dan ahli warisku hanya seorang puteri saja. Bolehkah saya shadaqahkan dua pertiga hartaku?" "Tidak," jawab Nabi. "Kalau begitu, separohnya?" tanya Sa'ad pula. "Jangan," ujar Nabi. "Jadi, sepertiganya?" "Benar," ujar Nabi, "Dan sepertiga itupun sudah banyak. Lebih baik anda meninggalkan ahli waris dalam keadaan mampu daripada membiarkannya dalam keadaan miskin dan menadahkan tangannya kepada orang lain. Dan setiap nafqah yang anda keluarkan dengan mengharap keridlaan Allah, pastilah akan diberi ganjaran, bahkan walau sesuap makanan yang anda taruh di mulut isteri anda!"

Beberapa lama Sa'ad hanya mempunyai seorang putri. Tetapi setelah peristiwa di atas, ia beroleh lagi beberapa orang putera.

******

Karena takutnya kepada Allah, Sa'ad sering menangis. Jika didengarnya Rasulullah berpidato dan menasihati ummat, air matanya bercucuran hingga membasahi haribaannya. Ia adalah seorang shahabat yang diberi ni'mat taufiq dan diterima ibadahnya. Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para shahabat, tiba-tiba beliau menatap dan menajamkan pandangannya ke arah ufuk bagai seseorang yang sedang menunggu bisikan atau kata-kata rahasia. Kemudian beliau menoleh kepada para shahabat, sabdanya:

"Sekarang akan muncul di hadapan tuan-tuan seorang laki-laki penduduk surga."

Para shahabat pun nengok kiri kanan dan ke setiap arah untuk melihat siapakah kiranya orang berbahagia yang beruntung beroleh taufiq dan karunia itu? Dan tidak lama antaranya muncullah di hadapan mereka Sa'ad bin Abi Waqqash. Selang beberapa lama, Abdullah bin 'Amr bin 'Ash datang kepadanya meminta jasa baiknya dan mendesak agar menunjukkan kepadanya jenis ibadah dan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang menyebabkannya berhak menerima ganjaran tersebut yang telah diberitakan sehingga menjadi daya tarik untuk mengerjakannya. Maka ujar Sa'ad, "Tak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan, hanya saja saya tak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap seorangpun di antara Kaum muslimin!"

Nah, itulah dia Singa yang Selalu Menyembunyikan Kukunya yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin 'Auf. Dan inilah tokoh yang dipilih Umar untuk memimpin pertempuran Qadisiyah yang dahsyat itu! Kenapa memilihnya untuk melaksanakan tugas yang paling rumit yang sedang dihadapi Islam dan Kaum Muslimin, karena keistimewaannya terpampang jelas di hadapan Amirul Mu'minin:
  • Ia adalah orang yang maqbul do'anya, jika ia memohon diberi kemenangan oleh Allah, pastilah akan dikabulkan-Nya.
  • Ia seorang yang hati-hati dalam makan, terpelihara lisan dan suci hatinya.
  • Salah seorang anggota pasukan berkuda di perang Badar, di perang Uhud, pendeknya di setiap perjuangan bersenjata yang diikutinya bersama Rasulullah saw.
  • Dan satu lagi yang tak dapat dilupakan oleh Umar, suatu keistimewaan yang tak dapat diabaikan harga, nilai dan kepentingannya, serta harus dimiliki oleh orang yang hendak melakukan tugas penting, yaitu kekuatan dan ketebalan iman.

Umar tidak lupa akan kisah Sa'ad dengan ibunya sewaktu ia masuk Islam dan mengikuti Rasulullah. Ketika itu segala usaha ibunya untuk membendung dan menghalangi puteranya dari Agama Allah mengalami kegagalan. Maka segala jalan yang tak dapat tidak, pasti akan melemahkan semangat Sa'ad dan akan membawanya kembali ke pangkuan agama berhala dan kepada kaum kerabatnya. Wanita itu menyatakan akan mogok makan dan minum sampai Sa'ad bersedia kembali ke agama nenek moyang dan kaumnya. Rencana itu dilaksanakannya dengan tekad yang luar biasa, ia tak hendak menjamah makanan atau minuman hingga hampir menemui ajalnya. Tetapi Sa'ad tidak terpengaruh oleh hal tersebut, bahkan ia tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual Agama dan keimanannya dengan sesuatupun, bahkan walau dengan nyawa ibunya sekalipun.

Ketika keadaan ibunya telah demikian gawat beberapa orang keluarganya membawa Sa'ad kepadanya untuk menyaksikannya kali yang terakhir, dengan harapan hatinya akan menjadi lunak jika melihat ibunya dalam sekarat. Sesampainya di sana, Sa'ad menyaksikan suatu pemandangan yang amat menghancurkan hatinya yang bagaikan dapat menghancurkan baja dan meluluhkan batu karang. Tapi keimanannya terhadap Allah dan Rasul mengatasi baja dan batu karang mana pun juga. Didekatkan wajahnya ke wajah ibunya dan dikatakannya dengan suara keras agar kedengaran olehnya:
"Demi Allah ketahuilah wahai ibunda, seandainya bunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah anak anda akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apa pun juga! Maka terserahlah kepada bunda, apakah bunda akan makan atau tidak!" Akhirnya ibunya mundur teratur, dan turunlah wahyu menyokong pendirian Sa'ad serta mengucapkan selamat kepadanya, sebagai berikut:

"Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku, padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya!" (Luqman: l5)

Nah, tidakkah ini betul-betul singa yang menyembunyikan kukunya? Jika demikian halnya, pantaslah Amirul Mukminin dengan hati tenang memancangkan panji-panji Qadisiyah ditangan kanannya, dan mengirimnya untuk menghalau pasukan Persi yang tidak kurang jumlahnya dari seratus ribu prajurit yang terlatih dan diperlengkapi dengan senjata dan alat pertahanan yang paling ditakuti dunia waktu itu, dipimpin oleh otak-otak perang yang paling jempol, dan ahli-ahli siasatnya yang paling cerdik dan licik.

Memang, kepada tentara musuh yang menakutkan inilah Sa'ad datang dengan membawa tigapuluh ribu mujahid tidak lebih, di tangan masing-masing tergenggam panah dan tumbak. Hanya semata-mata panah dan tumbak, tetapi dalam dada menyala kemauan dari Agama baru, yang membuktikan keimanan, kehangatan, serta kerinduan yang luar biasa terhadap maut dan mati syahid!

Dan kedua pasukan itupun bertemulah. Tetapi belum, mereka belum lagi bertempur. Di sana Sa'ad masih menunggu bimbingan dan pengarahan dari Amirul Mu'minin Umar. Inilah surat Umar yang memerintahkannya segera berangkat ke Qadisiyah, yang merupakan pintu gerbang memasuki Persi, ditancapkannya dalam hatinya kalimat berharga yang semuanya merupakan petunjuk dan cahaya.

"Wahai Sa'ad bin Wuhaib! Janganlah anda terpedaya di hadapan Allah, mentang-mentang dikatakan bahwa anda adalah paman dan shahabat Rasulullah! Sungguh, tak ada hubungan keluarga antara seseorang dengan Allah kecuali dengan mentaati-Nya! Semua manusia baik yang mulia maupun yang hina, pada pandangan Allah serupa tidak berbeda. Allah Tuhan mereka, sedang mereka hamba-Nya. Mereka berlebih berkurang dalam kesehatan, dan akan beroleh karunia yang tersedia di sisi Allah dengan ketaatan."
"Maka perhatikanlah segala sesuatu yang pernah anda lihat pada Rasulullah saw. semenjak ia diutus sampai meninggalkan kita dan pegang teguhlah, karena itulah yang harus diikuti!" Kemudian katanya pula, "Tulislah kepadaku segala hal-ikhwal tuan-tuan, bagaimana kedudukan tuan-tuan, dan di mana pula posisi musuh terhadap tuan-tuan, terangkan sejelas-jelasnya, hingga seolah-olah aku menyaksikan sendiri keadaan tuan-tuan."

Sa'ad pun menulis surat kepada Amirul Mu'minin dan menuliskan segala sesuatu, hingga hampir saja diterangkannya tempat dan posisi setiap prajurit secara terperinci.

Sa'ad telah sampai di Qadisiyah, sementara seluruh tentara dan rakyat Persia berhimpun, sesuatu hal yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Kendali pimpinannya dipegang oleh panglimanya yang ulung dan paling terkenal, yaitu Rustum. Sebagai balasan surat dari Sa'ad yang baru dikirimnya, Amirul Mukminin menulis.

"Sekali-kali janganlah anda gentar mendengar berita dan persiapan mereka! Bermohonlah kepada Allah dan tawakkallah kepada-Nya! Dan kirimlah sebagai utusan, orang-orang yang cerdas dan tabah untuk menyeru mereka ke jalan Allah. Dan tulislah surat kepadaku setiap hari."

Kembali Sa'ad mengirim surat kepada Amirul Mu'minin, menyampaikan bahwa Rustum telah menduduki Sabath dengan mengerahkan pasukan gajah dan berkudanya dan mulai bergerak menuju Kaum Muslimin. Balasan dari Umar datang yang isinya memberi petunjuk dan menabahkan hati Sa'ad.

Sa'ad bin Abi Waqqash seorang anggota pasukan berkuda yang ulung dan gagah berani, paman Rasulullah dan termasuk golongan yang mula pertama masuk Islam, pahlawan dari berbagai perjuangan bersenjata, pancungan dan panahnya yang tak pernah meleset, sekarang tampil mengepalai tentaranya dalam menghadapi salah satu peperangan terbesar dalam sejarah, tak ubahnya bagi seorang prajurit biasa! Baik kekuatan maupun kedudukannya sebagai pemimpin, tidak mampu mempengaruhi dan memperdayakan dirinya untuk mengandalkan pendapatnya semata.

Tetapi ia selalu menghubungi Amirul Mukminin di Madinah yang jaraknya demikian jauh, dengan mengirimnya sepucuk surat tiap hari untuk bermusyawarah, dan bertukar pendapat, padahal pertempuran besar itu telah hampir berkecamuk. Sebabnya tidak lain, ialah karena Sa'ad ma'lum bahwa di Madinah, Umar tidaklah mengemukakan pendapatnya semata atau mengambil keputusan seorang diri, tetapi tentulah ia akan bermusyawarah dengan orang-orang di sekelilingnya dan dengan shahabat-shahabat utama Rasulullah. Dan bagaimana juga gawatnya suasana perang, Sa'ad tak hendak kehilangan baroqah dan manfa'atnya musyawarah, baik bagi dirinya maupun bagi tentaranya, apalagi ia tahu benar bahwa di pusat komando, itu pimpinannya langsung dipegang Umar al-Faruk, pembangkit ilham atau inspirasi agung.

******


Pesan dari Umar dilaksanakan oleh Sa'ad. Dikirimnya serombongan di antara shahabat-shahabatnya sebagai utusan kepada Rustum panglima tentara Persia untuk menyerunya iman kepada Allah dan Agama Islam. Soal jawab di antara mereka dengan Panglima Persi itu berlangsung lama, dan akhirnya mereka tidak diperbolehkan lagi berbicara, karena salah seorang di antara mereka mengatakan:
"Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian terhadap Allah Yang Maha Esa, dari kesempitan dunia kepada keluasaannya, dan dari kedhaliman pihak penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa-siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula kesediaannya dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah.""
Apa janji yang telah dijanjikan Allah itu?" tanya Rustum. Jawab pembicara, "Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup."

Para utusan kembali kepada panglima pasukan Islam Sa'ad dan menyampaikan bahwa tak ada pilihan lain daripada perang. Dan airmata Sa'ad berlinang-linang. Ia berharap seandainya saat pertempuran itu dapat diundurkan atau dimajukan sedikit waktu. Ketika itu ia sedang sakit parah hingga ia sulit untuk bergerak. Bisul-bisul bertonjolan di sekujur tubuhnya, hingga ia tak dapat duduk, apalagi akan menaiki punggung kudanya dan menerjuni pertempuran yang sengit berkuah darah! Seandainya saat pecah perang itu terjadi sebelum ia jatuh sakit, atau sesudah bisul-bisul itu meletus dan sembuh, pastilah ia akan menunjukkan prestasi tinggi. Tetapi tidak, Rasulullah saw telah mengajarkan kepada mereka supaya tidak mengatakan "seandainya", karena kata kata itu menunjukkan kelemahan, sedang orang Mukmin yang kuat tidak kehabisan akal dan tidak pernah lemah!

Ketika itu bangkitlah singa yang menyembunyikan kukunya itu, lalu berdiri dihadapan tentara menyampaikan pidato dengan tak lupa mengutip ayat mulia berikut ini:

Bismillahirrahmanirrahim
“Telah Kami cantumkan dalam Zabur setelah sebelumnya Kami catat dalam (Lauh Mahfudh) peringatan bahwa Bumi itu diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shalih."
(Al-Anbiya: l05)

Setelah menyampaikan pidatonya Sa'ad melakukan shalat dhuhur bersama tentaranya, kemudian sambil menghadap kepada mereka, ia mengucapkan takbir empat kali, "Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar.. Allaahu Akbar!!!"

Alampun gemuruh dan bergema dengan suara takbir, dan sambil mengulurkan tangannya kemuka bagai anak panah yang sedang melepas laju menunjuk ke arah musuh, Sa'ad berseru kepada anak buahnya, "Ayolah maju dengan barkat dari Allah!"

Dengan menabahkan diri menanggung sakit yang dideritanya, Sa'ad naik ke anjung rumah yang ditinggalinya dan yang diambilnya sebagai markas komandonya. Sambil telungkup di atas dadanya yang dialasi bantal sementara pintu anjung itu terbuka lebar. Sedikit saja serangan dari orang-orang Persi ke rumah itu, akan menyebabkan panglima Muslimin jatuh ke tangan mereka, hidup atau mati. Tetapi ia tidak gentar dan tidak merasa takut. Bisul-bisul pecah berletusan, tetapi ia tidak perduli, hanya terus berseru dan bertakbir serta mengeluarkan perintah kepada anak buahnya.

"Majulah ke kanan..." dan kepada yang lain, "Tutup pertahanan sebelah kiri... Awas di depanmu hai Mughirah, ke belakang mereka hai Jarir.., pukul hai Nu'man..., serbu hai Asy'ats.., hantam hai Qa'qa'..., majulah semua hai shahabat-shahabat Muhammad saw...!" Suaranya yang berwibawa penuh dengan kemauan dan semangat baja, menyebabkan masing-masing prajurit itu berubah menjadi kesatuan yang utuh. Maka berjatuhanlah tentara Persi, tak ubah bagai lalat-lalat yang berkaparan, dan rubuhlah bersama mereka keberhalaan dan pemujaan api! Dan setelah melihat tewasnya panglima besar dan prajurit-prajurit pilihan mereka, sisa-sisa musuh tunggang langgang melarikan diri. Mereka dikejar dan dihalau oleh tentara Islam sampai ke Nahawand lalu ke Mada-in. Ibu kota itu mereka masuki untuk merampas kursi singgasana dan mahkota Kisra yang menjadi lambang keberhalaan.

******


Di pertempuran Madain, Sa'ad mencapai prestasi tinggi. Pertempuran ini terjadi kira-kira dua setengah tahun setelah pertempuran Qadisiyah, sementara perang berlangsung secara kecil-kecilan antara Persi dan Kaum Muslimin. Akhirnya semua sisa tentara Persi ini berhimpun di kota-kota Mada-in saja, bersiap-siap untuk menghadapi pertempuran terakhir dan menentukan.
Sa'ad menyadari bahwa situasi medan dan musim menguntungkan pihak penentang Islam, karena antara pasukannya dan Mada-in terbentang sungai Tigris yang lebar, alirannya sangat deras karena sedang banjir meluap-luap. Walaupun demikian dengan teguh hati ia tetap memutuskan untuk memulai serangan umum itu pada waktu itu juga, dengan perhitungan bahwa mental pasukan musuh sedang menurun.

Nah, di antaranya peristiwa inilah yang membuktikan bahwa, Sa'ad betul-betul sebagai dilukiskan oleh Abdurrahman bin 'Auf, singa yang menyembunyikan kukunya. Keimanan Sa'ad dan kepekatan hatinya akan tampak menonjol ketika menghadapi bahaya, hingga dapat mengatasi barang mustahil berkat keberanian yang luar biasa.

Demikianlah Sa'ad mengeluarkan perintah kepada pasukannya, untuk menyeberangi sungai Tigris, dan disuruhnya menyelidiki yang dangkal dari sungai yang dapat dijadikan tempat penyeberangan ini. Dan akhirnya mereka menemukan tempat tersebut, walaupun untuk menyeberanginya tidak luput dari bahaya yang mengancam. Sebelum tentara memulai penyeberangan, panglima besar Sa'ad menyadari pentingnya pengamanan pinggiran seberang sungai yang hendak dicapai, yakni daerah yang ada dalam kekuasaan dan pengawasan musuh.

Ketika itu disiapkannya dua kompi tentara, Pertama yang dinamakannya Kompi Sapu Jagat, sebagai komandannya diangkatnya 'Ashim bin 'Amr. Dan yang kedua disebutnya Kompi Gerak Cepat, sebagai pemimpinnya diangkatnya Qa'qa bin Amr. Adapun tugas dari kedua kompi ini ialah menerjuni bahaya dan menetas jalan yang aman menuju pinggir sebelah musuh dan melindungi induk pasukan yang akan mengiringi mereka dari belakang.

Dan mereka telah menunaikan tugas itu dengan kemahiran yang mena'jubkan. Hingga siasat yang dilakukan Sa'ad ketika itu mencapai hasil yang mengagumkan bagi para ahli sejarah, bahkan bagi diri Sa'ad bin Abi Waqqash sendiri. Salman al-Farisi, yakni teman dan kawan seperjuangannya dalam pertempuran itu, juga hampir-hampir tak percaya akan hasil yang telah dicapai. Ia menepukkan kedua belah tangannya karena takjub dan bangga, katanya:
"Agama Islam masih baru. Tetapi lautan telah dapat mereka taklukkan sebagai halnya daratan telah mereka kuasai. Demi Allah yang nyawa Salman berada dalam tangan-Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan selamat daripadanya berbondong-bondong, sebagaimana mereka telah memasukinya berbondong-bondong!"

Dan benarlah apa yang dikatakannya itu. Sebagaimana mereka telah terjun ke dalam sungai gelombang demi gelombang, demikianlah pula mereka keluar dari dalamnya dan mencapai seberang sana gelombang demi gelombang pula. Tak seorang pun dari mereka kehilangan prajurit, bahkan tak sedikit pun tentara Persi yang mampu mengunjukkan giginya! Mangkok tempat minumannya seorang prajurit jatuh ke dalam air. Maka ia tak ingin jadi satu-satunya orang yang kehilangan barang waktu penyeberangan itu.

Kepada teman-temannya diserukannya agar menolongnya untuk mendapatkan barang itu kembali. Kebetulan suatu ombak besar melemparkan mangkok itu ke dekat rombongan hingga dapat mereka pungut. Salah satu riwayat tentang sejarah melukiskan bagaimana dahsyatnya suasana ketika penyeberangan sungai Tigris itu, katanya:
"Sa'ad memerintahkan Kaum Muslimin agar membaca, 'Hasbunallaahu wa ni'mal wakiil - Cukuplah bagi kita Allah, dan Dia-lah sebaik-baik pemimpin.' Lalu dikerahkanlah kudanya menerjuni sungai yang diikuti oleh orang-orangnya, sehingga tak seorang pun di antara anggota pasukan yang tinggal di belakang. Maka berjalanlah mereka dalam air, tak ubah bagai berjalan di darat juga, hingga dari pinggir yang satu ke pinggir lainnya telah dipenuhi oleh prajurit, dan permukaan air tak keliatan lagi disebabkan amat banyaknya anggota angkatan berkuda serta pasukan pejalan kaki."

Orang-orang bercakap-cakap sesamanya ketika berada dalam air, seolah-olah mereka sedang bercakap-cakap di darat. Sebabnya tidak lain karena mereka merasa aman tenteram, serta percaya akan ketentuan Allah dan pertolongan-Nya, akan janji dan bantuan-Nya. Tatkala Sa'ad diangkat Umar sebagai amir wilayah Irak, ia mulai melakukan pembangunan dan perluasan kota. Kota Kufah diperbesar, dan diumumkanlah hukum Islam serta dilaksanakan di daerah yang luas dan lebar itu.

Pada suatu hari rakyat Kufah mengadukan Sa'ad sebagai wali negerinya kepada Amirul Mukminin, rupanya mereka sedang dipengaruhi oleh tabi'at yang mudah dihasut, cepat resah, gelisah dan suka memberontak, hingga mereka mengemukakan tuduhan yang bukan-bukan dan mentertawakan. Kata mereka, "Sa'ad tidak baik shalatnya..." Mendengar itu Sa'ad hanya tertawa terbahak-bahak, ujarnya:
"Demi Allah, yang saya lakukan hanyalah mengerjakan shalat bersama mereka sebagai shalat Rasulullah, yaitu memanjangkan dua raka'at yang mula-mula dan memendekkan dua raka'at yang akhir."

Sa'ad dipanggil Umar ke Madinah untuk menghadap. Sa'ad tidak marah, bahkan segera dipenuhi panggilan itu secepatnya. Setelah beberapa lama, Umar bermaksud untuk mengembalikannya ke Kufah, tapi sambil tertawa Sa'ad menjawab:
"Apakah anda hendak mengembalikan saya kepada kaum yang menuduh bahwa shalat saya tidak baik?"

Demikianlah ia memilih tinggal di Madinah.

Ketika Amirul Mukminin dicederai orang, dipilihnyalah enam orang di antara shahabat-shahabat Rasulullah saw yang akan mengurus soal pemilihan khalifah baru, dengan mengemukakan alasan bahwa keenam orang yang dipilihnya itu adalah terdiri dari orang-orang yang diridlai Rasulullah saw sewaktu beliau hendak berpulang ke rahmatullah.

Maka di antara shahabat yang berenam itu terdapatlah Sa'ad bin Abi Waqqash. Bahkan dari kalimat-kalimat Umar yang akhir terdapat kesan bahwa seandainya ia hendak memilih salah seorang di antara mereka, maka pilihannya akan jatuh pada Sa'ad. Sewaktu memberi wasiat dan mengucapkan selamat perpisahan dengan shahabat-shahabatnya, Umar berkata, "Jika khalifah dijabat oleh Sa'ad, demikianlah sebaiknya. Dan seandainya dijabat oleh lainnya, hendaklah ia menjadikan Sa'ad sebagai pendampingnya."

******


Sa'ad mencapai usia lanjut dan tibalah saat terjadinya fitnah besar. Sa'ad tak hendak mencampurinya bahkan kepada keluarga dan putera-puteranya dipesankan agar tidak menyampaikan suatu berita pun mengenai hal itu kepadanya. Pada suatu ketika perhatian orang sama-sama tertuju kepadanya, dan anak saudaranya yang bernama Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqash datang mendapatkannya, seraya berkata, "Paman, di sini telah siap seratus ribu bilah pedang, yang menganggap bahwa pamanlah yang lebih berhak mengenai urusan khilafah ini!"

Ujar Sa'ad:
"Dari seratus ribu bilah pedang itu saya inginkan sebilah pedang saja, jika saya tebaskan kepada orang Mu'min maka takkan mempan sedikit pun juga. Tetapi, bila saya pancungkan kepada orang kafir pastilah putus batang lehernya."

Mendengar jawaban itu anak saudaranya maklum akan maksudnya dan membiarkannya dalam sikap damai dan tak hendak bercampur tangan.

Dan tatkala akhirnya khilafah itu jatuh ke tangan Mu'awiyah dan kendali kekuasaan tergenggam dalam tangannya, ditanya kepada Sa'ad, "Kenapa anda tidak ikut berperang di pihak kami?" Ujarnya, "Saya sedang lewat di suatu tempat yang dilanda taufan berkabut gelap. Maka kataku, 'Hai Saudara.., hai saudaraku!' Lalu saya hentikan kendaraan menunggu jalan terang kembali."

Kata Mu'awiyah, "Bukankah dalam al-Quran tak ada, 'Hai saudara! hai saudara!' Hanya firman Allah Ta'ala:

“Jika di antara orang-orang Mukmin ada dua golongan yang berbunuhan, maka damaikanlah mereka! Seandainya salah satu di antara kedua golongan itu berbuat aniaya kepada yang lain, maka perangilah yang berbuat aniaya itu sampai mereka kembali kepada perintah Allah,” (Al-Hujurat: 9)

Maka anda bukanlah di pihak yang aniaya terhadap pihak yang benar, dan bukan pula di pihak yang benar terhadap golongan yang aniaya!"

Sa'ad menjawab sebagai berikut:
"Saya tak hendak memerangi seorang laki-laki (maksudnya Ali) yang mengenai dirinya Rasulullah pernah bersabda: "Engkau di sampingku, tak ubahnya seperti kedudukan Harun di samping Musa, tetapi (engkau bukan Nabi) tak ada lagi Nabi sesudahku!"

******


Suatu hari pada tahun 54 H, yakni ketika usia Sa'ad telah lebih dari 80 tahun, ia sedang berada di rumahnya di 'Aqiq, sedang bersiap-siap hendak menemui Allah Ta'ala. Saatnya yang akhir itu diceritakan puteranya kepada kita sebagai berikut, "Kepala bapakku berada di pangkuanku ketika ia hendak meninggal itu. Aku menangis, maka katanya, 'Kenapa kamu menangis wahai anakku? Sungguh Allah tiada akan menghukumku, dan sesungguhnya aku termasuk salah seorang penduduk surga...!'"

Kekebalan imannya tak tergoyahkan oleh apapun juga, bahkan tidak oleh goncangan maut dan kengeriannya. Bukankah Rasulullah saw. telah menyampaikan kabar gembira kepadanya, sedang ia iman dan percaya penuh akan kebenaran Rasulullah saw itu. Jadi apa yang akan ditakutkannya lagi? "Sungguh, Allah tiada akan menyiksaku, dan sungguh aku termasuk penduduk surga...!"

Hanya ia hendak menemui Allah dengan membawa kenang-kenangan yang paling manis dan mengharukan, yang telah menghubungkan dengan Agamanya dan mempertemukan dengan Rasul-Nya. Itulah sebabnya ia memberi isyarat ke arah peti simpanannya, yang ketika mereka buka dan keluarkan isinya, ternyata sehelai kain tua yang telah usang dan lapuk. Disuruhlah keluarganya mengafani mayatnya nanti dengan kain itu, katanya:
"Telah kuhadapi orang-orang musyrik waktu perang Badar dengan memakai kain itu dan telah kusimpan ia sekian lama untuk keperluan seperti pada hari ini!"

Memang, kain usang yang telah lapuk itu tak dapat dianggap sebagai kain biasa! Ia adalah panji-panji yang senantiasa berkibar di puncak kehidupan tinggi dan panjang yang dilalui pemiliknya dengan tulus dan beriman serta gagah berani!

Dan sosok tubuh dari salah seorang yang terakhir meninggal di antara orang-orang Muhajirin ini dipikul di atas pundak orang-orang yang membawanya ke Madinah, untuk ditempatkan dengan aman di dekat sekelompok tokoh-tokoh suci dari para shahabat yang telah mendahuluinya menemui Allah, dan jasad-jasad mereka yang dipenuhi rasa rindu itu mendapatkan tempatnya di bumi dan tanah Baqi'.


Selamat jalan wahai Sa'ad...!
Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, pembebas Mada-in dan pemadam api pujaan di Persi untuk selama-lamanya...!



Ditulis ulang oleh : Mahib ats-Tsaqib al-Qeis (Irvan Riviandana)
Sumber : Khalid, Muh. Khalid. Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah. CV. Diponegoro. Bandung: 1995.

selengkapnya...

Sabtu, 25 September 2010

Sirah Shahabat : Qeis bin Sa'ad bin 'Ubadah

QEIS BIN SA’AD BIN ‘UBADAH
Kalau tidaklah karena Islam,
Maka ialah ahli tipu muslihat arab
Yang paling lihai !


Walaupun usianya masih muda, orang-orang Anshar memandangnya seperti seorang pemimpin. Mereka mengatakan, “Seandainya kami dapat membelikan janggut untuk Qeis dengan harta kami, niscaya akan kami lakukan.”. Sebabnya ia berwajah licin, tak ada suatupun kekurangan dari sifat-sifat kepemimpinannya yang lazim terdapat pada adat kebiasaan kaumnya, selain soal janggut yang oleh para pria dijadikan sebagai tanda kejantanan pada wajah-wajah mereka.
Nah, siapakah kiranya pemuda yang sangat dicintai kaumnya ini, sampai-sampai mereka siap mengurbankan harta untuk membelikan janggut yang akan menghiasi mukanya, sebagai penyempurna bentuk luarnya bagi kebesaran hakiki dan kepemimpinan yang tinggi yang sudah dimilikinya?
Itulah dia Qeis bin Sa’ad bin ‘Ubadah!


Berasal dari keluarga Arab yang paling dermawan dari turunannya yang paling mulia. Suatu keluarga yang Rasulullah saw. pernah berkata terhadapnya :

“Kedermawanan menjadi tabi’at anggota keluarga ini!”

Ia adalah seorang lihai yang banyak tipu muslihat, seorang yang mahir, licin dan cerdik, dan orang yang terus terang mengatakan secara jujur tentang dirinya :
“Kalau bukan karena Islam, saya sanggup membikin tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab manapun!”
Sebabnya, karena ia adalah orang yang tinggi kecerdasannya, banyak akal dan encer otaknya.
Pada peristiwa perang Shiffin ia berdiri di fihak Ali menentang Mu’awiyyah. Maka duduklah ia merencanakan sendiri tipu muslihat yang mungkin akan membinasakan Mu’awiyyah dan para pengikutnya di suatu hari atau pada suatu ketika kelak. Namun ketika ia menyaring macam-macam muslihat yang telah memeras kecerdasannya. Namun, ketika ia menyaring itu disadarinya bahwa itu adalah suatu muslihat jahat yang membahayakan. Maka teringatlah ia akan firman Allah SWT. :

وَلا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلا بِأَهْلِهِ

“Dan tipu daya jahat itu akan kembali menimpa orangnya sendiri!”
(QS. Fathir : 43)

Maka iapun segera bangkit, lalu membatalkan cara-cara tersebut sambil memohon ampun kepada Allah, serta mulutnya seakan-akan hendak mengatakan, “Demi Allah, seandainya Mu’awiyyah dapat mengalahkan kita nanti, maka kemenangannya itu bukanlah karena kepintarannya, tetapi hanyalah karena keshalehan dan ketakwaan kita.”
Sesungguhnya pemuda Anshar suku Khazraj ini, adalah dari suatu keluarga pemimpin besar, yang mewariskan sifat-sifat mulia dari seorang pemimpin besar kepada pemimpin besar pula. Ia adalah anak dari Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin Khazraj, yang akan kita temui riwayatnya dibelakang kelak.
Sewaktu Sa’ad masuk Islam, ia membawa anaknya Qeis dan menyerahkannya kepada Rasul sambil berkata, “Inilah khadam anda ya Rasulullah!” Rasul dapat melihat pada diri Qeis segala tanda-tanda keutamaan dan ciri-ciri kebaikan. Maka dirangkul dan didekatkannya ke dirinya dan senantiasalah Qeis menempati kedudukan di sisi Nabi.
Anas, shahabat Rasulullah pernah mengatakan,”Kedudukan Qeis bin Sa’ad bin ‘Ubadah di sisi Nabi, tak ubah seperti ajudan.”
Selagi Qeis memperlakukan orang-orang lain sebelum ia masuk Islam dengan segala kecerdikannya, mereka tak tahan akan kelihaiannya. Dan tak ada seorangpun di kota Madinah dan sekitarnya yang tidak memperhitungkan kelihaiannya ini secara hati-hati. Maka setelah ia memeluk Islam, Islam mengajarkan kapadanya untuk memperlakukan manusia dengan kejujuran, tidak dengan kelicikan. Ia adalah seorang anak muda yang banyak amalnya untuk masuk Islam, karena itu dikesampingkannya kelihaiannya, dan tidak hendak mengulangi tindakan-tindakan liciknya masa silam. Setiap ia menghadapi suatu kejadian yang sukar, ia ingat kepada prakteknya yang lama, segera sadarkan diri lalu diucapkannya kata-kata yang bersayap, “Kalau bukan karena Islam, akan kubuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh bangsa Arab!”
Tak ada perangai alain pada dirinya yang lebih menonjol dari kecerdikannya kecuali kedermawanannya. Dermawan dan pemurah bukanlah perangai baru bagi Qeis, karena ia adalah dari keluarga yang turun-temurun terkenal dermawan dan pemurah.
Bagi Qeis sebagai telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang paling dermawan dan suka membantu di antara suku-suku Arab, ada petugas yang sering berdiri di tempat ketinggian memanggil para tamu untuk makan siang bersama mereka, atau sengaja menyalakan api di malam hari untuk menjadi petunjuk bagi para musafir yang lewat. Orang-orang di zaman itu mengatakan, “ Siapa yang ingin memakan lemak dan daging, silakan mampir ke benteng perkampungan Dulaim bin Haritsah!” Dulaim bin Haritsah adalah kakek kedua dari Qeis. Di rumah bangsawan inilah Qeis mendapat didikan kedermawanan dan kepemurahan.
Di suatu hari Umar dan Abu Bakar bercakap-cakap sekitar kepdermawanan dan kepemurahan Qeis sambil berkata, “Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kepemurahannya, niscaya akan habis licin harta orang tuanya!” Pembicaraan tentang anaknya itu sampai kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, maka serunya, “Siapa dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar? Diajarnya anakku kikir dengan memperalat namaku!”
Pada suatu hari pernah ia memberi pinjaman pada salah seorang kawannya yang kesukaran dalam jumlah yang besar. Pada hari yang telah ditentukan guna melunasi utang, pergilah orang itu untuk membayarnya kepada Qeis. Ternyata Qeis tidak bersedia menerimanya, ia hanya berkata, “Kami tak hendak menerima kembali apa-apa yang telah kami berikan.”
Fithrah manusia mempunyai kebiasaan yang tak pernah berubah-ubah, dan sunnah (hukum) yang jarang berganti-ganti yaitu : di mana terdapat kepemurahan, terdapat pula keberanian. Benarlah, sesungguhnya dermawan sejati dan keberanian sejati adalah dua saudara kembar yang tak pernah berpisah satu dan lainnya selama-lamanya. Dan bila anda menemukan kedermawanan tanpa keberanian, ketauhilah bahwa yang anda temukan itu bukanlah sebenarnya kepemurahan, tetapi suatu gejala kosong dan bohong dari gejala-gejala melagakkan diri dan membusungkan dada. Demikian pula bila bertemu keberanian yang tidak disertai kepemurahan, ketahuilah pula bahwa itu bukanlah keberanian sejati, ia tak lain serpihan dari berani membabi buta dan kecerobohan!
Maka tatkala Qeis bin Sa’ad memegang teguh kendali kepemurahan dengan tangan kanannya, ia pun memegang kuat tali keberanian dan kepeloporan dengan tangan kirinya. Seolah-olah ialah yang dimaksud dengan ungkapan sya’ir :
“Apabila bendera kemuliaan telah dikibarkan,
maka segala kekejian berubah menjadi kebaikan.”
Keberaniannya telah termasyhur pada semua medan tempur yang dialaminya beserta Rasulullah saw. selagi beliau masih hidup. Dan kemasyhuran itu bersambung pada pertempuran-pertempuran yang diterjuninya sesudah Rasul meninggal dunia. Keberanian yang selalu berlandaskan kebenaran dan kejujuran sebagai ganti kelihaian dan kelicikan. Dengan mempergunakan cara terbuka dan terus terang secara berhadap-hadapan, bukan dengan menyebarkan isyu dari belakang dan tidak pula dengan tipu muslihat busuk, tentu saja membebani dirinya dengan kesukaran dan kesulitan yang menekan.
Semenjak Qeis membuang jauh kemampuannya yang luar biasa dalam berdiplomasi licik dan bersilat lidah curang, dan ia membawakan diri dengan perangai berani secara terbuka dan terus terang, maka ia merasa puas dengan pembawaan yang baru ini, dan bersedia memikul akibat kesukaran yang silih berganti dengan hati yang rela.
Sesungguhnya keberanian sejati memancar dari kepuasan pribadi orang itu sendiri. Kepuasan ini bukan karena dorongan hawa nafsu dan keuntungan tertentu, tetapi disebabkan oleh ketulusan diri pribadi dan kejujuran terhadap kebenaran.
Demikianlah, sewaktu timbul pertikaian di antara Ali dan Mu’awiyyah, kita lihat Qeis bersunyi-sunyi memencilkan dirinya. Dan terus berusaha mencari kebenaran dari celah-celah kepuasannya itu. Hingga akhirnya demi dilihatnya kebenaran itu berada di pihak Ali, bangkitlah ia dan tampil kesampingnya dengan gagah berani, teguh hati dan berjuang secara mati-matian. Di medan perang Shiffin, Jamal dan Nahrawan, Qeis merupakn salah seorang pahlawannya yang berperang tanpa takut mati. Dialah yang membawa bendera Anshar dengan meneriakkan :
“Bendera inilah bendera persatuan…
Berjuang bersama Nabi dan Jibril pembawa bantuan.
Tiada gentar andaikan hanya Anshar pengibarnya.
Dan tiada orang lain menjadi pendukungnnya.”

Dan sesungguhnya Qeis telah diangkat oleh Imam Ali sebagai Gubernur Mesir. Tapi sudah semenjak lama Mu’awiyyah selalu mengincarkan matanya ke wilayah ini. Ia memandangnya sabagai permata berlian yang paling berharga pada suatu mahkota yang amat didambakannya. Oleh karena itu tidak lama setelah Qeis memangku jabatan sebagai kepala daerah itu, hamper terbit gilanya karena takut Qeis akan menjadi halangan bagi cita-citanya terhadap Mesir sepanjang masa, bahkan sekalipun ia beroleh kemenangan sejati nanti atas Imam Ali dengan kemenangan yang menentukan.
Begitulah Mu’awiyyah berusaha dengan tipu daya dan muslihat yang tidak terbatas pada satu corak saja, mambangkitkan kemarahan yang tidak terbatas dari Imam Ali terhadap Qeis, sampai akhirnya Imam Ali memanggilnya dari Mesir.
Di sini Qeis memperoleh kesempatan yang menguntungkan untuk mempergunakan kecerdasannya dengan berencana. Ia telah mengetahui berkat kecerdaasannya bahwa Mu’awiyyahlah yang memegang peranan dalam memfitnahnya, setelah ia gagal menarik Qeis ke pihaknya untik memusuhi Imam Ali dan mempergunakan kepemimpinannya untuk membantunya.
Maka untuk mematahkan tipu daya tersebut, Qeis memperkuat sokongannya terhadap Ali dan terhadap kebenaran yang diwakili Ali. Seorang pemimpin yang saat itu tempat tersangkutnya kesetiaan dan kepercayaan teguh dari Qeis bin Sa’ad in ‘Ubadah.
Demikianlah, tidak sedikitpun dirasakannya bahwa Imam Ali telah memecatnya dari Mesir. Bagi Qeis, taka ada artinya wilayah kekuasaan, tak ada artinya pangkat kepemimpinan dan jabatan. Semuanya itu baginya hanyalah sekedar sarana guna mangabdikan diri bagi aqidah dan Agamanya. Sekalipun jabatan kepala daerah di Mesir itu merupakan suatu jalan untuk mengabdikan diri kepada yang haq, namun kedudukan di dekat Imam Ali di medan laga adalah suatu jalan lain yang tak kurang penting dan menggairahkan.
Keberanian Qeis mencapai puncak kejujurannya dan kematangannya sesudah syahidnya Ali dan dibai’atnya Hassan. Sesungguhnya Qeis memandang Hassan r.a. sebagai tokoh yang cocok menurut syari’at untuk menjadi Imam (kepala negara), maka berjanji setialah ia kepadanya, dan berdiri di sampingnya sebagai pembela, tanpa mempedulikan bahaya yang akan menimpa.
Dan dikala Mu’awiyyah memaksa mereka untuk menghunus pedang, bangkitlah Qeis memimpin lima ribu prajurit dari orang-orang yang telah mencukur kepala mereka sebagai tanda berkabung atas wafatnya Ali. Hassan mengalah dan lebih suka membalut luka-luka muslimin yang telah sedemikian parah, maka disuruhnya menghentikan perang yang telah menghabiskan nyawa dan harta itu, lalu berunding dengan Mu’awiyyah dan kemudian bai’at kepadanya.
Di sinilah Qeis mulai merenungkan lagi masalah tersebut, maka menurut pendapatnya, sekalipun pendirian Hassan adalah benar, maka pasukan Qeis tetap menjadi tanggung jawabnya dan piliha terakhir terletak atas hasil keputusan dan musyawarah. Maka semua mereka dikumpulkannya, lalu ia berpidato di hadapan mereka sambil berkata:
“Jika kalian menginginkan perang, aku akan tabah berjuang bersama kalian sampai salah satu di antara kita diambil maut terlebih dahulu! Tapi, jika kalian memilih perdamaian maka aku akan mengambil langkah-langkah untuk itu.”
Pasukan tentaranya memilih yang kedua maka dimintanya keamanan dari Mu’awiyyah yang memberikannya dengan penuh sukacita, karena dilihatnya taqdir telah membebaskannya dari musuhnya yang terkuat, paling gigih serta berbahaya !
Pada tahun 59 H, di kota Madinah Al-Munawwarah, telah pulang ke Rahmatullah seorang pahlawan, yang dengan keislamannya dapat mengendalikan kecerdikan dan keahlian tipu muslihatnya serta menjadikan obat penawar bisa.
Telah berpulang tokoh yang pernah berkata, “Kalau tidaklah aku pernah mendengar Rasulullah bersabda : tipu daya dan muslihat licik itu di dalam neraka. Niscaya akulah yang paling lihai di antara ummat ini.”
Ia telah tiada dalam kedamaian, dengan meninggalkan nama harum sebagai seorang laki-laki yang jujur, terus terang, dermawan dan berani.
Benar, ia telah berpulang dengan mewariskan pusaka nama baik seorang laki-laki terpercaya, baik tentang watak keislamannya maupun tentang tanggung jawab dan menepati janji.



Ditulis ulang oleh : Mahib ats-Tsaqib al-Qeis (Irvan Riviandana)
Sumber : Khalid, Muh. Khalid. Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah. CV. Diponegoro. Bandung: 1995.

selengkapnya...

Sabtu, 04 September 2010

Sirah Shahabat : Shuhaib ibnu Sinan

SHUHAIB IBNU SINAN
Abu Yahya Pedagang yang Selalu Mendapat Laba


Ia dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan. Bapaknya menjadi hakim dan walikota “Ubullah” sebagai pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Iraq, jauh sebelum datangnya agama Islam. Dan di istananya yang terletak di pinggir sungai Eufrat ke arah hilir “Jazirah” dan “Mosul”, anak itu hidup dalam keadaan senang dan bahagia.
Pada suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk diantaranya Shuhaib bin Sinan. Ia diperjual belikan oleh saudagar-saudagar budak belian, dan perjalanannya yang panjang berakhir di kota Mekah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remajanya di negeri Romawi, hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.
Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan, dan kejujurannya, hingga Shuhaib dibebaskan dan dimerdekakannya, dan diberinya kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya.
Maka pada suatu hari, yah, marilah kita dengarkan cerita kawannya yang bernama ‘Ammar bin Yasir, mengisahkan peristiwa yang terjadi pada hari itu:
Ia dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan. Bapaknya menjadi hakim dan walikota “Ubullah” sebagai pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Iraq, jauh sebelum datangnya agama Islam. Dan di istananya yang terletak di pinggir sungai Eufrat ke arah hilir “Jazirah” dan “Mosul”, anak itu hidup dalam keadaan senang dan bahagia.
Pada suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk diantaranya Shuhaib bin Sinan. Ia diperjual belikan oleh saudagar-saudagar budak belian, dan perjalanannya yang panjang berakhir di kota Mekah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remajanya di negeri Romawi, hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.
Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan, dan kejujurannya, hingga Shuhaib dibebaskan dan dimerdekakannya, dan diberinya kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya.
Maka pada suatu hari, yah, marilah kita dengarkan cerita kawannya yang bernama ‘Ammar bin Yasir, mengisahkan peristiwa yang terjadi pada hari itu:

“Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, yakni ketika Rasulullah saw. sedang berada di dalamnya.
- Hendak kemana kamu? Tanya saya kepadanya.
- Dan, kamu hendak kemana? Jawabnya.
- Saya hendak menjumpai Muhammad saw. untuk mendengar ucapannya. Kata saya
- Saya juga hendak menjumpainya. Ujarnya pula.
Demikianlah kami masuk ke dalam dan Rasulullah menjelaskan tentang aqidah Agama Islam kepada kami, setelah meresapi apa yang dikemukakannya kamipun menjadi pemeluknya. Kami tinggal di sana sampai petang hari. Lalu dengan sembunyi-sembunyi kami keluar meninggalkannya.”
Jadi Shuhaib telah tahu jalan ke rumah Arqam. Artinya ia telah mengetahui jalan menuju petunjuk dan cahaya, juga ke arah pengurbanan berat dan tebusan besar.
Maka melewati pintu kayu yang memisah bagian dalam rumah Arqam dari bagian luarnya, tidak hanya berarti melangkahi bandul pintu semata, tetapi hakikatnya adalah melangkahi batas-batas alam secara keseluruhan! Yakni alam lama dengan segala apapun yang diwakilinya baik berupa keagamaan dam akhlaq, maupun berupa peraturan yang harus dilangkahinya menuju alam baru dengan segala aspek dan persoalannya.
Malangkahi bandul pintu rumah Arqam yang lebarnya tidak lebih dari satu kaki, pada hakekat dan kenyataannya adalah melangkahi bahaya besar luas dan lebar. Maka menghampiri rintangan itu (maksud kita bandul tersebut) mema’lumkan datangnya suatu masa yang penuh dengan tanggung jawab yang tidak enteng!
Apalagi bagi fakir miskin, budak belian dan orang perantau, memasuki rumah Arqam itu artinya tidak lain dari suatu pengurbanan yang melampaui kemampuan yang lazim dari manusia.
Shahabat kita Shuhaib adalah anak pendatang atau orang perantau, sedang shahabat yang berjumpa dengannya di ambang pintu rumah tadi (yakni ‘Ammar bin Yasir) adalah seorang miskin. Tetapi keduanya itu berani menghadapi bahaya, dan kenapa mereka bersiap sedia untuk menemuinya?
Nah, itulah dia panggilan iman yang tak dapat dibendung! Dan itulah dia pengaruh kepribadian Muhammad saw. yang kesan-kesannya telah mengisi hati orang-orang baik dengan hidayah dan kasih saying. Dan itulah dia daya pesona dari barang baru yang bersinar cemerlang, yang telah memukau akal fikiran yang muak melihat kebiasaan barang lama, bosan dengan kesesatan dan kepalsuannya!
Dan diatas semua ini, itulah rahmat dari Allah Ta’ala yang dilimpahkanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, serta petunjukNya yang diberikan kepada orang yang kembali dan menyerahkan diri kepadaNya.

***

Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Bahkan ia telah membuat tempat yang luas dan tinggi dalam barisan orang-orang yang teraniaya dan tersiksa! Begitu pula dalam barisan para dermawan dan penanggung uang tebusan!
Pernah diceritakan keadaan sebenarnya yang membuktikan rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang muslim yang telah bai’at kepada Rasulullah dan bernaung di bawah panji-panji Agama Islam, katanya:

“Tiada suatu peerjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya…
Dan tiada suatu bai’at yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya…
Dan tiada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya…
Dan tiada pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya…
Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan kaum muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang…
Serta aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah saw. berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah…!”

Suatu gambaran keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa. Sungguh, Shuhaib (Semoga Allah meridhainya dan meridhai semua shahabatnya) layak untuk mendapatkan keunggulan iman ini, semenjak ia menerima cahaya Ilahi dan menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasulullah saw. Mulai saat itu hubungannya dengan dunia dan sesame manusia, bahkan dengan dirinya pribadi mendapat corak baru. Jiwanya telah tertempa menjadi keras dan ulet, zuhud tak kenal lelah, hingga dengan bekal tersebut ia berhasil mengatasi segala macam peristiwa dan menjinakkan marabahaya.
Dan sebagai telah kita kemukakan dulu, ia selalu menghadapi segala akibat dan risiko dengan keberanian luar biasa. Ia tak hendak mundur dari segala pertempuran dan mengucilkan diri dari bahaya, sedang kegemarannya dialihkannya dari menumpuk keuntungan kepada memikul tanggung jawab, dari meni’mati kehidupan kepada mengarungi bahaya dan mencintai maut.
Hari-hari perjuangannya yang mulia dan cintanya yang luhur itu diawali pada saat hijrahnya. Pada hari itu ditinggalkannya segala emas dan perak serta kekayaan yang diperolehnya sebagai hasil perniagaan selama berbilang tahun di Mekah. Semua kekayaan ini, yakni segala yang dimilikinya, dilepaskan dalam sekejap tanpa berfikir panjang atau mundur maju.
Ketika Rasulullah hendak pergi hijrah, Shuhaib mengetahuinya, dan menurut rencana ia akan menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut, di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Tetapi orang-orang Quraisy telah mengatur persiapan di malam harinya untuk mencegah kepindahan Rasulullah.
Shuahaib terjebak dalam salah satu perangkap mereka, hingga terhalang untuk hijrah untuk sementara waktu, sementara Rasulullah dengan shahabatnya berhasil meloloskan diri atas berkah Allah Ta’ala.
Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan jalan bersilat lidah, hingga ketika mereka lengah ia naik ke punggung untanya, lalu dipacunya hewan itu dengan sekencang-kencangnya menuju sahara luas. Tetapi Quraisy mengirim pemburu-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha itu hamper berhasil. Tapi demi Shuhaib melihat dan berhadapan dengan mereka ia berseru katanya:

“Hai orang-orang Quraisy!
Kalian sama mengetahui bahwasanya saya adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah, kalian takkan berhasil mendekati diriku, sebelum saya lepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini, dan setelah itu akan menggunakan pedang untuk menebas kalian, sampai senjata di tanganku habis semua!
Nah, majulah ke sini kalau kalian berani!!!
Tetapi kalau kalian setuju, saya akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, asal saja kalian membiarkan daku!”

Mereka sama tertarik dengan tawaran terakhir itu, dan setuju menerima hartanya sebagai imbalan dirinya, kata mereka:

“Memang, dahulu waktu kamu datang kepada kami, kamu adalah seorang miskin lagi papa. Sekarang hartamu menjadi banyak ditengah-tengah kami hingga melimpah ruah. Lalu kami hendak membawa pergi bersamamu semua harta kekayaan itu?”

Shuaib menunjukkan tempat disembunyikan hartanya itu, hingga mereka membiarkannya pergi sedang mereka kembali ke Mekah. Dan satu hal yang aneh ialah mereka mempercayai ucapan Shuhaib tanpa bimbang atau bersikap waspada, hingga mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan tidak meminta agar ia mengucapkan sumpah.
Kenyataan ini menunjukkan tingginya kedudukan Shuhaib di mata mereka, sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.
Shuhaib melanjutkan lagi perjalanan hijrahnya seorang diri tetapi berbahagia, hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah saw. di Quba. Waktu itu Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang shahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya. Dan demi Rasulullah meluhatnya, beliau berseru dengan gembira:

“Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!
Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”

Dan ketika itu juga turunlah ayat:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan diantara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridhoan Allah, dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya.”
(QS. Al-Baqarah: 207)

Memang, Shuhaib telah menebus dirinya yang beriman itu dengan segala harta kekayaan, ia mengumpulkan harta kekayaan itu dengan menghabiskan masa mudanya, yah seluruh usia mudanya . . . , dan sedikit pun ia tidak merasa dirinya rugi!
Apa artinya harta, emas, perak, dan seluruh dunia ini, asal imannya tidak terganggu, hati nuraninya berkuasa dan kemauannya menjadi raja!
Ia amat disayangi oleh Rasulullah saw. Dan disamping keshalihan dan ketakwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka. Pada suatu hari Rasulullah melihat Shuhaib sedang makan kurma dan salah satu matanya bengkak. Tanya Rasulullah kepadanya sambil tertawa:

“Kenapa kamu makan kurma sedang sebelah matamu bengkak?”
“Apa salahnya?”, ujar Shuhaib, “…saya memakannya dengan mata yang sebelah lagi…?”

Shuhaib adalah pula seorang pemurah dan dermawan. Tunjangan yang diperolehnya dari Baitul mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah, yakni untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan, memenuhi firman Allah Ta’ala:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan diberikannya makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang tawanan.”
(QS. Ad-Dahr: 8)

Sampai-sampai kemurahannya yang amat sangat itu mengundang peringatan dari Umar, katanya kepada Shuhaib:
“Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas…!”
Jawab Shuhaib, “Sebab saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

‘Sebaik-baiknya kalian ialah yang suka memberi makanan.’.”

***

Dan setelah diketahui kehidupan Shuhaib berlimpah ruah dengan keutamaan dan kebesaran, maka dipilihnya oleh Umar bin Khattab untuk menjadi imam bagi kaum Muslimin dalam shalat mereka, merupakan suatu keistimewaan dan kecemerlangan…
Tatkala Amirul Mu’minin diserang orang sewaktu melakukan shalat shubuh bersama kaum Muslimin…, maka disampaikannyalah pesan dan kata-kata akhirnya kepada para shahabat, katanya :

“Hendaklah Shuhaib menjadi imam kaum Muslimin dalam shalat…!”

Ketika itu Umar telah memilih enam orang shahabat yang diberi tugas untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Dan khalifah kaum Musliminlah yang biasanya menjadi imam dalam shalat-shalat mereka. Maka siapakah yang akan bertindak sebagai imam dalam saat-saat vakum antara wafatnya Amirul Mu’minin dan terpilihnya khalifah baru itu?
Tentulah Umar, apalagi dalam saat-saat seperti itu, ya’ni ketika ruhnya yang suci hendak menghadap Allah, akan berfikir seribu kali sebelum menjatuhkan pilihannya. Maka kalau ia telah memutuskan pilihannya, tentulah tak ada orang yang beruntung dan memenuhi syarat dari orang yang dipilihnya itu.
Dan Umar telah memilih Shuhaib…
Dipilihnya untuk menjadi imam untuk kaum Muslimin menunggu munculnya khalifah baru yang akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Dan ketika ia memilihnya, bukan tidak tahu bahwa lidah Shuhaib adalah lidah asing. Maka peristiwa ini merupakan kesempurnaan karunia Allah terhadap hamba-Nya yang shalih, Shuhaib bin Sinain…



Ditulis ulang oleh : Mahib ats-Tsaqib al-Qeis (Irvan Riviandana)
Sumber : Khalid, Muh. Khalid. Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah. CV. Diponegoro. Bandung: 1995.

selengkapnya...