Saudaraku...
Sadarkah kau dimana berjalan?
Coba lihat langkahmu...
Tahukah kau dimana berjalan?
Saudaraku...
Coba pikirkan lagi...
Kenapa dulu kau ambil belokan ini...?
Kenapa dulu kau putuskan lewat jalan ini...?
Sadarkah kau ketika memilih?
Atau kau hanya terhipnotis oleh suatu kondisi yang tak mampu kau fahami?
Saudaraku...
Yakinkah kau ini jalan yang benar?
Yakinkah kau ini jalan menuju surga?
Kalau iya...
LALU MENGAPA SEKARANG KAU BERLARI DARI JALAN INI?
Atau kau merasa tersesat arah dan ini jalan yang salah?
Saudaraku...
Coba kau buka lagi lembaran memorimu...
Seiring lembaran Qur'an, yang dulu selalu sedia di tanganmu...
Sulit memang,
Karena memori itu telah kau tanam...
Qur'an itu pun ikut terlantarkan...
Tapi kumohon kali ini...
Bukalah kembali, dengan segenap hatimu yang telah kering,
Bukalah dengan segenap ragamu yang bergetar rindu...
Rasakan kenikmatan itu, seperti ketika dulu pertama kali kau memutuskan ada di jalan ini...
Saudaraku,
Teringat kembali masa-masa itu...
Ketika kita berkumpul di surau sempit,
duduk melingkar saling tatap satu sama lain...
Tanpa bicara pun kita faham apa yang sedang saudara kita rasakan,
dari wajahnya yang tampak lusuh tapi membuat rindu...
Ya, karena kita telah sehati...
Teringat lagi masa-masa dulu...
Ketika kita sama-sama menghadapi ujian dan tekanan...
Kita saling menguatkan...
Kita saling membela...
Kita saling berpegang tangan, tak ada yang bisa memisahkan kita...
Ya, itulah kekuatan tali ukhuwah...
Sekokoh gunung, bahkan mautpun tak bisa jadi pemisah...
Teringat ketika dulu kita bersama...
Menuntut ilmu menuju surga...
Terasa manisnya iman ketika bersamamu...
Tak kah kau ingat itu?
Tak kah kau rindukan itu?
Tapi saudaraku,
mengapa harus ada kata 'kenangan'...
mengapa itu semua jadi kenangan?
Kita kini tlah disibukkan hal-hal yang tak ada kaitannya dengan jalan ini?
Sekolah, kuliah, rumah, kerjaan, dan segala macam urusan dunia yang melalaikan.
hingga hal hina seperti asmara, harta, tahta, telah merenggut komitmen kita di jalan ini.
Itukah yang membuatmu merasa jalan ini jalan yang salah?
Atau kau terlupa dan terlena?
Saudaraku, dulu ketika kita bersama...kita kuat!
namun ketika kita terpisah, mengapa kita tak tetap kuat?
Haruskah jarak ini jadi pemisah?
Haruskah waktu ini jadi tembok kokoh yang menghalangi kita untuk terus bersama?
Kemana tekadmu yang dulu?
Saudaraku...
Inilah renungan dari saudaramu yang merindukanmu...
Jangan sampai kegemilangan yang telah kita capai hancur seketika hanya karena urusan dunia yang tak ada apa-apanya...
Inilah satu-satunya jalan yang benar, jangan kau berbelok lagi...
Surga di ujung sana tlah menanti,
dan itu tak jauh lagi asal kau tetap konsisten di jalan ini.
Bersamamu kurasa bisa, tanpamu kurasa hampa...
Saudaraku, jangan sampai gandengan tangan ini lepas...
Kuingin kita kesana bersama...
Saudaraku...
Tetaplah di jalan ini...
Apapun yang terjadi...
Janganlah kau tukar kenikmatan surga dengan hal hina yang hanya tipu daya dunia...
Karena itulah komitmen kita, hingga tercapai ujung jalan ini...
Insyaallah...
~M.T.Q~
Kamis, 20 Januari 2011
Renungan : Untukmu Saudaraku di Jalan Dakwah...
Minggu, 28 November 2010
Kisah Si Anak Kerang
Di samudra luas, airnya berwarna biru karena lautnya yang amat dalam, tinggalah seekor kerang yang lagi kecil. Ia seekor kerang yang amat pemberani, walaupun cangkangnya masih rapuh tapi ia selalu saja berani bermain ke tengah dataran pasir luas yang menjadi lahan pemangsa dan sewaktu-waktu bisa saja menerkamnya. Si ibu kerang selalu marah apabila mengetahui anaknya bermain ke daerah itu, tapi dasar si anak kerang yang bandel tak pernah mau dilarang. Ia selalu mencuri-curi kesempatan agar bisa bermain ke sana. Entah apa yang mengasyikkan, mungkin ia hanya senang berenang-renang di hamparan pasir yang luas disinari cahaya matahari yang terbias ombak permukaan.
Hari demi hari dilaluinya dengan terus melanggar larangan ibunya untuk bermain di hamparan pasir itu. Ia selalu senang, riang mondar-mandir sana-sini. Walaupun hanya ia sendiri kerang yang berada disana, karena teman-temannya tak ada yang mau bermain bersama di daerah yang menurut mereka berbahaya itu. Tingkah polahnya itu ternyata menjadi perhatian seekor ikan buntal yang sudah lama mengincar si anak kerang.
Suatu waktu, ikan buntal teramat lapar. Tampaknya kesialan sedang menghampiri dirinya, sudah seharian ia tak berjumpa udang, cumi, ataupun ikan kecil lainnya yang biasa menjadi santapannya. Di teriknya siang yang membuatnya semakin lapar, ia berjalan di hamparan pasir dan tampaklah olehnya si anak kerang sedang bermain dengan riang. Melihat hal itu, terpikir olehnya untuk menyantap si anak kerang. Ikan buntal pun sontak mengejar si anak kerang. Melihat ikan buntal yang melesat kencang ke arahnya ditambah pula dengan wajah kelaparan, tentu si anak kerang terkejut dan lari tunggang langgang menghindari ikan buntal. Ia masuk ke sela-sela karang laut hingga akhirnya ikan buntal tak mampu menjangkaunya.
Anak kerang amat ketakutan, ia menangis. Ketika situasi dilihatnya sudah cukup aman, dengan cepat ia pulang menemui ibunya. Sesampainya di tempat ibunya, ia menangis dan mengadu pada ibunya. Ia amat ketakutan dan menempelkan dirinya ke ibunya untuk menenangkan diri. Ibunya sedih melihat anaknya demikian shock, namun ibu kerang hanya menasihati, “Nak, itulah sebabnya ibu dari dahulu selalu melarangmu bermain kesana. Namun engkau selalu saja meremehkan peringatan ibu. Akhirnya seperti inilah jadinya. Beruntunglah Allah masih melindungimu anakku, lain kali dengarkanlah perkataan ibu, karena setiap peringatan ibu adalah tanda sayang ibu padamu. Ibu tak ingin terjadi apa-apa denganmu anakku.” Mendengar perkataan ibunya, timbul penyesalan di hati anak kerang. Ia menangis dan meminta maaf pada ibunya. Ia juga berjanji akan menaati dan tak lagi melanggar nasihat ibunya.
Ketika ia akan berjalan menuju tempat tidurnya, terasa sakit sekali di perutnya. Sakit luar biasa hingga ia berteriak. Mendengar teriakan anak kerang, ibu kerang kaget dan sangat cemas. “Kenapa anakku?”, tanya ibu kerang amat khawatir. Anak kerang tak mampu berkata, ia menangis kencang dan membuka cangkangnya. Ternyata ada sebutir pasir yang terselip dalam dagingnya. Mungkin pasir ini masuk pada saat ia berlari menghindari kejaran si ikan buntal.
Melihat anaknya menangis kesakitan dan memanggil-manggil ibunya, ibu kerang sangat sedih. Namun ia bisa berbuat apa? “Anakku, tahanlah rasa sakit itu. Allah tak menciptakan tangan untuk kita, sehingga ibu tak bisa menyingkirkan butiran pasir itu. Tahanlah anakku, Allah pasti punya rencana dibalik rasa sakitmu itu.”, kata ibunya membujuk sambil berurai air mata.
Tangis anak kerang tak juga reda, namun ibu kerang menuntunnya ke tempat tidurnya dan menyanyikan lagu tidur untuk menenangkan anak kerang. Akhirnya setelah semalaman, anak kerangpun tertidur juga meskipun gelisah karena sakit teramat di dalam dagingnya. Ibu kerang terus menemani anaknya hingga pagi menjelang.
Keesokan harinya, anak kerang tak mampu bergerak banyak. Rasa sakit itu masih terasa hingga jika bergerak akan semakin terasa sakit. Ibu kerang selalu merawat anak kerang dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan. Sambil terus menanamkan motivasi dan optimistis kepada anaknya. Ia meyakinkan si anak kerang bahwa semua kesakitan itu pasti akan berakhir indah. Anak kerang yang sudah berjanji dalam hatinya pun selalu mendengarkan nasihat ibunya dan yakin dengan semua itu.
Akhirnya setelah sekian lama, rasa sakit itu tak lagi terasa. Namun sebuah kejutan luar biasa ketika ia membuka cangkangnya. Sebuah sinar terpantul dari mutiara yang terdapat di dalamnya. Ternyata pasir itu telah terbungkus epithelium yang perlahan mengubahnya menjadi mutiara nan indah. Kini tampak sudah buah ketabahan dan kesabaran si anak kerang. Tampak pula buah baktinya pada ibunya. Kini anak kerang telah berubah menjadi kerang mutiara. Bukan kerang biasa. Ia punya kelebihan di banding kerang-kerang lain dan punya harga yang lebih mahal. Semua juga berkat jasa ibunya, yang senantiasa mendukung dan memberi yang terbaik untuk anak kerang.
Inilah gambaran anak yang akan mendapat kecelakaan bila melawan nasihat kebaikan (sesuai syariat) dari ibu, dan akan mendapat keuntungan apabila menaati nasihat kebaikan (sesuai syariat) sang ibu. Ini juga gambaran ibu yang selalu sayang pada anaknya seperti apapun kondisinya. Kasih ibu tulus murni tak berharap apapun. Semua diberikan hanya untuk kebaikan anak itu sendiri. Maka hormatilah dan sayangilah ibumu.
Hadits riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim No.4621)
~M.T.Q~
Kamis, 25 November 2010
Mandikan Aku Bunda...
Dewi adalah sahabatku, seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika kampus mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang “selevel”, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya?” Dengan sigap Dewi menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna”. “Everything is OK! Don’t worry. Everything is under control kok!” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya di rumah apabila ia merasa kesepian. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya. Dengan bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Dewi pada saya, Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,”Bunda, aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku!”, "Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?” Kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbaknya.
Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telepon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di ruang emergency”. Ketika diberitahu soal Bayu, Dewi sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang…terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah beberapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.
Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak….hari ini Bunda mandikan Bayu ya…sayang…! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..” Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitarnya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!? Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?” Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Sementara di sebelah kanannya, suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya. Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!” lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.
Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa diduga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak…?" serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Sepanjang saya mengenalnya, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini. Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris “Bangunlah Bayu sayaaangku…. Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…?!?” pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu sayang….tolong beri kesempatan Bunda sekali saja Nak…, sekali ini saja, Bayu..anakku…?” Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.
Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat menusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini… Tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting daripada hanya sekedar memandikan seorang anak.
sumber : http://fadil.blogsome.com
~M.T.Q~
Rabu, 10 November 2010
Sebuah Renungan : Ayahku Tercinta
nb : Sebelum membaca tulisan ini, matikan lampu dan musik sejenak, dan renungkanlah...
Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.. Lalu bagaimana dengan Bapak?
Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Bapak-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Bapak bekerja dan dengan wajah lelah Bapak selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak kecil…… Bapak biasanya mengajari anaknya naik sepeda. Dan setelah Bapak mengganggapmu bisa, Bapak akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Pak, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Ibu takut anaknya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu? Bahwa Bapak dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu anaknya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Bapak akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Bapak melakukan itu karena Bapak tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Bapak yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Bapak benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….. Kamu mulai menuntut pada Bapak untuk dapat izin keluar malam, dan Bapak bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Bapak melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Bapak, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga.. Setelah itu kamu marah pada Bapak, Ibu datang membujukmu agar tidak marah. Tahukah kamu, bahwa saat itu Bapak memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Bapak sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu.
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Bapak melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Bapak adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir… Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut… Ketika melihat anaknya pulang larut malam hati Bapak akan mengeras dan Bapak memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Bapak akan segera datang? “Bahwa anak kecilnya akan segera pergi meninggalkan Bapak”
Setelah lulus SMA, Bapak akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Yang terbaik. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Bapak itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti… Tapi toh Bapak tetap tersenyum dan mendukungmu atas pilihan anak-anaknya.
Ketika kamu menjadi dewasa…. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… Bapak harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Bapak terasa kaku untuk memelukmu? Bapak hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. . Padahal Bapak ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Yang Bapak lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Bapak melakukan itu semua agar kamu KUAT….kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Bapak. Bapak pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta mainan, dan Bapak tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Bapak adalah : “Tidak…. Tidak bisa!” Padahal dalam batin Bapak, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Bapak belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Bapak merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda dan akan diwisuda sebagai seorang sarjana. Bapak adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Bapak akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “anak-anaknya tidak manja, berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Dan akhirnya….
Saat Bapak melihatmu duduk di Panggung Pelaminan nanti bersama seseorang perempuan yang di anggapnya pantas mendampinginya, Bapak pun tersenyum bahagia…. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Bapak pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Bapak menangis karena Bapak sangat berbahagia, kemudian Bapak berdoa…. Dalam lirih doanya kepada Allah SWT, Bapak berkata: “Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. Lindungilah anak-anakku… Anak kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi manusia dewasa…. Bahagiakanlah ia bersama …”
Setelah itu nantinya Bapak hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk… Dengan rambut yang telah dan semakin memutih…. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya…. Bapak telah menyelesaikan tugasnya….
Bapak kita… Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat… Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis… Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Bapak… tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.
:')
dikutip dari sebuah sumber yang saya juga tidak tahu pasti, tapi semooga tulisan ini bermanfaat bagi penulis terutama untuk para pembaca semua.
~M.T.Q~
Senin, 30 Agustus 2010
Untukmu Ukhti fillah
Allah sungguh Maha suci, menyiptakan makhluk sesuci dirimu.
Allah sungguh Maha indah, menyiptakan makhluk seindah dirimu.
Allah sungguh Maha lembut, menyiptakan makhluk selembut dirimu.
Ukhti...
Sungguh berat amanah dari Allah yang dibebankan padamu.
Menjaga kesucianmu, menjaga keindahanmu, menjaga kelembutanmu...
Menjaganya agar tak dimanfaatkan syaitan menuju liang hati yang teramat menjijikkan ini.
Menjaganya agar tak dimanfaatkan syaitan menuju ruang pikir yang memalukan ini.
Menjaganya agar tak jatuh kepada kubangan kemaksiatan hati dan pikiran itu, hingga benar-benar yang hak yang memilikinya.
Ukhti...
Jagalah pandanganmu meskipun mereka sulit menjaga pandangannya...
Jagalah auratmu meskipun mereka sangat ingin mencapainya...
Ukhti...
Keteguhanmulah yang membuat dirimu begitu mulia...
Janganlah engkau terikut arus menuju lembah neraka...
Jika engkau kalah... sungguh tiada bedanya engkau dimataku dengan wanita lainnya...
Ukhti...
Meskipun banyak yang ingin memilikimu, namun jadikanlah Allah memilihkan yang terbaik untukmu...
Meskipun banyak yang ingin menyentuhmu, namun jadikanlah mereka tak berani meskipun hanya ujung benang dari jilbabmu...
Meskipun banyak yang ingin mengkhayalmu, namun jadikanlah ia tak mampu menembus kecuali hanya mengingat kerudungmu...
Jagalah harga dirimu,
karena itu yang membuat dirimu begitu indah...
Sungguh akupun sulit untuk memungkiri, kuasa illahi yang tampak daripadamu...
Ukhti,
seandainya nanti engkau akan melangkah, semoga engkau tetap istiqomah...
Yakinlah Allah, akan memberi yang paling istimewa...
Kejarlah, raihlah... yang pantas bersamamu...
ia yang Allah pilihkan, untukmu wahai ukhti...
Mahib ats-Tsaqib al-Qeis
Minggu, 29 Agustus 2010
Sebuah Nasihat Untukmu Para Pemuda
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ya akhi wa ukhti fillah. Bagaimana kabar antum ketika sedang membaca tulisan ini? Mudah-mudahan dalam keadaan sehat wal afiat. Namun ada sebuah pertanyaan yang tampaknya lebih penting lagi, yakni bagaimana kondisi hati antum ketika sedang membaca tulisan ini? Adakah masih tunduk kepada Allah dan Rasul? Masihkah istiqomah menapaki jalan mulia yakni dakwah ilallah? Atau justru dalam keadaan sebaliknya, yakni terserang futur, kasal, dan tafrid? Semoga kita semua dijauhkan dari tiga penyakit yang membinasakan itu, amin.
Saudaraku, waktu yang engkau sisihkan untuk membaca tulisan ini semoga dinilai Allah sebagai ibadah. Semoga waktu yang engkau sisihkan ini diridhai Allah, dan ambilah ilmu dan hikmah dari tulisan ini dan amalkanlah apa yang perlu agar engkau dapat mempertanggungjawabkan waktu yang singkat yang engkau sisihkan untuk membaca tulisan ini dihadapan Allah kelak. Tak banyak yang akan ana sampaikan, tapi semoga dapat menyentuh hatimu jika engkau memang sedang membutuhkan sentuhan itu.
Saudaraku, engkau adalah salah satu dari hamba Allah yang beruntung karena masih diberinya umur hingga hari ini untuk bertaubat dan beribadah pada-Nya. Ingat, umur untuk bertaubat dan beribadah pada-Nya. Lihat orang disekeliling kita, lihat teman-teman kita, ada yang sudah mendahului kita, dan kini mungkin mereka sedang berhadapan dengan hamba Allah yang lain bernama munkar dan nankir. Apakah kita juga akan seperti itu? Jawabannya ya. Kapan? Hanya Allah yang tahu, mungkin lima menit lagi, atau satu jam lagi, atau satu hari lagi, atau… entahlah, hanya Allah yang Maha tahu. Sadarkah engkau akan nikmat Allah berupa umur padamu? Maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya sebelum engkau menghadapi maut. Allah SWT berfirman :
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (QS. Ali-Imran : 185)
Manfaatkan bukan dengan melakukan keburukan sepuas-puasnya, tapi dengan lebih dekat kepada Allah. Lakukanlah kebaikan dan berlombalah menjadi hamba yang terbaik. Maukah engkau kalah dari saudaramu yang semangat dalam beribadah itu? Maukah engkau kalah dari saudaramu yang istiqomah dalam berdakwah itu? Jangan lemah! Engkau bisa lebih baik darinya jika engkau menyingkirkan semua kemalasan yang bersarang di hatimu. Sadarilah itu!
Saudaraku, engkau begitu sering mengeluh. Engkau merasa teramat berat menjalani hidup ini. Padahal Allah telah mengkaruniakan kesehatan padamu. Bukankah jasadmu sempurna? Bercerminlah dan lihatlah kasih sayang Allah padamu. Malulah pada Syaikh Ahmad Yassin. Ulama yang mencapai syahid mulia walaupun sehari-harinya harus menggunakan kursi roda karena ia tak mendapat karunia berupa fisik yang baik sebaik yang engkau dapat. Engkau juga teramat manja. Hanya karena sedikit ujian dari Allah berupa sakit yang engkau derita, engkau langsung lemah dan seolah tak mampu apa-apa. Padahal sakit yang engkau derita hanyalah sakit yang ringan. Malulah pada Sa’ad bin Abi Waqqash. Sahabat Rasul saw. yang mulia yang tetap memimpin peperangan meskipun harus menahan sakit karena bisul yang tumbuh disekujur tubuhnya. Dan apakah saat itu pasukan muslimin yang dipimpinnya kalah? Tidak wahai saudaraku. Pada saat itu pasukan jundullah yang dipimpinnya berhasil menggapai kemenangan berkat totalitasnya dalam memimpin dan menjadi panglima perang meskipun dalam kondisi sakit luar biasa. Allah SWT berfirman :
”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS. Al-Baqarah : 155)
Ya, itu semua hanya cobaan dan ujian dari Allah padamu. Allah SWT juga berfirman :
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-‘Ankabuut : 2)
Maka janganlah engkau lemah. Janganlah jadikan kesusahan yang menimpamu sebagai alasan untuk segala kemalasanmu. Engkau bisa, hanya saja syaitan menggelayuti hatimu dan membisikkan kebencian ke dalam hatimu. Jangan turuti ia! Bersabarlah dalam menghadapi segala ujian yang menimpamu. Karena Allah memberikan imbalan berupa berkah dan petunjuk bagi orang-orang yang bersabar. Allah SWT berfirman :
”Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 157)
Tidak maukah engkau mengejar berkah dari Allah? Tidak maukah engkau mendapat petunjuk Allah? Petunjuk siapakah yang lebih baik dan lebih benar selain petunjuk Allah? Kejarlah itu wahai saudaraku yang sangat kusayangi karena Allah. Kejarlah dengan segenap daya upayamu, karena apalagi gunanya hidup jika tak berkah dan sesat karena tak mendapat petunjuk Allah.
Saudaraku, bukalah hatimu lebih lebar lagi. Lelah sudah rasanya hati ini menahan beban kehidupan. Lelah sudah, teramat lelah. Biarkan hatimu beristirahat, biarkan ia berbaring dan menerima semua kebenaran yang datangnya dari Allah. Sudahlah, lepaskan semua rasa dengki yang menghimpit hatimu. Sesak sudah rasanya. Tapi mengapa engkau masih mempertahankan rasa dengki itu hanya karena gengsi yang dihembuskan syaitan? Ikhlaslah… ikhlaslah dalam beramal. Lupakan semua keburukan orang lain padamu dan lupakan semua kebaikanmu pada orang lain. Haraplah hanya ridho Allah semata. Sungguh tiada kemuliaan hidup jika engkau terus menjadi ahlul hasad seperti ini. Begitu banyak nikmat Allah padamu. Apakah engkau akan menutup mata atas segala nikmat itu? Begitu sombongnya engkau.
Beristighfarlah. Mohon ampunan pada Allah dan bertekadlah untuk menjadi lebih baik lagi. Bertekadlah untuk menjadi lebih kuat dan juga ikhlas. Bertekadlah untuk mencapai derajat hamba yang dicintai Allah karena keimanan, takwa, dan tawakkalnya. Hadirilah majlis ilmu dan berkumpullah dengan orang-orang yang mengingat Allah. Jaga hati dan pandanganmu. Niscaya engkau pasti akan merasakan indahnya hidup… keindahan yang sejati.
Ini hanya sebuah nasihat dari saudaramu untuk dirimu terlebih untuk diri ana sendiri. Tak ada maksud untuk mengusikmu dan menyinggung perasaanmu. Semoga dengan ini menjadi bukti kecintaanku padamu karena Allah SWT. Dan semoga ini semua bernilai ibadah dimata Allah, terlebih untukmu yang telah mau membacanya. Jazakallah khairan katsira. Afwaminkum. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mahib ats-Tsaqib al-Qeis